logo

Saksi BCA Akui Cukup Banyakl Uang Masuk Ke PT DBG

Saksi BCA Akui Cukup Banyakl Uang Masuk Ke PT DBG

sidang kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Robianto Idup
04 Agustus 2020 20:23 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Saksi Tatok Rismiarto SE dari BCA menyebutkan cukup banyak uang yang masuk ke rekening giro PT Dian Bara Genoyang (DBG). Namun kemudian sebagian ditarik secara tunai dalam bentuk aslinya dolar Amerika Serikat (AS) oleh Komisaris PT DBG Robianto Idup dan Dirut PT DBG Iman Setiabudi. Sedangkan sebagian lagi ditransfer atau dimutasi.

Hal itu diungkapkan Tatok Rismiarto SE saat memberikan keterangan dalam sidang kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Komisaris PT DBG Robianto Idup di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2020).

Namun saksi tidak tahu persis uang masuk itu dari hasil penjualan apa. Yang diketahui uang masuk ke rekening giro PT DBG mencapai 166.409.878 dolar AS. Uang tersebut masuk antara lain tanggal 11 Maret 2013 dengan sistim letter of authorization di nomor 252752 sebesar 5.000 dolar AS. Selanjutnya tanggal 13 Maret 2013 juga lewat letter of authorization nomor 252754 sebesar 41.500 dolar AS. Kemudian pada 18 Maret ke nomor 252755 sebesar 325.000 dolar AS. Juga pada 18 Maret 2013 cair loa atau letter of authorization nomor 252756 sebesar 113.408,68 dolar AS. “Totalnya 166.409.878 dolar AS,” tutur Tatok.

JPU Boby Mokoginta SH MH kemudian menanyakan apakah keluar-masuknya uang ke rekening giro PT DBG itu bisa diketahui, Tatok menjawabnya bisa. Hanya dia tidak bisa tahu dipergunakan untuk apa.

Pada persidangan sebelumnya terungkap bahwa dari uang masuk hasil penjualan batubara ke perusahaan Singapura tercatat hampir Rp 71 miliar. Waktu hampir bersamaan invoice atau tagihan PT GPE di PT DBG di bawah angka Rp 71 miliar. Namun pihak PT DBG tidak mencairkan tagihan tersebut dengan berbagai alasan.

JPU Boby Mokoginta dan Marly Sihombing menyebutkan, dari uang masuk 166 juta dolar AS itu sesungguhnya PT DBG bisa membayar PT GPE. Namun uang itu digunakan ke pihak lain, padahal semua pendapatan PT DBG/Robianto Idup itu sepenuhnya hasil kerja keras menambang batubara PT GPE.

Selain saksi a charge atau memberatkan dari JPU, dalam siding majelis hakim pimpinan Florensia Kendengan SH MH didengar juga keterangan saksi a de charge atau meringankan, Aziz Putra. Awalnya JPU menolaknya dengan alasan sampai saat ini Aziz masih sebagai karyawan terdakwa Robianto Idup. Namun majelis hakim mengingatkan bahwa yang disidangkan bukan perdata tetapi pidana, maka tidak apa-apa kalua didengar keterangannya.

Menjawab pertanyaan penasihat hukum terdakwa, Ditho Sitompul dari kantor advokat Hotma Sitompul, Aziz menyebutkan tidak ada penyelesaian dari pertemuan yang dilakukan Robianto Idup dengan saksi korban Herman Tandrin karena ada perbedaan data, tidak tercapai target dan longsor. Jumlah nilai tagihan di pihak Herman Tandrin dengan di Robianto Idup juga menurut saksi berbeda-beda pula. “Ada keinginan Pak Robianto menyelesaikan permasalahan namun secara professional,” ujar saksi Aziz.

Ketika ditanya JPU Boby Mokoginta dan Ketua Majelis Hakim Florensia Kendengan apakah dalam pertemuan Robianto Idup dengan Herman Tandrin dilakukan setelah perjanjian, dijawab saksi Aziz iya. Dia juga membenarkan bahwa Robianto Idup menyuruh Herman Tandrin bekerja lagi karena tagihan-tagihannya sebelumnya akan dilunasi. “Bekerja lagi bro, saya pasti lunasi semua tagihan itu. Kalau bro tidak bekerja, dari mana uang untuk melunasi bro,” demikian Robianto membujuk Herman Tandrin sebagaimana terungkap dalam persidangan sebelumnya.

Editor : Gungde Ariwangsa SH