logo

Perginya Seorang Pekerja Dalam Diam

Perginya Seorang Pekerja Dalam Diam

11 Juli 2020 21:25 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh : Suryadi

"JANGAN pernah takut kalau yg kamu ungkap itu benar. Takutlah kamu pada Tuhan. Kalau ada apa-apa, datang ke sini ya," H. Subki Elyas Harun bersitegas kepada Suryadi, wartawan LKBN ANTARA, di ruang kerja suatu hari di tahun 1981.

Seperti biasa kalau saya ke Kantor Gubernur Lampung, tahun 1981 itu saya juga menyempatkan singgah ke lantai dua.

Tiba di lantai dua, ajudan Wagub, Mas Sriyanto menyapaku. "Bapak sejak kemarin menunggu-tunggu. Ayo, tunggu sebentar saya lapor ya," kata Mas Sri. Tak lama kemudian Mas Sri keluar dari ruang Wagub Subki. Dia minta saya masuk, Subki menunggu di dalam. "Silakan Mas, Bapak menunggu," kata Mas Sri.

Lama kami berbincang berdua di dalam. Akhirnya sampai pada nasihat seperti di awal tadi. Kok? Ya saya waktu itu memang ada dalam ancaman terkait liputan investigasi saya tentang korup Rp55 juta (tahun 1981) dalam program Peningkatan Produksi Pangan Lampung "Gogo Rancah" khususnya di Branti Rata, Lampung Selatan.

Maklum mereka yang jadi terpidana dalam perkara itu sebanyak 7 orang, satu di antaranya adalah kakak seorang polisi (kini purnawirawan perwira tinggi).

Pak Subki, putera Pak Harun Blambanamgan Umpu, yang pendiam, tak banyak bicara, tapi kalau sudah bicara "ceplas-ceplos" itu, telah berpulang Jumat (10/7/2020) malam di RSUDAM Bandar Lampung.

Terlalu banyak kenangan saya bersama dia. Dia dan saya sebagai jurnalis di Lampung sering ngobrol bertiga dengan seorang rekan sekerja jurnalis alm Salman Chaniago (reporter Harian Merdeka semasa 'BM Diah').

Kami juga "dekat berjarak" dengan Gubernur Letjen TNI Purn Yasir Hadibroto. 'Dekat Berjarak' karena kami memang dekat, tapi mandiri dalam artian tetap bersikap dan tidak mau tenggelam apalagi hanyut oleh kemauan mereka yang saat itu adalah bagian dari rezim otoriter Orde Baru.

Padahal, lembaga tempatku bekerja adalah milik Pemerintah, tepatnya di bawah Sekab waktu itu. Subki memanggilku bukan Sur tapi "si kecil itu", sedangkan Yasir menyebutku "itu itu... orang Tegal yang kecil-kecil itu".

Aku akrab dengan alm Subki karena dia Ketua KONI, dan aku banyak memberi perhatian melalui liputan olah raga. Hampir setiap liputan nasional, dia pergi, aku pun ikut dalam kontingen.

Suatu ketika di tahun 1986, seharusnya dia pergi bersama kami, tapi dia batal ikutan lantaran harus jalani operasi RS Cikini, Jakarta. Kami bersama Sjachroedin ZP sebelum berangkat ke Kuala Lumpur bersama Tim Softball Bu Yeni, sempat menjenguknya lebih dahulu di RS Cikini di Jalan Raden Saleh, Jakarta.

Pak Subki kini sudah pergi. Pagi menjemput, siang kan menerangi Lampung. Tapi, mungkin langit Bandar Lampung kan teduh mengiringi pergi dan dimakamkanya salah seorang putera terbaik Sai Bumi Ruwa Jurai".

Pulanglah Subki, kebaikkanmu kami catat dan kenang! Tenanglah di sana di haribaan Allah Swt. Inalilahi wainailaihi rajiun. Moga almarhum husnul khottimah. Aammien. ***

Suryadi -  mantan wartawan LKBN Antara

Editor : Gungde Ariwangsa SH