logo

Perangi Napza, Kemensos Perkuat ATENSI Bagi Korban Penyalahguna

Perangi Napza, Kemensos Perkuat ATENSI Bagi Korban Penyalahguna

Dirjen Rehsos Kemensos Harry Hikmat.(foto,ist)
12 Agustus 2020 20:45 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BANDUNG: Kebijakan Kementerian Sosial (Kemensos) dalam upaya pencegahan dampak negatif, yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan Napza dan penanggulangannya, dilakukan antara lain dengan pendekatan Demand Reduction. Yaitu mengurangi permintaan akan Napza (detoksifikasi, rehabilitasi medik dan rehabilitasi sosial) dan Harm Reduction, yaitu mengurangi dampak buruk (program penjangkauan dan pendampingan , program pendidikan).

Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial (Dirjen Rehsos) Harry Hikmat, secara virtual dari Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8/2020), pada kegiatan Diklat Konselor Adiksi Putaran I Tahun 2020 yang diselenggarakan Balai Besar Pendidikan Dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPK) Padang, di Padang, Sumatera Barat.

Dijelaskannya, upaya tersebut dilakukan melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dengan 3 pendekatan. Yakni berbasis keluarga, komunitas, serta residensial. Pendekatan berbasis keluarga lebih diutamakan karena keluarga jadi tempat terbaik untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis.

Harry mengatakan, salah satu hasil survey menunjukkan para korban penyalahgunaan Napza sebagian besar orangtuanya masih hidup. Baik di perkotaan atau pedesaan, serta berada di lingkungan yang memberikan upaya pencegahan, melarang, menasehati atas kemungkinan menggunakan narkoba. Kelekatan antara orangtua dan anak masih terjalin baik.

Diungkapkan Dirjen Rehsos, sebagian besar pengguna narkoba masih tinggal bersama keluarga. Artinya, seseorang itu terpapar narkoba sangat dimungkinkan karena upaya untuk mencegah, mengontrol, mengawasi perilaku anggota keluarga tidak optimal.

“Kemensos melihat pentingnya membangun strategi rehsos berbasis keluarga. Karena, survey menunjukkan keluarga bisa menjadi instrumen, dalam upaya rehabilitasi sosial dan pencegahan. Agar muncul resiliensi dari anggota masyarakat itu sendiri,” ungkap Harry.

Dia menyebutkan, target group/ ruang lingkup sasaran Ditjen Rehsos sekitar 75,4 juta jiwa Pemerlu Pelayanan Rehabilitasi Sosial (PPKS). Salah satunya Korban Penyalahgunaan NAPZA sejumlah 3,6 juta jiwa berdasarkan data dari BNN & Puslitkes UI Tahun 2019).

Rehsos KPN bertujuan, agar KPN mampu melaksanakan keberfungsian sosialnya, meliputi kemampuan melaksanakan peran, memenuhi kebutuhan, memecahkan masalah dan aktualisasi diri, dan terciptanya lingkungan sosial yang mendukung keberhasilan rehsos KP Napza. “Narkotika menjadi musuh bersama karena sangat mempengaruhi sikap dan perilaku korban,” kata Harry.

Ada 3 faktor saling terkait yang mempengaruhi perilaku penyalahguna. Pertama faktor Individu seperti ingin coba-coba, ikut-ikutan, ingin disebut pemberani, supaya diterima kelompok, bersenang-senang, lari dari masalah, mengisi kebosanan dan lemah kemampuan menghadapi tekanan hidup.

Kedua, faktor lingkungan masyarakat seperti lingkungan permisif, apatis, individualis, tingkat kepadatan penduduk melampaui batas kelayakan huni (fisik, psikis dan sosial), sistem pengawasan di sekolah longgar dan kebijakan terlalu soft terkait penyalahgunaan narkoba.

Ketiga, faktor keluarga yaitu orangtua terlalu keras/terlalu permisif, terlalu sibuk, tidak harmonis / bercerai, orangtua juga pemakai dan komunikasi antar anggota keluarga tidak lancar.

Dikemukakan Dirjen Rehsos Harry Hikmat, salah satu metode rehsos bagi KPN adalah Theraupetic Community (TC). Yakni metode rehsos yang ditujukan pada Korban Penyalahguna Napza yang merupakan sebuah “keluarga”. Terdiri atas orang-orang yang mempunyai masalah dan tujuan yang sama.

Yaitu untuk menolong diri sendiri dan sesama yang dipimpin seseorang dari mereka. Sehingga, terjadi perubahan tingkah laku dari negatif ke positif.

“Tantangan bagi para Konselor Adiksi untuk lebih giat mempromosikan berbagai upaya pencegahan, maupun upaya rehsos bagi yang sudah terlanjur terpapar narkoba. Upaya itu bisa dengan cara menginformasikan keberadaan pusat-pusat layanan rehsos," ungkap Harry.

Ada juga beberapa metode yang sangat relevan dengan para konselor. Antara lain Home Care, Parenting skills, Family Preservation, Konseling Keluarga. Kunjungan ke rumah (home visit) keluarga korban secara intensif, untuk memahami masalah, menerima kondisi, dan berbagi pengalaman dan perasaan, serta saling mendukung untuk proses pemulihan KPN (terapi psikososial).

Sedangkan parenting skills dilakukan untuk meningkatkan pemahaman orangtua tentang pola pengasuhan/perawatan/ perlindungan yang tepat untuk KPN. Parenting skills dilakukan untuk keluarga baik ketika anggota keluarga/ penerima manfaat dalam proses layanan rawat inap, rawat jalan maupun bagi masyarakat umum. Family Preservation untuk menjaga kondisi dan keberlangsungan PM di lingkungan keluarga, terutama ada indikasi konflik/ penolakan/ perlakuan salah/ kekerasan.

Maka, dilakukan berbagai upaya meliputi Dialog Keluarga, Mediasi dan Reintegrasi keluarga. Terakhir, Konseling Keluarga yang tidak hanya dilakukan untuk KPN, namun konseling juga dilakukan bagi Keluarga. Agar terdapat keselarasan dalam pemulihan KPN.

Dirjen Rehsos berharap Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)/Balai/Loka ke depan bisa berfungsi maksimal, menjadi pusat layanan kepada keluarga (family support) dan masyarakat (participatory community empowerment).

Sementara LKS berfungsi sebagai temporary shelter, early intervention berbasis manajemen kasus serta melaksanakan Praktek Pekerjaan Sosial Profesional (outreaching, tracing, daycare, social assistance, home visit, family mediation, family support, family preservation, family reunification/ reintegration, community development, sosialisasi/ awareness raising, kampanye sosial, dll.)

Editor : Gungde Ariwangsa SH