logo

Krisis Ekonomi Akibat Pandemi, Pengamat: Sektor UMKM Sang Penyelamat

Krisis Ekonomi Akibat Pandemi, Pengamat: Sektor UMKM Sang Penyelamat

Direktur Program dan Analisis Katulistiwa Institute Agus Wahid
10 Juli 2020 07:15 WIB
Penulis : Dharma

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Program dan Analisis Katulistiwa Institute Agus Wahid mengungkapkan pandemi corona virus benar-benar menghancurleburkan tatanan ekonomi dunia. Bahkan, International Monetary Fund (IMF) belum lama ini merilis prediksi output ekonomi dunia tahun ini akan menyusut hampir 5%, atau hampir 2% lebih buruk dari perkiraan yang dirilis pada April.

Lembaga donor internasional ini juga menggambarkan, suasana “terjun bebas” ekonomi saat ini sebagai yang terburuk sejak Depresi Besar (resesi berkepanjangan) pada 1930-an. Sebuah renungan, tak adakah sektor yang bisa selamat dari krisis ekonomi yang demikian meluas?

Dikatakan Agus, variabel tersebut layak dialamatkan pada Indonesia, akibat pandemi corona pun tak lepas dari terpaaan badainya. Biro Pusat Statistik (BPS) mencatat, untuk kuartal II (yang tengah berjalan sampai akhir Juni 2020) memproyeksi ekonomi akan menyusut sampai minus 3,8%. Dan hal ini potret buram kemiskinan negeri ini sudah dalam posisi antara 9,7% - 10,2%, atau naik 5,1 juta hingga 12,3 juta orang. Kini, posisi pengangguran terbuka sudah mencapai 33,3 juta sebagai dampak langsung penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB.

“Perlu kita garis-bawahi, lonjakan jumlah pengangguran lebih mengarah pada industri manufaktur yang memang padat karya. Sekarang, bagaimana dengan industri rumahan? Dari sisi protokol kesehatan, industri rumahan relatif dapat terjaga jarak hubungan antarpekerja. Persoalan protokol kesehatan lainnya seperti kebersihan dan pemakaian masker relatif mudah terawasi dengan maksimal),” ungkap Agus kepada Suarakarya.id, Jumat (10/7/2020).

Karena itu, industri rumahan sejatinya punya prospektus yang relatif cerah. Sebab, bukan hanya tetap selamat dari potensi persebaran virus corona itu, tapi juga bisa bertahan untuk tetap menajalankan roda bisnisnya. Itulah sektor yang secara ekonomi dikenal dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Sektor UMKM ini  jika mengingat krisis moneter negeri ini pada 1988 membuktikan daya tahannya berhasil tegak berdiri dari amuk krisis moneter saat itu.

“Berkaca dari bukti empirik itu, sudah seharusnya Pemerintah memback up penuh terhadap kepentingan UMKM. Memang, melalui Perppu No. 1 Tahun 2020 yang berubah menjadi UU No. 2 Tahun 2020 yang lebih dikenal dengan UU Corona itu, sektor UMKM mendapat relokasikan anggaran sebesar Rp 150 triliun,” kata Agus.

Yang perlu dikritisi lebih jauh, kata Agus, sektor UMKM yang mana yang harus mendapat perhatian khusus? Terdapat ribuan item yang dikerjakan UMKM. Karena itu arsirnya haruslah tepat. Dalam kontek ini, sektor pangan perlu mendapat perhatian khusus, apalagi untuk sepuluh bahan pokok. Yang perlu dicermati seluruh mata rantai bisnisnya, mulai dari proses produksi, proses pengolahan, bahkan mata rantai selanjutnya (barang sampai tangan ke konsumen) dalam partai besar atau terbatas sebagai retailer.

Satu hal yang perlu disikapi tegas adalah Pemerintah berkewajiban untuk menjaga seluruh mata ranta itu. Jangan sampai membiarkan penimbunan. Juga, tak boleh ada toleransi sedikitpun terhadap “teroris” jalanan dari oknum petugas lalu-lintas dan oknum Dinas Perhubungan memalak alur distribusi barang.

“Sejauh ini para “teroris” jalanan demikian mengganggu kepentingan para transporter bahan pangan. Nyaris tak pernah mendapat tindakan hukum seharusnya. Akibatnya, para produsen pangan  dari sektor pertanian atau lainnya  dirugikan. Juga masyarakat konsumen selalu diperhadapkan harga lebih tinggi dari harga seharusnya,” tegas Agus.

Menurut Agus, satu hal lagi yang perlu dilakukan Pemerintah, terkait ketersediaan stok pangan, harus lebih mengedepankan hasil dalam negeri, bukan impor. Sebab jika importasi tetap menjadi opsi, maka bukan hanya mematikan para pelaku ekonomi yang sama-sama bergerak di sektor yang sama, tapi juga bermakna lebih miris UMKM “dibunuh” secara perlahan-lahan, tapi pasti.

“Jika panorama keterbunuhan UMKM kian meluas, maka negara ini sejatinya juga sedang menuju sekarat. Bagaiman tidak? Negara butuh penyelamat ekonomi dan UMKM adalah aktor yang bisa diharapkan, tapi justri dibantai. Sangat tidak sehat. Juga tak rasional,” ujarnya.

Oleh karenanya, untuk menganalisa perilaku persekongkolan atas persoalan ketersediaan pangan selama ini, maka semasa pandemi yang belum berakhir ini harus menjadi tonggak kesadaran: sebagai momentum.

“Tunjukkan keberpihakan kepada pelaku ekonomi mikro. Sebuah keberpihakan yang sejatinya untuk negeri ini. Inilah sektor UMKM yang siap menjadi pahlawan di masa pendemi ini untuk kepentingan ekonomi nasional,” imbuhnya.

Agus menambahkan, jika menelirik peta ekonomi global, terutama di negara-negara maju, maka Indonesia punya prospek lebih cepat pulihnya. Hal ini karena potensi jumlah pelaku UMKM jauh lebih besar dibanding UMKM-UMKM di berbagai belahan negara maju itu, kecuali China dan Jepang yang memang pola industrinya sangat nengandalkan kerjasama dengan industri rumahan.***

 

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto