logo

Seni: Olah Rasa Sekaligus Olah Raga Keteraturan Sosial Dalam Rekayasa Sosial

Seni: Olah Rasa Sekaligus Olah Raga Keteraturan Sosial Dalam Rekayasa Sosial

09 Juli 2020 07:31 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh : Chrysnanda Dwi Laksana

Seni dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial merupakan suatu refleksi atas kewarasan atau kekuatan berbagai gatra kehidupan. Konteks kewarasan ini berkaitan dalam manajerial atau menata untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial. Pengelolaan secara geografis, demografis, sumber daya alam, ideologis, politis, ekonimis, sosial budaya, pertahanan, keamanan, hukum hingga secara teknologis menunjukkan adanya saling keterkaitan satu dengan lainnya untuk mengimplementasikan amanat dari konstitusi.  Yaitu agar berdaulat berdaya tahan berdaya tangkal dan berdaya saingnya NKRI.

Melindungi segenap warga negara, tanah air dan segenap tumpah darah indonesia, mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga mampu ikut dalam politik dunia yg bebas aktif dlm menjaga perdamaian dunia.  

Makna di balik amanat kinstitusi tsb dpt dipahami bahwa kekuatan suatu bangsa yg bersatu berdaulat adil dan makmur memerlukan adanya kemampuan dan kekuatan dalam menjaga keutuhan NKRI. Mampu mengimplementasikan dan mwngamalkan Pancasila sbg falsafah dan landasan idiologi bangsa dan negara. Menjalankan amanah konstitusi UUD th 1945 dan mampu merawat dan memberdayakan kebhinekaan dlm wadah suatu bangsa yg multikultural. 

Kekuatan idiologi politik ekonomi sosial budaya pertahanan keamanan hukum dan teknologi memerlukan adanya kekuatan dan kewarasan di dalam mewujudkan dan menjaga serta menumbuhkembangkan segala potensi sumberdaya yg ada. Terutama sumber daya manusia sebagai aset utama bangsa. Para bapa bangsa menyadari bahwa bangsa yg cerdas akan mampu mandiri berdikari memberi inspirasi bahkan memnjadi sesuatu yg berstandar sbg alkemi. Bangsa yg mampu menginspirasi akan mampu menahan gerusan ringrongan gempuran bahkan adu domba dan pembodohan dari luar. 

Seni yg dpt diimplementasikan melalui olah rasa maupun olah raga akan memberi ruang komunikasi sosial bahkan sbg saluran2 ice breaking dlm kehidupan sosial. Seni yg disadari dan diyakini serta dianggap sbg bagian dr kehidupan sosial akan menjadi tradisi agar lestari dan membudaya. Bahkan menjadi bagian dari religi dari ritual hingga perayaan2 atau festival. Seni sbg wuhud dialog antara rasa dalam jiwa atas sesuatu shg mampu merasakan bahkan menyelami kedalamanya. Melalui imaji hingga mimpi2nya atas sesuatu hidup dan kehidupan manusia. 

Seni dlm olah rasa maupun olah raga menjadikan kehidupan sosial berwarna dan sbg tanda kewarasan atau kekuatan dr peradabannya. Tatkala seni mampu diimplementasian maka akan muncul orang2 yg menjadi pelopornya. Para pembangkit dan motivator ini akan mampu menjadi ikon. Karena setiap masa ada orangnya dan setiap orangpun ada masanya. Seni dlm dialog rasa dg jiwa yg mampu menyelami kedalaman atau menemukan sesuatu yg hidup atau taksunya atau jiwa ketoknya atau grengnya maka dpt berdampak pd kehalusan budi dan kemampuan menhormati dan memperjuangkan bagi kemanusiaan. Semakin manusiawinya manusia dan semakin meningkatnya kualitas hidup manusia akan terlihat di situ. Bagaimana political will hingga implementasinya dlm religi tradisi hobi komuniti hingga teknologi. 

Seni terwujud dari kemampuan mengolah atas cipta karsa dalam karya baik dlam nada suara kata cerita gerak garis warna maupun rupa semua sarat makna. Simbol2 peradaban akan menjadi tanda kualitas kewarasan dlm mengelola atau dlm mengimplementasikannya dlm kehidupan berbangsa dan bernegara. Tatkala seni baik olah rasa maupun olah raga menjd ikon atau mampu menjadi solusi sosial dan bagian dr rekayasa sosial maka kualitas keteraturan sosialnyapun dpt dilihat di sini. Demikian halnya jika yg terjadi sebaliknya.***

* Brigjen Pol Chrysnanda Dwi Laksana PhD, - Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Seniman.

Editor : Gungde Ariwangsa SH