logo

Hakim Kurang, Tapi Seleksi Terpaksa Ditunda Akibat Covid

Hakim Kurang, Tapi Seleksi Terpaksa Ditunda Akibat Covid

KY
26 Mei 2020 11:46 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dampak pandemi Covid-19 yang meluas dan mendunia merambah hampir ke segala bidang kegiatan. Komisi Yudisial (KY) pun terpaksa menunda proses seleksi calon hakim agung dan hakim ad hoc pada Mahkamah Agung yang diperkirakan hingga beberapa bulan ke depan.

"Melalui koordinasi informal antara Komisi Yudisial dan DPR serta Mahkamah Agung, ada kesepakatan dimungkinkan melakukan penundaan proses seleksi selama enam bulan ke depan," ujar anggota KY Farid Wajdi, di Jakarta, Selasa (26/5/2020).

Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Komisi Yudisial itu menuturkan penundaan seleksi tetap mempertimbangkan kebijakan pemerintah serta situasi pandemi hingga memungkinkan dilakukan seleksi calon hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung. Penundaan itu dipilih agar kualitas dan kompetensi calon hakim tidak turun jika seleksi tetap dilakukan saat wabah Covid-19 dengan segala keterbatasan.

Mahkamah Agung disebutnya telah menyampaikan kebutuhan untuk mengisi kekosongan jabatan hakim agung sebanyak 8 orang yang terdiri dari 2 orang untuk kamar perdata, 4 orang untuk kamar pidana, 1 orang untuk kamar militer, dan 1 orang untuk kamar Tata Usaha Negara khusus pajak. Selain itu, Mahkamah Agung juga membutuhkan 6 orang hakim ad hoc Tindak Pidana Korupsi pada Mahkamah Agung dan 2 orang hakim ad hoc Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung. "Ada kebutuhan mendesak menyangkut jumlah hakim agung dan ad hoc. Dari segi waktu 6 hakim ad hoc tipikor akan selesai masa tugasnya. Mahkamah Agung mengusulkan hakim ad hoc tipikor sekarang diperpanjang untuk setahun ke depan," tutur Farid Wajdi.

Saat ini sesungguhnya tidak hanya hakim agung yang kurang, tetapi juga sejumlah hakim di peradilan tingkat pertama. Terutama di lima pengadilan di DKI Jakarta. Hakim-hakim itu nyaris bagai percetakan mencetak putusan demi putusan dalam kurun waktu yang sangat sempit dan terbatas. Namun putusan-putusan itu belum tentulah didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang cermat, matang dan berdasarkan nurani hingga bukan tidak mungkin menjadi jauh dari memenuhi rasa keadilan dan kebenaran.  

Editor : Dwi Putro Agus Asianto