logo

Covid-19 Terhangat: Positif 113.134 Orang, Pemerintah Bikin Bingung Masyarakat

Covid-19 Terhangat: Positif 113.134 Orang, Pemerintah Bikin Bingung Masyarakat

Data terbaru menyatakan ada 10 provinsi dengan nihil penambahan kasus positif baru
03 Agustus 2020 21:40 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Penambahan kasus baru per-hari masih di atas angka 1.000, bahkan Senin (3/8/2020) mencapai 1.679 orang sehingga jumlah total positif terpapar pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia menjadi 113.134 pasien. Presiden Joko Widodo menyatakan masyarakat dalam posisi khawatir. Anggota DPR RI menilai pemerintah malah membuat masyarakat bingung dan lengah terhadap penularan Covid-19.

Berdasarkan data pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang dilansir covid19.go.id dan  kemkes.go.id, tercatat ada penambahan 1.679 kasus baru per hari Kamis hingga pukul 12.00 WIB. Penambahan itu membuat kini secara nasional jumlah positif sebanyak 113.134 orang.

Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari Covid-19 dalam kurun waktu yang sama tercatat sebanyak 70.237 orang. Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah menjadi 5.302 orang. Saat ini sebanyak 77.572 menjadi suspek Covid-19.

“Yang pertama, saya tidak tahu sebabnya apa, tetapi suasana pada minggu-minggu terakhir ini kelihatan masyarakat berada pada posisi yang khawatir mengenai Covid-19. Entah karena kasusnya meningkat atau, terutama menengah atas melihat, karena orang yang tidak taat pada protokol kesehatan tidak semakin sedikit, tetapi semakin banyak,” kata Presiden Jokowi saat rapat terbatas yang membahas penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional bersama jajarannya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin.

Jokowi  juga menyoroti persentase angka kematian di Indonesia yang lebih tinggi dari angka kematian global. “Kita tahu sampai kemarin sudah ada 111 ribu lebih kasus dengan case fatality rate 4,7 persen dan angka kematian di Indonesia ini lebih tinggi 0,8 persen dari kematian global. Ini saya kira yang menjadi PR besar kita bersama. Selain itu juga case recovery rate di negara kita, data terakhir adalah 61,9 (persen). Ini saya kira juga bagus, terus meningkat angkanya,” jelasnya.

Dalam rapat tersebut, Presiden memberi arahan terkait sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat. Kepala Negara kembali mengingatkan agar penerapan protokol kesehatan terus disosialisasikan kepada masyarakat. Secara khusus, Presiden ingin agar sosialisasi tersebut dilakukan secara terfokus dan tidak dilakukan secara sekaligus.

“Saya ingin agar yang namanya protokol kesehatan, perubahan perilaku di masyarakat betul-betul menjadi perhatian kita. Saya ingin fokus saja, seperti yang saya sampaikan yang lalu, mungkin dalam dua minggu ini kita fokus kampanye mengenai pakai masker. Nanti dua minggu berikut kampanye jaga jarak atau cuci tangan misalnya,” ungkapnya.

Sementara itu kritik terhadap pemerintah dalam penanganan Covid-19 muncul dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Wakil  Ketua Fraksi PKS, Sukamta mengkritik pernyataan Presiden Jokowi yang memerintahkan jajaran kementerian mewaspadai gelombang kedua penyebaran virus corona atau covid-19 di Indonesia. Menurut Sukamta, penularan Covid-19 di Indonesia masih berada di gelombang pertama lantaran penambahan kasus baru per hari terus mengalami peningkatan sejak kasus pertama diumumkan pada Maret 2020.

"Saya heran Pak Presiden mengatakan soal ancaman gelombang kedua, ini bisikan dari tim ahli yang mana, mengingat banyak ahli epidemiologi mengatakan di Indonesia hingga saat ini belum selesai alami fase gelombang pertama. Bahkan Presiden mengatakan tidak tahu kenapa masyarakat semakin khawatir dengan Covid-19," kata Sukamta melalui keterangannya, Senin (3/8/2020).

Seperti dilansir tribunews.com, Sukamta khawatir, narasi gelombang kedua yang digulirkan pemerintah bakal berakhir seperti wacana pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan new normal. Dalam dua wacana itu, Sukamta menilai pemerintah malah membuat bingung dan lengah masyarakat terhadap kewaspadaan atas penularan covid-19.

Sementara, wacana ancaman gelombang kedua juga mengesankan bahwa pandemi gelombang pertama sudah bisa diatasi. "Saya kira lebih baik presiden dan jajarannya melalui Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang dibentuk belum lama ini fokus untuk segera atasi pandemi dan kemudian kami berharap tidak terjadi gelombang kedua di Indonesia," ujar dia.

Anggota Komisi I DPR RI ini mengingatkan pemerintah bahwa penanganan covid-19 yang tidak kunjung tuntas, akan menambah dampak sosial ekonomi yang lebih berat. Oleh karena itu, Sukamta meminta pemerintah segera memperjelas gambaran besar atas penangangan Covid-19. Sukamta mengatakan hingga kini pemerintah tidak pernah membuka gambar besar penanganan Covid-19 ke publik.

"Sangat wajar jika masyarakat bertanya soal ini, karena sudah lebih dari empat bulan hal ini berjalan. Hingga hari ini baru beberapa kali jumlah tes usap (PCR) bisa lebih dari 30 ribu sebagaimana dicanangkan Presiden. Sementara WHO menyebutkan setidaknya perlu 54 ribu tes setiap hari di Indonesia sebagai standar minimum," ujarnya.

Nihil Bertambah

Sebaran Covid-19 masih terdapat pada 34 provinsi di Indonesia. Virus ganas yang berawal dari Wuhan, China itu sudah menyebar ke 479 kabupaten/kota. Bertambah 1 dibandingkan hari sebelumnya.

Namun untuk penambahan kasus baru tercatat di 24 provinsi. Dari data terbaru menyatakan ada 10 provinsi dengan nihil penambahan kasus positif baru. Jumlah ini bertambah enam provinsi dalam waktu 24 jam. Ke-10 provinsi itu adalah Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

Dari penambahan 1.679 kasus baru  tersebut, Jawa Timur dan DKI Jakarta menyumbangkan kasus baru tertinggi. Jawa Timur mengalami penambahan sebanyak 478 kasus, sehingga total menjadi 22.982 kasus, dan masih menempati tertinggi kasus Covid-19 secara nasional. Kemudian disusul DKI Jakarta sebanyak 472 kasus baru, sehingga total kasus positif di DKI Jakarta menjadi 22.616 kasus.

Selain itu provinsi lain yang mencatat penambahan kasus tertinggi lain di antaranya Sulawesi Selatan sebanyak 97 kasus baru. Jawa Tengah tercatat sebanyak 95 kasus, Sulawesi Utara sebanyak 57 kasus, dan Jawa Barat tercatat sebanyak 56 kasus. ***