logo

Tips Berbisnis Frozen Food Rumahan Disaat Pandemi, Prospektif Bagi Usaha Pemula

Tips Berbisnis Frozen Food Rumahan Disaat Pandemi, Prospektif Bagi Usaha Pemula

25 Juni 2020 07:12 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Meski penyebaran virus korona atau Covid-19 belum berakhir. Bahkan para ahli kesehatan dunia mengkhawatirkan akan terjadi gelombang kedua seiring dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan belum siapnya warga masyarakat menuju new normal. Namun bukan berarti  kita harud berputus asa dan kehilangan harapan untuk melewati "badai" ini.

Justru di tengah kesulitan terbuka peluang dan kesempatan. Seperti yang terjadi banyak masyarakat yang berdiam diri di rumah namun permintaan akan kebutuhan frozen food atau makanan beku tetap meningkat cukup signifikan.

Ini artinya di saat kita tidak boleh ke luar rumah untuk beraktivitas, belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja, akibat ancaman Korona. Kita tetap bisa memanfaatkan waktu di rumah saja dengan membuka usaha frozen food.

Shinta yang dikenal sebagai pengusaha kuliner MpekMoy telah membuktikannya. Sebagai entrepreneur pemula, Shinta cukup sukses mengembangkan bisnis frozen food. Dia berhasil menjual produknya secara mandiri dan berkolaborasi dengan mitranya yakni para resaler di seluruh Jabotabek.

Kiat Shinta di tengah pandemi ini yang dibeberkan oleh kawan-kawan dari Jagatbisnis.com menggelar demo masak dan coaching clinic secara virtual bertajuk: "Ayo...Jadi Pebisnis Frozen Food".

Webinar ini menggandeng pelaku usaha, Shinta, pemilik brand MpekMoy, dan Executive Chef Aston Prioritas Simatupang, Djoko Hendrasto, di Jakarta, Rabu (24/6/2020). 

Pelatihan secara daring ini diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi ibu rumah tangga yang memiliki kemampuan memasak, pekerja yang terkena pemangkasan gaji, dirumahkan maupun mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) agar tetap menghasilkan pendapatan melalui bisnis frozen food.

"Intinya kalau hanya ide saja tanpa dieksekusi tidak akan jalan. Jadi, kita harus berani untuk melakukannya. Do something. Mudah atau susah itu adalah proses," kata Shinta.

Shinta harus mengakui bisnis frozen food tidak mudah. Bahkan, ia sudah kerap kali jatuh bangun. Namun, kegagalan yang dialaminya merupakan ilmu dan guru terbaik bagaimana bisa bangkit dan belajar dari kegagalan yang lalu, sehingga ke depan tidak mengulanginya lagi.

"Saya berulang kali sering jatuh. Tetapi, saya bertekad bahwa apa yang saya lakukan ini juga bisa bermanfaat bagi banyak orang. Ya, saya bisa punya karyawan dan sebagainya. Untuk itu harus dimulai, harus dilakukan. Jangan terlalu lama mikir," ungkapnya.

Selanjutnya, kata perempuan berusia 48 tahun ini, untuk promosi di awal bisa dilakukan di lingkungan rumah, maupun lewat pertemanan di media sosial (medsos).

"Dari Pre Order (PO) kita mulai percaya, dari situ kita harus konsisten untuk melakukan promosi frozen food yang kita tawarkan. Di awal melalui pertemanan di group (medsos), lama-lama akan dikenal dan berkembang secara masif," jelas Shinta.

Di sisi lain, tentu saja selain memperhatikan cita rasa yang lezat, juga dalam proses pengolahan frozen baik mulai dari memasak hingga packaging harus menjalani protokol kesehatan. Keunggulan frozen food sendiri bisa bertahan lama maksimal hingga enam bulan.

Saat ini, produk frozen yang dimiliknya, antara lain pempek, siomay, pindang patin, pindang daging, tahu baso, dimsum, otak-otak, dan tekwan.

"Produk frozen bagus, bertahan cukup lama. Misalkan, makanan saya bertahan paling lama hingga enam bulan. Lebih dari enam bulan, teksturnya berubah, tapi untuk rasanya masih tetap sama, enggak berubah, masih enak," ucapnya.

Sementara Djoko Hendrasto mengatakan, bahwa saat ini merupakan peluang yang tepat bagaimana bisa memanfaatkan di tengah pandemi Covid-19 agar tetap produktif, sehingga bisa mendapatkan penghasilan yang menggiurkan.

"Jadi memang justru harus berpikir terbalik (pandemi Covid-19) menjadi peluang. Jika istri jago memasak, dari hoby itu bisa kita karyakan dan produktifkan sehingga bisa mendapatkan Income lumayan," ujar chef senior, berkarya selama 20 tahun ini.

Kendati demikian, bagi yang tidak jago memasak bisa belajar memasak melalui sarana internet.

"Adik saya bisa memasak dari internet. Dia coba setahun, dan sekarang pintar memasak,"jelas Chef Djoko Hendrasto***