logo

Rosan Sebut Investasi Indonesia Terhalang 'Obesitas' Regulasi

Rosan Sebut Investasi Indonesia Terhalang 'Obesitas' Regulasi

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani.
10 Agustus 2020 13:19 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani menilai banyak aturan yang menghambat investasi di Indonesia. Bahkan dia menyebutnya "obesitas" regulasi, lantaran saking banyaknya aturan.

"Kita ini obesitas peraturan, karena aturan dari pusat kurang lebih yang berhubungan dengan investasi itu 8.800, Peraturan Menteri 14.800 lebih, peraturan daerah hampir 16 ribu. Begitu banyak peraturan sampai kita bilangnya obesitas regulasi," kata Rosan dalam diskusi daring, pekan lalu.

Karena banyaknya regulasi tersebut, maka perlu ada strategi untuk menyederhanakan dan menyelaraskan kebijakan-kebijakan tersebut agar tak membuatnya tumpang tindih.

Tumpang tindih kebijakan itulah yang dia sebut kerap jadi hambatan dan memperburuk iklim investasi.

"Kemarin saya bicara dengan mantan penasihat investasi dari USAID, mereka menyampaikan sangat menunggu Omnibus Law ini," katanya.

Rosan pun mengingatkan, saat ini Indonesia berkompetisi dengan negara-negara tetangga untuk bisa menjaring relokasi investasi berbagai negara dari China. Sejumlah negara seperti AS, Eropa dan Jepang yang akan keluar dari China itu tentu harus bisa digaet masuk ke Indonesia.

"Tapi kita ini competing dengan negara lain yang terus melakukan reformasi peraturan dan produktivitasnya sehingga ini juga harus kita lakukan," ujarnya.

Rosan menambahkan Omnibus Law memiliki peranan penting untuk menarik investasi dalam dan luar negeri sehingga penciptaan lapangan pekerjaan jadi meningkat.

"Ini PR (pekerjaan rumah) kita, apalagi di tengah Covid-19 kita ketahui banyak yang di-PHK, yang dirumahkan bertambah, angka kemiskinan meningkat, sehingga menciptakan lapangan pekerjaan jadi hal utama ke depan," imbuhnya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia sendiri mengakui terlalu banyak aturan di Indonesia yang membuat daya saing investasinya kalah dengan negara lain.

Ia bahkan berkelakar, ibarat tubuh manusia, Indonesia yang besar tak mampu mengangkat diri sendiri karena terbebani aturan yang terlampau banyak.

"Pak Jokowi katakan ke depan bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tapi yang cepat kalahkan yang lambat. Nah, kita ini negara besar, ngangkat dirinya susah karena aturan terlalu banyak, 10 ribu aturan lebih. Saya andai ada masa jabatan sampai lima tahun belum tentu hapal itu UU dan peraturannya," katanya. ***