logo

Hari Kependudukan Dunia, Isu Global KB, Kesehatan Ibu, Dan Kekerasan Berbasis Gender

Hari Kependudukan Dunia, Isu Global KB, Kesehatan Ibu, Dan Kekerasan Berbasis Gender

BKKBN dr Hasto Wardoyo S OG(K) (kanan) dan Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani (kiri).(foto,ist)
10 Juli 2020 19:19 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Masalah Keluarga Berencana terkait pernikahan dini, kehamilan tidak dikehendaki, kesehatan reproduksi. Ditambah dengan persoalan kesehatan ibu dan anak, serta kekerasan berbasis gender, masih menjadi isu global peringatan Hari Kependudukan Dunia, di pandemi Covid-19.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo S OG(K) pada konferensi pers peringatan Hari Kependudukan Dunia, bersama Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani, di Kantor Pusat BKKBN, Halim, Jakarta Timur, Jumat (10/7/2020).

Dikemukakannya, pandemi Covid-19 mempunyai dampak terhadap banyak hal, di antaranya terjadinya pengurangan kunjungan masyarakat pada fasilitas kesehatan. Fenomena ini juga berakibat pada penurunan jumlah peserta KB aktif, maupun peserta KB baru yang ingin mendapatkan pelayanan KB melalui fasilitas kesehatan.

Alhasil, risiko kehamilan yang tidak diinginkan, layanan kesehatan reproduksi, serta kekerasan berbasis gender meningkat. Begitu pula pada remaja, memperoleh dampak yang lebih besar dari kelompok lain. Terutama, dalam kekerasan berbasis gender yang di dalamnya juga termasuk perkawinan usia anak yang kini banyak terjadi.

Hasto mengingatkan, terjadinya penurunan akses terhadap layanan fasilitas kesehatan selama pandemi harus dicermati. Itu merupakan dampak terdekat akan terjadinya unwanted pregnancy dan mistimed pregnancy atau kehamilan tidak dikehendaki. Sebelum pandemi angkanya rata-rata sudah 17,5 persen dan di kota besar kecenderungannya lebih tinggi.

"Juga terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, stunting, kematian ibu dan bayi, itu permasalahan yang harus kita cermati terkait dengan kependudukan," terang Hasto.

Hari Kependudukan Dunia, yang tepat 14 Juli, tahun ini diperingati BKKBN dengan tema "Dampak Covid-19 Terhadap Keluarga Berencana, Kesehatan Ibu, dan Kekerasan Berbasis Gender”. Hal ini sejalan dengan United Nations Population Fund (UNFPA), yang mengangkat tema “Menghentikan Covid-19: Bagaimana Menjaga Kesehatan, Hak Perempuan, dan Anak Perempuan”.

Tujuan dari tema ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang kebutuhan kesehatan reproduksi dan adanya kerentanan bagi perempuan selama pandemi Covid-19. Menyoroti bagaimana dapat melindungi dan menjamin kesehatan seksual dan reproduksi tetap menjadi agenda. Untuk mengeksplorasi cara mempertahankan momentum pencapaian SDGs tahun 2030.

Pada waktu yang sama, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani menambahkan, terkait masalah kependudukan BKKBN terus berusaha mengoptimalkan dan memberikan peran terbaik. Agar memberikan manfaat dan makna yang besar bagi Kementerian Lembaga dan Pemerintah Daerah.

"Kami juga sedang menyusun naskah akademik Rancangan Undang-undang (RUU) untuk memperkuat UU nomor 52 tahun 2009, juga perpres terkait Grand Desain Pembangunan Kependudukan. Sehingga, kita berupaya agar kependudukan ini menjadi maindstream dalam pembangunan di Indonesia," terangnya.

Dilanjutkannya, BKKBN selalu melakukan terobosan-terobosan untuk mendekati para remaja terkait ketahanan remaja. Melalui program Generasi Berencana (GenRe), BKKBN mengembangkan ketahanan remaja di dalamnya termasuk kampanye pendewasaan usia perkawinan yakni, 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

Program GenRe dilakukan dengan pendekatan langsung terhadap remaja serta orang tua yang memiliki anak remaja. Pendekatan kepada remaja dilakukan melalui pengembangan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja).

Saat ini PIK Remaja berjumlah sekitar 23.579 tersebar di 34 Provinsi. PIK Remaja diharapkan menjadi wadah bagi remaja. Untuk berkumpul, berbagi cerita, berkreatifitas dan saling tukar informasi dengan teman sebaya mereka.

Editor : Markon Piliang