logo

Pandemi Covid-19, Bonus Demografi Hanya Bisa Diraih Penduduk Berkualitas

Pandemi Covid-19, Bonus Demografi Hanya Bisa Diraih Penduduk Berkualitas

Virtual Meeting BKKBN.(foto,ist)
29 Mei 2020 17:05 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Indonesia sudah diprediksi bisa memasuki angka sampai 46 (dependency ratio). Artinya tiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung 46 (penduduk) usia tidak produktif.

Demikian dikemukakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo Sp OG (K) pada acara Webinar bertajuk “Tantangan Kependudukan di Tengah Pandemi Covid-19: Pekerja Migran Indonesia Pulang Kampung” melalui virtual meeting dari Jakarta, Kamis (28/5/2020).

"Ini luar biasa karena itu syarat untuk bisa memetik Bonus Demografi, dari segi kuantitas kita memasuki itu dan tentu tidak akan mudah diganggu gugat, karena syarat kuantitas ini ditempuh dengan sangat panjang. Sehingga, pengaruh Covid ini tidak akan mengubah dengan serta merta secara totalitas. Secara kuantitas itu tidak akan berpengaruh secara signifikan,” jelas dia, pada acara yang juga disiarkan langsung di Youtube dan Facebook tersebut.

Dia menjelaskan, untuk memetik Bonus Demografi harus memenuhi dua syarat. Yakni tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas. Menurutnya dari segi kuantitas untuk memetik Bonus Demografi memang tidak perlu dikhawatirkan.

Karena, melalui proses yang sangat panjang dari hasil penurunan angka fertilitas dari tahun 1970 sebesar 5,6 menjadi 2,4 hingga kini. Yang perlu dikhawatirkan, lanjutnya, ialah segi kualitas SDM penduduk Indonesia itu sendiri.

Apalagi di masa pandemi Covid 19 ini yang diproyeksikan dapat menyebabkan peningkatan Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). KTD tersebut bisa menimbulkan berbagai permasalahan seperti stunting, angka kematian ibu dan bayi, serta permasalahan lainnya di masa yang akan datang.

Sehingga, bisa mengganggu kualitas SDM penduduk Indonesia untuk memetik Bonus Demografi tersebut. Selain itu, Hasto menyatakan, isu pulangnya para pekerja migran Indonesia (PMI) juga menambah kepanikan masyarakat di tengah pandemi.

Konsep “virus tidak bergerak, tetapi manusia yang memindahkan virus” memperlihatkan mobilitas penduduk sebagai faktor kunci tersebarnya Covid-19.

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat terdapat 100.094 pekerja migran Indonesia yang berasal dari 83 negara pulang ke tanah air dalam tiga bulan terakhir. BP2MI juga memprediksi, 37.075 PMI akan kembali ke tanah air pada April-Mei 2020.

Apabila mengacu pada provinsi asal PMI, kepulangan PMI tersebut akan mengarah ke enam provinsi utama daerah asal PMI. Yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Lampung serta Sumatera Utara.

“Ada 63,4 juta penduduk yang relatif muda (usianya). Tapi, ingat syarat secara kualitatif mereka ini harus sehat secara reproduktif. Penididkannya harus cukup, punya ketrampilan yang baik," kata Hasto.

Penduduk muda usia itu, lanjut Kepala BKKBN, juga harus punya pekerjaan yang bagus. "Baru ada harapan untuk memetik Bonus Demografi," ujarnya.

Namun, kalau dari pekerja migran yang jumlahnya sekitar 260 ribu dan mayoritas pendidikannya di bawah SMP, serta mayoritas perempuan. Kalau pekerja migran itu kembali ke Indonesia, maka bisa saja menjadi pemberat dalam; memetik Bonus Demografi, bukan menjadi daya ungkit.

Di bagian lain, Peneliti LIPI Prof (Riset) Dr Aswatini menyebutkan, karakteristik PMI dua kali lipatnya ialah perempuan. Umumnya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) dan caregivers. Sebanyak 66.7 persen berpendidikan SD dan SLTP, serta bekerja pada sektor informal.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 secara langsung telah berimbas pada aspek ketenagakerjaan. Kementerian Tenaga Kerja dan BPJS mencatat ada sekitar 2,8 juta pekerja di berbagai sektor yang terdampak langsung, terdiri dari 1,7 juta pekerja formal dirumahkan, 749,4 ribu di-PHK dan 282 pekerja informal yang usahanya terganggu.

Editor : Markon Piliang