logo

Jangan Merugi

Jangan Merugi

13 Juli 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi 

Sejarah panjang 22 tahun BUMN sejak 13 April 1998 menjadi catatan menarik tentang peran, kiprah dan kontribusinya terhadap perekonomian dan kesejahteraan. Argumen ini tidak terlepas dari sejumlah persoalan dan tantangan kedepannya yang semakin beragam mulai dari aspek SDM sampai operasional bisnisnya. 

Setidaknya hal ini mengacu fakta pada awal tahun tentang adanya sejumlah BUMN yang memiliki anak usaha di luar core business-nya sehingga tidak berkontribusi terhadap penerimaan tetapi justru sebaliknya merugikan. Oleh karena itu, langkah yang ditempuh Menteri BUMN Erick Thohir lewat penutupan sejumlah anak usaha tersebut menjadi benar adanya, setidaknya untuk dapat mereduksi potensi kerugian yang lebih besar.
 
Tuntutan untuk tidak merugi bagi BUMN menjadi hal yang rasional karena BUMN telah menjadi milik negara dan dikuasai negara sesuai amanat perundangan. Oleh karena itu, beralasan jika semua BUMN pada dasarnya dituntut untuk profit dan memberikan dana sumbangan terhadap penerimaan negara melalui deviden yang disetor. Ironisnya, sampai saat ini tidak semua BUMN profit dan banyak diantaranya yang justru merugi. Terkait ini maka beralasan jika para petinggi di BUMN harus dipacu untuk meningkatkan profit melalui perbaikan kinerja di semua lini operasional bisnisnya tanpa terkecuali. Tuntutan ini memang beralasan meski di situasi saat ini memang terasa sangat berat karena virus corona telah mereduksi geliat ekonomi bisnis, tidak hanya nasional tapi juga global.
 
Yang justru menjadi pertanyaan adalah bagaimana BUMN dan para petingginya mampu bersaing dan bangkit dari keterpurukan situasi ekonomi saat ini. Di satu sisi, berlarutnya sebaran dampak virus corona berdampak sistemik terhadap perekonomian global, tentu juga transaksi bursa, meskipun di sisi lain ada keraguan pencapaian target pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh sesuai prediksi sejumlah pihak dan ini menjadi persoalan yang tidak mudah karena menyangkut kepentingan dengan berbagai pihak. Jadi, BUMN berkepentingan terhadap persoalan ini, terutama menyangkut peran kiprahnya terhadap penerimaan negara.
 
Fakta menarik dari peringatan 22 tahun BUMN yaitu pada sesi perdagangan awal Senin 13 April lalu ternyata investor asing berbondong-bondong membeli saham BUMN dan indeks cenderung berfluktuasi meskipun pada sesi perdagangan awal sempat ada di titik 4.591,728. Kumulatif yang tercatat kemarin total transaksi di awal perdagangan tercatat senilai Rp. 2,02 triliun di pasar reguler, tunai dan negosiasi. Selain itu, ada 175 saham menguat, 141 terkoreksi dan 136 stagnan. Selain itu, ternyata nilai net buy investor asing mencapai Rp.213,7 miliar.

Rincian saham yang diburu yaitu PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR). Data ketiga emiten BUMN itu mencatat net buy masing-masing Rp.15,7 miliar, Rp.5,2 miliar dan Rp.1,6 miliar. Implikasinya saham TLKM menguat 2,88 persen ke level Rp.3.210 sedangkan saham JSMR menguat 4,58 persen ke level Rp.2.780 dan juga saham BBRI menguat 0,36 persen ke level Rp.2.800 di sesi perdagangan awal kemarin. Meski demikian, pergerakan saham masih dibayangi dampak sebaran virus corona yang berarti bukan sepenuhnya murni. Aspek lainnya yang juga menjadi pertimbangan adalah kemungkinan BI dalam penyesuaian suku bunga karena buku bunga rentan terhadap kondisi perekonomian saat ini.
 
Terlepas dari semua faktor makro yang ada pastinya perjalanan panjang selama 22 tahun BUMN menjadi tantangan untuk memacu kinerja dan pastinya tuntutan profesionalisme tidak bisa diabaikan. Artinya, praktek good corporate governance menjadi wajib karena muasal dari praktek GCG akan berpengaruh terhadap tuntutan profit dan setoran deviden dari BUMN hanya akan berhasil jika ada profit dari semua operasional BUMN. Realitas ini menjadi tantangan berat Menteri BUMN Erick Thohir yang awal tahun 2020 sukses membongkar kedok kasus di dua BUMN. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo