logo

Covid-19: Kemenangan Menuju Kebangkitan

Covid-19: Kemenangan Menuju Kebangkitan

25 Mei 2020 11:17 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Ujian dan cobaan berat  telah berhasil dilewati. Wabah virus corona (Covid-19) tidak mampu menghalangi  umat muslim di Tanah Air untuk  menjalankan ibadah puasa dan merayakan hari kemenangan, Idul Fitri, 1 Syawal 1441 H, Minggu (24/5/2020). Perjuangan dan kemenangan yang harus terus dirawat dan ditingkatkan untuk menghadapi  tantangan ke depan. 

Penerapan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk percepatan penanganan Covid-19 membuat ibadah puasa dan perayaan Idul Fitri kali ini penuh dengan torehan sejarah. Pada tahun inilah ibadah puasa tanpa sembahyang tarawih di masjid. Kemudian pelaksanaan Sholat Ied  dibatasi dan Idul Fitri tanpa silaturahmi saling maaf memaafkan lewat jabat tangan.  

Tentunya tidak ketinggalan ada yang menjalani dengan penuh rasa keprihatinan. Serangan virus corona yang bermula muncul di Wuhan, China, telah membuat banyak orang kehilangan penghasilan. Ada juga yang kehilangan pekerjaan karena dirumahkan dan kena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempat berkerjanya. 

Keprihatinan juga muncul dari dilarangnya tradisi mudik atau pulang kampung yang biasa menyertai puasa menjelang Lebaran. Keluarga tidak bisa berkumpul untuk merayakan Lebaran. Orangtua dan anak-anak serta suami dan istri ada yang harus berhari raya di tempat terpisah. 

Dengan berbagai keprihatinan itulah umat Islam menjalankan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri. Memang di sana-sini masih ada yang tetap ngotot melakukan tarawih di masjid dan juga Sholat Id di luar rumah. Namun selain tetap dalam pantauan petugas juga tidaklah terlalu menyeluruh. Masih banyak yang tetap patuh pada aturan protokol kesehatan untuk penanganan Covid-19. 

Kerelaan berkorban menjadikan kunci untuk mampu melewati ujian dan cobaan berat di tengah wabah virus corona. Sikap ini perlu dipertahankan terus untuk merawat kemenangan yang telah diraih. Kemenangan yang harus dijadikan modal untuk meraih kemenangan lainnya ke depan. Bukan saja kemenangan atas Covid-19 namun juga kemenangan untuk kebangkitan Indonesia setelah wabah berlalu. 

Perjuangan untuk mengatasi Covid-19 belumlah menunjukkan hasil yang menggembirakan mengingat masih tetap tingginya penambahan kasus baru per-hari yang positif terpapar Covid-19. Jumlah total secara nasional positif Covid-19 terus melonjak sehingga sampai Minggu (24/5/2020) sudah lewat dari 22.000 orang. Kecendrungan ini menuntut pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 perlu kerja keras lagi untuk memutus rantai penyebaran virus ganas tersebut. 

Dalam hal ini pemerintah dituntut untuk konsisten dan tegas dengan kebijakan yang telah diambil sesuai dengan apa yang diatur dalam aturan penerapan PSBB. Tindakan disiplin sudah perlu diterapkan dengan keras. Tidak perlu ada lagi kompromi yang justru membuka celah untuk merusak penerapan PSBB yang tentunya akan membawa akibat fatal bagi keselamatan jiwa masyarakat. 

Pemerintah kini tidak bisa hanya mengimbau apalagi menyalahkan masyarakat atas bertambahnya kasus positif Covid-19. Masyarakat berani melanggar PSBB karena memang tidak ada penindakan tegas. Masyarakat juga melihat pemerintah tidak konsisten dalam menerapkan aturan. 

Makin meluasnya pelanggaran terhadap PSBB membuktikan pemerintah sudah tidak memiliki wibawa lagi di mata rakyat. Kepercayaan terhadap pemerintah semakin tergerus karena rakyat menilai tidak memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keselamatan jiwa mereka. Belum adanya hasil yang signifikan dalam penanganan Covid-19 membuktikan kebenaran penilaian masyarakat tersebut. 

Pilihan memang sudah harus diambil secara jelas oleh pemerintah pusat. Cukup sudah waktu sejak 2 Maret hingga 25 Mei 2020 bagi pemerintah untuk bersikap  bimbang antara memilih kepentingan ekonomi atau kesehatan dan keselamatan rakyat. Pemerintah tidak perlu lagi meneruskan langkah coba-coba tapi salah. 

Rakyat kini menunggu sikap tegas pemerintah. Kalau pun pemerintah lebih mengutamakan ekononomi, rakyat tidaklah keberatan untuk berjuang sendiri menyelamatkan diri dan nyawa dalam menghadapi Covid-19. Karena sebenarnya apa yang dilakukan pemerintah pusat saat ini juga mengarah kepada membiarkan masyarakat yang berjuang melawan Covid-19 di lapangan. Sementara pemerintah pusat hanya bisa mengimbau dan itu pun lebih sering membingungkan. 

Menghadapi kebingungan itu maka rakyat memang harus bangkit. Hanya dengan itu perjuangan untuk merebut kemenangan akan tercapai. Kemenangan bukan saja terhadap Covid-19 namun juga kemenangan terhadap pejabat pemerintah yang abai dalam memperhatikan, mengawasi, melayani  dan melindungi rakyat. Kemenangan menuju kebangkitan rakyat. ***

• Gungde Ariwangsa – wartawan suarakarya.id, pemegang kartu UKW Utama, Ketua Siwo PWI Pusat

Editor : Gungde Ariwangsa SH