logo

Urgensi SDM Berkualitas

Urgensi SDM Berkualitas

27 Juli 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Tema Hari Anak Nasional (HAN) 2020, diperingati tiap 23 Juli, ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju’. Tema HAN 23 Juli ini sangatlah kompleks, tidak saja terkait nasib anak-anak korban bencana yang cenderung beruntun di Indonesia di 5 tahun terakhir, tapi juga fenomena semakin banyaknya anak-anak terjerat narkoba dan maraknya anak yang turun ke jalan menjadi anak jalanan karena kesulitan ekonomi imbas kemiskinan dan kekerasan seksual pada anak-anak, termasuk juga dampak pandemi Covid-19 bagi masa depan pembelajaran anak. 

Di satu sisi ini memang menyentuh, tapi di sisi lain hal ini sangat kontroversi terutama dikaitkan dengan temuan dari pakar tentang perilaku anak dalam menonton tv. Selain itu, kasus peradilan anak juga menjadi potret buram hak atas anak. Ada apa dibalik kasus ini?

Salah satu kajian menarik dalam peringatan HAN tahun ini yaitu kian banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan anak-anak dan keterlibatan anak-anak dalam bisnis narkoba. Yang ironis trend ini meninggi pada 5 tahun terakhir ini. Oleh karena itu, beralasan jika kemudian banyak pakar psikologis klinis yang melakukan beragam penelitian untuk membuktikan apakah kasus ini terkait krisis atau justru dipicu faktor lain yang identik dengan penekanan logika anak. 

Tidak mudah menjawabnya, tapi berbagai literatur dan kasus yang berkembang bisa ditarik kesimpulan bahwa tekanan hidup dan kemiskinan, terutama krisis yang berlarut berpengaruh signifikan terhadap trend kasus bunuh diri anak dan keterlibatan di bisnis narkoba. Jadi, laporan BPS kemarin tentang kemiskinan harus diapresiasi karena dampak simultan kemiskinan sangat akut, apalagi ditengah pandemi covid-19 yang tidak tahu kapan berakhirnya.

Komplikasi berlarutnya krisis tidak hanya mengarah terkait tingginya kasus bunuh diri anak, tetapi kasus kejahatan dan berbagai kriminal juga menunjukan trend meningkat. Pemberitaan media tentang ibu yang membunuh anak kandungnya ternyata juga dipicu himpitan hidup. Selain itu, tekanan sosial yang tidak bisa diterima anak-anak (terutama perbandingan status sosial teman sebaya) juga rentan memicu kasus bunuh diri anak. Tidak ada salahnya jika kita harus lebih peduli atas kasus ini sebab bagaimanapun juga potret buram atas perilaku destruktif anak memicu sentimen negatif tantangan generasi mendatang, apalagi ada sentimen terkait bonus demograsi terkait kualitas vs kuantitas.

Mengacu pentingnya masa depan anak, terutama terkait jaminan bahwa anak menjadi investasi di masa depan, maka wajar jika PBB merasa peduli terhadap berbagai kasus yang ada. Bahkan, beberapa pertemuan penting di berbagai negara-pun di gelar dengan agenda merumuskan jaminan perlindungan bagi anak-anak. Terkait ini, para menteri dan pejabat tinggi pemerintah di kawasan Asia Timur - Pasifik pada 7 Mei 2003 lalu di Bali mengulas keberhasilan - tantangan yang dihadapi anak-anak kawasan Asia Timur - Pasifik dalam sebuah agenda bertajuk KTT Tingkat Menteri Asia Timur dan Pasifik ke-6 mengenai Anak yang diikuti lebih 20 negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Tokoh UNICEF, Steven Allen, menegaskan KTT itu adalah pertemuan tingkat menteri pertama setelah Sidang Istimewa PBB tentang anak (United Nations Special Session on Children) tahun 2002 lalu. Pertemuan menjadi landasan rencana regional bagi anak untuk dasawarsa mendatang. Hal-hal yang disepakati pada KTT itu menjadi dasar bagi Unicef ke depannya. KTT itu membahas 4 isu pembangunan yang dihadapi di kawasan Asia Timur - Pasifik yaitu gizi, kematian ibu dan neonatal (kasus kematian yang terjadi pada bulan pertama kehidupan anak), eksploitasi seksual komersial terhadap anak dan perdagangan anak serta ancaman HIV/AIDS bagi anak. Kasus stunting juga menjadi perhatian serius. Versi WHO ada 7,8 juta bayi di Indonesia terkena stunting sehingga Indonesia rawan karena termasuk 5 yang terbesar di dunia. Kondisi ini menjadi lebih ironis jika dikaitkan dampak sistemik dari pandemi covid-19 dan mata rantainya. ***

* Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo 

Editor : Gungde Ariwangsa SH