logo

Harga Komoditas Tak Ada Gejolak Selama Pandemi Covid-19

 Harga Komoditas Tak Ada Gejolak Selama Pandemi Covid-19

29 Mei 2020 20:55 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Pemprov Jatim berharap Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kab/Kota bisa memunculkan inovasi untuk mendukung implementasi new normal dan perbaikan ekonomi ke depan. Pihaknya berharap, langkah kebijakan pemulihan ekonomi lebih diarahkan untuk memperbaiki dua sisi, baik demand dan supply melalui relaksasi beberapa kebijakan.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah, sejak terjadinya pandemi COVID-19, komoditas di wilayah Jawa Timur tidak mengalami gejolak harga yang cukup signifikan. "Bahkan tekanan harga selama periode Idul Fitri 2020 relatif normal, dan tidak setinggi pola historisnya," ujarnya, Jum'at (29/5/2020).

Meski demikian, kata dia, ada 3 tantangan utama pengendalian inflasi Provinsi Jawa Timur yang perlu mendapat perhatian serius. Mulai dari kendala distribusi pangan di tengah penerapan pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah, hingga penurunan demand masyarakat akibat pelemahan daya beli dan dampak psikologis penyebaran COVID-19.

Kondisi ini, kata Difi, sangat berpengaruh terhadap potensi deflasi komoditas yang lebih dalam. Sementara ketiga adalah antisipasi dampak perpanjangan penerapan PSBB maupun kondisi new normal pasca COVID-19 terhadap kecukupan stok dan akses masyarakat terhadap komoditas pangan strategis.

Pihaknya mengapresiasi TPID Provinsi Jawa Timur yang telah mengambil berbagai langkah inovasi. Salah satunya berupa kelembagaan Lumbung Pangan Jatim, yang tidak hanya menjadi wadah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan pangan di Jawa Timur, namun ke depan juga diharapkan dapat berfungsi menjadi pusat kerjasama antar daerah khususnya untuk komoditas pertanian di Indonesia.

Menurut Difi, pasca High Level Meeting TPID diperlukan adanya evaluasi dan penguatan fungsi Lumbung Pangan Jatim, sehingga dapat berjalan optimal dalam pelaksanaan tugasnya di masa yang akan datang. Pihaknya juga memandang pentingnya dilakukan upaya mapping stok komoditas pangan Jawa Timur. Mapping itu diperlukan untuk menjadi landasan Kerjasama Antar Daerah berdasarkan data neraca pangan yang akurat.

Pada bagian lain, Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak menjelaskan bahwa sektor pertanian, yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian dan melibatkan setidaknya 1/3 tenaga kerja di Jawa Timur, ternyata tidak mengalami goncangan besar akibat Covid-19.

Meski demikian, produk turunan sektor pertanian khususnya olahan hortikultura, kata dia, ikut terpukul seiring dengan melemahnya sektor pariwisata. “Saat ini diperlukan adanya komunikasi efektif, inovasi, dan sinergi antar stakeholders dalam memasarkan produk UMKM pangan Jawa Timur, termasuk potensi kolaborasi dengan Lumbung Pangan Jatim sebagai salah satu jalur pemasaran," ujarnya.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH