logo

Kemensos Siap Lakukan Rehsos 305 Anak Korban Eksploitasi Ekonomi Dan Seksual

Kemensos Siap Lakukan Rehsos 305 Anak Korban Eksploitasi Ekonomi Dan  Seksual

Mensos Juliari P Batubara (kedua dari kiri) didampingi Dirjen Rehsos Harry Hikmat (kiri).(foto,ist)
10 Juli 2020 15:36 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Sosial (Kemensos) siap menampung korban tindak pidana eksploitasi ekonomi dan seksual terhadap anak dibawah umur. Apabila diperlukan untuk direhabilitasi sosial di beberapa Balai yang ada di sekitar Jakarta. Tentunya, apabila diberikan mandat untuk melakukan rehabilitasi.

Hal itu dikemukakan Menteri Sosial Juliari P Batubara menyatakan menghadiri konferensi pers Perkara Tindak Pidana Eksploitasi dan Seksual terhadap 305 anak oleh Warga Negara Asing (WNA) Perancis, di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Mensos yang didampingi Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial (Dirjen Rehsos) Harry Hikmat dan Direktur Rehabilitasi Sosial Anak (Dir Rehsos Anak) Kanya Eka Santi menyatakan rasa keprihatinannya yang sangat mendalam.

"Beberapa waktu yang lalu kita mendengar kasus pencabulan terhadap anak dan kini sudah terulang kembali. Saya kira memang harus ada suatu upaya yang lebih serius dan sinergis antara semua pihak yang terkait, baik dari Kepolisian, Kemensos, Kemen PPA dan masyarakat dalam upaya-upaya pencegahan. Paling mudah, perlu early warning system yang dibuat lebih baik," papar Mensos.

Dia berharap agar proses hukum berjalan, dan tersangka mendapatkan hukuman yang setimpal atas kejahatan terhadap anak. Dengan segala sumber daya yang ada, dia menyatakan, untuk siap mensupport selama proses hukum berlangsung, dan tentunya pemulihan psikososial para korban yang berjumlah 305 anak.

Pada kesempatan itu, dia menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Polda Metro Jaya, yang berhasil mengungkap kasus itu. "Semoga tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini lagi," ucapnya.

Di bagian lain, Dirjen Rehsos Harry Hikmat menyampaikan, upaya pencegahan tetap dilakukan dan tidak pernah putus. Kemensos telah melibatkan berbagai pihak termasuk kampanye nasional untuk perlindungan anak. "Untuk kasus/ wilayah tertentu, memang masih perlu ditingkatkan," ujarnya.

Dikemukakannya, keterlibatan LPAI, Komnas Anak, serta Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) secara intensif terus dilakukan, sehingga dapat berperan melakukan upaya mensosialisasikan pentingnya tanggung jawab dan perlindungan keluarga terhadap anak-anak di lingkungan sekitarnya. Pasalnya, resiko anak dalam lingkungan terdekat dari hari ke hari semakin meningkat.

"Kami telah memberikan tugas kepada Pekerja Sosial agar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, Telepon Pelayanan Sosial Anak (TePSA) 1500771 dengan Nomor WA 081238888002 bisa dihubungi kalau ada kasus anak yang terjadi," ungkap Dirjen Rehsos.

Sementara, Kapolda Metro Jaya Irjen Nanang Sujana menyampaikan, Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil melakukan pengungkapan kasus tindak pidana eksploitasi ekonomi dan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan WNA asal Perancis FAC (65).

"Hasil penyelidikan terhadap tersangka menunjukkan sejak bulan Februari 2015 sudah berulangkali keluar masuk ke Indonesia berdasarkan data dari pihak Imigrasi," tutur Nana.

FAC sering berjalan-jalan di sekitar Jakarta dengan membawa tas yang sudah dimodifikasi untuk menyimpan kamera yang merekam secara sembunyi. Beberapa hotel di wilayah DKI Jakarta merupakan lokasi FAC dalam menjalankan aksinya.

Diduga aksi kemungkinan dilakukan sejak kedatangannya di Indonesia pada tahun 2015. Kamar hotel sudah di siapkan sedemikian rupa selayaknya studio foto, yaitu di dekorasi dengan menggunakan kain backdrop, lighting effect, kipas angin dan sebagainya.

Menurut penyidik, diperoleh keterangan bahwa FAC melakukan pencabulan dengan kedok fotografi terhadap anak perempuan di bawah umur. Modus operandinya, tersangka biasa berjalan-jalan ke kerumunan anak-anak jalanan, lalu mereka didekati dan dibujuk, selanjutnya diajak/ ditawarkan menjadi foto model.

Anak yang dianggap mau, di bawa ke hotel. FAC dalam menjalankan aksinya dengan menyetubuhi anak korban sambil divideokan menggunakan 3 (tiga) buah kamera beberapa di antara tersembunyi. Jika anak korban menolak untuk disetubuhi maka akan mendapat perlakuan kasar berupa dipukul, ditendang, ditampar, dan tidak diberikan uang. Anak korban yang mau disetubuhi diberikan imbalan sebesar Rp 250 ribu sampai dengan Rp 1 juta.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nanang Sujana menyatakan bahwa tersangka FAC akan dijerat dengan pasal berlapis, dapat dipidana sampai hukuman penjara mati, bahkan dapat dikenai tindakan kebiri kimia berdasarkan UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah mengalami perubahan kedua menjadi UU 1 Tahun 2016.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto