logo

Kebijakan Kemensos Untuk Kesos Lansia: Lansia Punya Potensi Kawal Bangsa

Kebijakan Kemensos Untuk Kesos Lansia: Lansia Punya Potensi  Kawal Bangsa

Dirjen Rehsos Harry Hikmat.( foto ist)
19 Juli 2020 13:27 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial (Dirjen Rehsos) Harry Hikmat mewakili Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara menjadi pembicara dalam kegiatan Webinar bertajuk "Pahami Lansia, Bahagia Seluruh Keluarga", dari Jakarta, Jumat (17/7/2020).

Webinar diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-27 tahun 2020.

Pada jesempatan itu, Dirjen Rehsos Harry Hikmat menyampaikan materi tentang Kebijakan Rehabilitasi Sosial untuk Kesejahteraan Sosial Lansia. "Kebijakan ini dibuat agar lansia tidak dipandang jadi beban penduduk, tetapi lansia punya potensi untuk mengawal bangsa ini," katanya.

Data lansia yang tercatat di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) milik Kemensos Tahun 2019 sebanyak 12,6 juta lansia miskin dan rentan (40 persen Status Sosial Ekonomi terbawah), 10,7 juta lansia di dalam keluarga dan 1,9 juta lansia di luar keluarga.

Data di Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, populasi lanjsia 25,64 juta jiwa. Dari jumlah itu menunjukkan, jumlah lansia sudah menyentuh 9,6 persen dari total penduduk Indonesia dan akan mengalami aging population.

Dirjen Rehsos menyampaikan, Kemensos hadir untuk kesejahteraan sosial lanjut usia dengan kebijakan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Arah kebijakan ini dalam bentuk penguatan sistem rehabilitasi sosial yang terintegrasi dengan perlindungan lansia.

Selain itu, lanjutnya, Kemensos hadir untuk perluasan jangkauan perlindungan lansia berbasis keluarga, komunitas dan residensial, penguatan kapasitas dan kelembagaan Balai Rehabilitasi Sosial dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) lansia, peningkatan kampanye kelanjutusiaan di seluruh sektor dan peningkatan peran masyarakat dan swasta dalam pelayanan sosial lansia.

"Kami sepakat untuk mengedepankan keluarga dalam hal rehabilitasi sosial lansia," kata Dirjen Rehsos. Kemensos sangat mengedepankan pendekatan berbasis keluarga.

Jika keluarga terbatas melakukan penanganan, bisa dilakukan oleh LKS di komunitas maupun Balai sebagai basis residensial. "ATENSI berbasis komunitas diberikan ketika keluarga mengalami keterbatasan dalam menangani lansia," tutur Dirjen Rehsos.

Komunitas sebagai lingkungan terdekat lansia didampingi juga oleh LKS agar lebih sensitif dan responsif dalam mencegah dan menyelesaikan permasalahan yang dialami lansia. Sedangkan ATENSI berbasis residensial yaitu perawatan lansia melalui Balai Rehsos, Panti Rehsos atau LKS Lanjut Usia.

Layanan ini diberikan bagi lansia yang tidak memiliki kelurga, ditelantarkan oleh keluarga atau keluarga tidak mampu mengurus lansia karena permasalahan ekonomi. Beberapa antisipasi peningkatan jumlah lansia juga disampaikan  Dirjen Rehsos. Mulai dari peningkatan kualitas dan kuantitas program pelayanan sosial, salah satunya melalui ATENSI, peningkatan peran keluarga dalam perawatan lansia, peningkatan layanan publik, kampanye nasional kelanjut-usiaan, peningkatan peran masyarakat dan swasta serta peningkatan kualitas kesejahteraan sosial masyarakat.

Pelaksanaan ATENSI lanjut usia memerlukan sinergi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota LKS dan masyarakat. Layanan yang diberikan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dasar, terapi, perawatan/pengasuhan sosial dan dukungan keluarga.

Dirjen Rehsos menambahkan, perawatan lansia berbasis residensial bisa melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemensos dalam bentuk Balai/Loka Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, yaitu Balai Lansia "Budhi Dharma" Bekasi, Balai Lansia "Gau Mabaji" Gowa dan Balai Lansia "Minaula" Kendari.

Sementara itu, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menambahkan, jika jumlah lansia mencapai 10 persen dari total penduduk di Indonesia. Maka kita memasuki masa aging population, Dimana makin banyak lansia yang harus ditanggung kehidupannya oleh warga usia produktif.

Dukungan keluarga menjadi hal penting yang disampaikan Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo dalam mengurangi stres pada lansia. "Masalah psikologis yang menimbulkan stres pada lansia yaitu kondisi sakit, ekonomi lemah, kondisi sosial yang tidak baik dan kesepian," ujarnya.

Fungsi keluarga yang asah, asih dan asuh menjadi pendukung penuh dalam mengatasi ini," katanya. Pengalaman terbaik yang disampaikan narasumber Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Periode 2014-2019 saat mengurus kedua orang tuanya membenarkan bahwa keluarga menjadi tempat terbaik bagi lansia.

"Satu hal yang saya sampaikan dalam mengurus lansia adalah _make them as normal as possible._ Jangan batasi mereka dan jangan perlakukan mereka seperti orang sakit," ujar Susi.

Berkat ketelitiannya dalam mengurus kedua orang tuanya yang menderita Diabetes, dengan cara tidak membatasi mereka maka mereka akan merasa senang dan bahagia. Perlakuan tersebut membuat kondisi gula darah orang tuanya dalam kondisi baik.

Editor : Gungde Ariwangsa SH