logo

Hati-hati, Diet Ketat Anak Perempuan Ganggu Organ Reproduksi

Hati-hati, Diet Ketat Anak Perempuan Ganggu Organ Reproduksi

Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SP OG(K).(foto,ist)
21 Juli 2020 21:47 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak, berlangsung antara umur 12–21 tahun bagi wanita dan 13-22 tahun bagi pria. Masa peralihan merupakan masa anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun perkembangan psikis.

Pada masa perkembangan fisik ini, orangtua sangat memegang peranan penting, untuk menjelaskan berbagai hal pada anak mereka yang remaja. Salah satunya mengenai organ reproduksi, serta bagaimana menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan organ reproduksi.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo Sp OG(K), pada kegiatan Webinar Kesehatan Reproduksi Anak Remaja Raih Peluang Bonus Demografi, melalui media daring Zoom, dari Jakarta, Selasa (21/7/2020) menyampaikan, bagaimana pentingnya kita sadar akan kesehatan reproduksi khususnya bagi para remaja.

Pasalnya, pengetahuan akan kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja, banyak orang-orang yang masih tabu membicarakannya karena masih mengira itu mempelajari pendidikan tentang seks. Padahal, banyak sekali ilmu-ilmu mengenai kesehatan reproduksi yang perlu dikawal sejak anak-anak.

“Ketika kita remaja banyak anak perempuan yang sudah tertarik dengan lawan jenis dan tidak jarang mereka berdiet. Agar tubuhnya langsing, olahraga berlebihan, stress berlebihan," ujar Hasto.

Padahal, hal itu dapat menggangu organ reproduksi, karena perempuan mengandalkan lemak yang dipakai sebagai sumber hormon estrogen. Sehingga, bisa menjadi perempuan yang subur, baik dan menghasilkan generasi unggul di masa depan.

Terdapat pula gangguan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) yaitu gangguan hormon yang terjadi pada perempuan. Hal itu, dapat menyebabkan anovulasi yaitu dimana kondisi sel telur yang banyak tetapi kecil-kecil dan tidak ada yang bisa menetas atau tidak dilepaskan oleh indung telur (ovarium).

Hal ini juga bisa menyebabkan perempuan tidak dapat menstruasi dan kelebihan hormon androgen, yang menyebabkan tumbuhnya rambut di mana-mana, banyak berjerawat. Selain itu, walaupun remaja perempuan sudah mengalami menstruasi akan tetapi belum siap untuk reproduksi.

Karena dengan menstruasi, maka fisiknya saja yang tumbuh mulai dari payudara membesar, rambut kemaluan dan ketiak tumbuh, rahim berkembang, serta tulang masih memanjang. Organ reproduksi perempuan, ujar Hasto, sangat rentan dibandingkan dengan laki-laki. Karena, mulai dari vagina, rahim sampai ke tuba faloppi merupakan saluran yang saling berhubungan dan tidak bersekat sama sekali sampai menuju ke rongga perut.

Kalau ada bakteri dari luar vagina yang masuk, maka akan terus bisa masuk sampai ke rongga perut yang menyebabkan infeksi yang serius. Hal itulah, yang menyebabkan tidak bolehnya berhubungan seksual pada saat menstruasi karena, darah dari menstruasi keluar dari rongga rahim dan jika belum bersih maka darah menstruasi bisa terdorong sampai ke rongga perut dan menyebabkan bakteri masuk dan infeksi di dalam perut atau menimbulkan penyakit.

Selain berkembang secara fisik, masa remaja juga mengalami perkembangan psikis. Pada masa remaja ini rencana kehidupan sedang dirancang walaupun tumbuh secara fisik tapi psikis masih pada tahap perkembangan, fungsi otak untuk berpikir dan mengambil keputusan masih membutuhkan pendampingan.

Di bagian lain, Psikolog Alzena Masykouri SPsi MPsi menuturkan, masa remaja merupakan masa dimana untuk membentuk kepribadian dan identitas diri, seorang remaja mau dikenal sebagai apa dan seperti apa. Karena, terdapat unsur hormon yang masih berkembang, remaja akan mengalami kesulitan untuk mengelola emosi mereka.

"Salah satu cara untuk dapat mengelola emosi ialah dengan latihan fisik, karena sangat penting untuk bergerak. Agar fungsi otak dan tubuh bisa optimal. Peranan orangtua pun sangatlah penting, orangtua harus mencari pengetahuan seluas-luasnya untuk memahami remaja,” ungkap Alzena

Editor : Markon Piliang