logo

Isu Konspirasi Covid19 Membayangi Konsep Hidup New Normal

Isu Konspirasi Covid19 Membayangi Konsep Hidup New Normal

30 Mei 2020 09:17 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Syamsudin Walad

Isu Covid19 kini semakin berkembang kemana-mana. Bagai benang kusut yang sulit dicari pangkal persoalannya dan kebenarannya pun semakin samar. Entah sumber mana yang harus dipercaya, WHO kah? Atau para pakar sains yang memiliki teori berbeda-beda. Kita tidak tahu harus percaya yang mana.

Sejujurnya, teori konspirasi global yang akhir-akhir ini berkembang tak juga menyelesaikan masalah. Sejumlah asumsi dari para pakar yang menganggap covid19 tidak berbahaya justru membuat isu Covid19 semakin tak jelas juntrungannya. Di Indonesia pernyataan kontroversial  seorang yang mengaku pakar virus, Indro Cahyono, malah diterima mentah-mentah oleh sebagian besar orang. Padahal Indro Chayono ternyata hanyalah seorang dokter hewan.

Seperti diketahui, pernyataan kontroversial yang menyebut Covid19 tidak berbahaya itu terdapat dalam video yang diunggah oleh akun Instagram fanbase @diary.lunamaya. Dalam video itu Indro menyebar pernyataan yang seperti meremehkan Covid19. Dalam video itu, drh Indro mengatakan, sebagian besar pasien Covid-19 yang meninggal bukan dikarenakan penyakit Covid-19 itu sendiri. Dia juga mengatakan, tidak ada keterkaitan antara Covid-19 dengan kematian.

Pernyataan Indro semakin berkembang bak bola salju dan membuat sebagian besar orang meremehkan Covid19. Terlebih kemudian muncul pernyataan lain dari seorang motivator dan pengusaha Mardigu Wowiek Sontoloyo yang mengaku dirinya berbincang dengan temannya yang seorang pakar dari Cambridge University bahwa virus ini konspirasi buatan manusia.

Dalam Youtube Deddy Corbuzier, Mardigu percaya bahwa virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 5 juta orang di dunia adalah buatan manusia. "Berdasarkan data dari sahabat saya yang ada di Cambridge University, saya confirm bahwa ini (virus corona) adalah dibuat," ungkapnya.

Setali dengan Indro, Mardigu juga percaya bahwa Covid19 tidak berbahaya dan hanya seperti virus flu pada umumnya. Ia sangat yakin bahwa ini merupakan konspirasi kapitalis yang didorong media dengan memberitakan seolah-olah Covid19 sangat menakutkan. Tersangkanya siapa lagi kalau bukan Bill Gates yang lewat perusahaan farmasinya tengah menggenjot untuk menciptakan vaksin. Bill Gates dijadikan tersangka lantaran pada tahun 2015 ia meramal bakal ada pandemi global yang sangat meruntuhkan. Ia juga tertuduh dalam hal konspirasi virus flu burung yang gagal menjadi pandemi. 

Soal isu Bill Gates yang menjadi otak konspirasi juga diungkap mantan Menkes  Siti Fadillah Supari. Dalam wawancara dengan Deddy Corbuzier yang dilakukan di sebuah rumah sakit di sela perawatannya, Siti Fadillah mengatakan Indonesia harus mandiri. "Bikin vaksin sendiri kalau memang perlu vaksin. Kalau tidak, ya tidak perlu dibuat, orang Indonesia antibodinya tinggi. Saat flu burung antibodi orang Indonesia luar biasa," kata Siti Fadillah yang mengaku sukses melawan WHO yang kala itu ngotot flu burung menjadi pandemi.

Siti pun bicara soal sosok Bill Gates, yang menurut dia, sudah bicara soal pandemi sebelum virus corona muncul. "Ada sesuatu yang aneh untuk saya. Saya ikuti Bill Gates ini, di forum ekonomi di Davos. Kalau enggak salah awal tahun itu ada forum ekonomi internasional di sana Bill Gates pembicara utama, di situ dia menggebu-gebu ada pandemi," kata dia.

Ia mempertanyakan kualifikasi Bill Gates yang bukanlah seorang ahli kedokteran. "Dia itu kan bukan dokter, enggak pernah sekolah kedokteran, Kenapa dia fasih ya analisa akan ada pandemik, dunia butuh vaksin sekian miliar. Menurut saya, itu tidak masuk di akal saya ada apa sih. Dia kan pebisnis. Dia ahli komputer mungkin ahli virus computer tapi di manusia kan beda," kata dia.

Siti menduga Bill Gates telah menyiapkan vaksin untuk proyeknya sebelum isu pandemi ada. Siti juga mengungkap soal konsep depopulasi yang pernah diungkap Bill Gates.

Terlepas dari isu konspirasi yang berkembang, harusnya kita tetap fokus pada Covid19 nya. Benar tidaknya konspirasi, pada kenyataannya Covid19 ada di tengah-tengah kita. Apakah virus ini berbahaya, sebagian mengatakan tidak dan sebagian besar lainnya mengatakan berbahaya. 

Mereka yang mengatakan Covid19 tidak berbahaya pun pada kenyataannya tidak bisa menjawab pertanyaan mengapa tingkat kematian melonjak drastis sejak adanya Covid19. 

Persoalan berbahaya atau tidaknya ini bisa menjadi salah satu penyebab penanganan di sejumlah negara termasuk Indonesia terhadap Covid19 menghadapi tantangan berat. Tidak adanya kekompakan dalam memandang Covid 19 membuat berbagai kebijakan tak bisa berjalan. Sebagian mematuhi protokol kesehatan dan sebagian lainnya cuek. Mereka yang tidak mematuhi protokol kesehatan sebenarnya memiliki motif berbeda. Ada yang memang butuh pencerahan, ada yang dasarnya cuek dan ada yang menganggap remeh lantaran termakan isu konspirasi.

Mereka yang termakan isu konspirasi ini tampaknya yang bakal susah diajak kerjasama. Karena cara pandang mereka sudah bertolak belakang. Mereka ini akan sulit menjalankan konsep New Normal yang belakangan bakal diterapkan. Butuh kerja keras dan kesabaran aparat dalam menerapkan new normal di lapangan. 

Presiden Jokowi sendiri berkali-kali mengatakan bakal terus menerjunkan TNI dan Polri guna membiasakan masyarakat hidup dalam new normal. "Di tempat-tempat keramaian seperti mall, pasar, tempat ibadah dan titik keramaian lainnya kita akan tempatkan aparat untuk mendisiplinkan masyarakat," tegas Jokowi.

Ya, kehidupan new normal mau tidak mau memang harus kita hadapi. Tak bisa kita berkurung diri di rumah tanpa tahu sampai kapan obat atau vaksin Covid19 ditemukan. Bahkan para pakar kesehatan mengatakan untuk bisa menemukan vaksin butuh waktu paling tidak dua tahun. Jika vaksin ditemukan dalam kurun kurang dua tahun, apalagi dalam waktu dekat ini, maka bisa jadi isu konspirasi ini benar adanya.

Semoga kita bisa menuntaskan Covid19 ini dengan new normal dan vaksin produksi sendiri. ***

* Syamsudin Walad - wartawan suarakarys.id

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH