logo

Ketua MRPTNI Prihatin Minimnya PTS Terakreditasi A

Ketua MRPTNI Prihatin Minimnya PTS Terakreditasi A

Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho
13 Juli 2020 16:32 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Prof Jamal Wiwoho, prihatin dengan sedikitnya jumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia yang belum terakreditasi A. Dari ribuan PTS yang terdaftar baru 30-an diantaranya yang terakreditasi A.

"Jumlah PTS 4.000 lebih kalau dilihat akreditasi PTS belum A maka bila dibandingkan dengan PTN disparitasnya sangat jauh. Tidak ada 100 yang PTS, hanya 30 sekian dari 4.000-an, ini kondisi yang cukup memprihatinkan dari sisi kualitas,” jelas Jamal Wiwoho yang juga Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu dalam acara bincang “Kampus Merdeka” , Jumat (10/7/2020) melalui kanal _Youtube_ UNS.

Dalam acara tersebut, Jamal juga memaparkan pengalamannya mengenai tata kelola di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).  Sementara itu disinggung tentang kebijakan “Kampus Merdeka”, Prof Jamal mengatakan forum rektor yang tergabung dalam MRPTNI sangat membantunya dalam merealisasikan kebijakan tersebut.

"Melalui MRPTNI, koordinasi antar rektor PTN menjadi lebih mudah. Contohnya, adalah kerja sama yang dijalin antara UNS dengan Universitas Andalas baru-baru ini. Kerja sama yang dijalin mencakup penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kerja sama juga meliputi sarana peningkatan dan pengembangan kompetensi SDM," paparnya.

Dengan kerja sama yang dijalin antarperguruan tinggi, Jamal mengatakan hal itu dapat mendukung kebijakan “Kampus Merdeka” dan “Merdeka Belajar” yang membuka kesempatan bagi mahasiswa lintas program studi/ fakultas/ perguruan tinggi untuk belajar program studi/ fakultas/ perguruan tinggi yang berbeda.

“Oleh karena itu, untuk menyambut gagasan ‘Kampus Merdeka’ bagaimana kemudian para pimpinan perguruan tinggi di level bawah dari dekan mendesain kerja sama," jelasnya lagi.

Baik dengan PTN maupun PTS, dan bagaimana PTN bekerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri untuk merealisasikan itu. Seperti yang dilakukan MRPTNI dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di Washington D.C, Amerika Serikat dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).

“Misalnya saja kalau dalam konteks ini harus akui PTN bisa melakukan kerja sama U-to-U. Pola kolaborasi MRPTNI yang sudah kami rintis dengan Atdikbud di Washington D.C, Amerika Serikat, dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional yang ada di 27 perguruan tinggi hebat di Amerika kemudian bergabung dan bekerja sama dengan kita,” pungkasnya. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH