logo

Sambel Eyang Tjip, Disukai Di Tengah Pandemi

 Sambel Eyang Tjip, Disukai Di Tengah Pandemi

GG Mega Lazuardi PHN SE, memperlihatkan sampel produknya. (Foto: SK.id/Pudyo Saptono)
09 Mei 2020 09:35 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - SEMARANG: Memang hanya sekadar sambel. Tapi jangan ditanya, kuliner dengan bahan baku cabai ini memiliki sejarah penjang di Indonesia. Teman makan yang satu ini, bahkan telah menjadi hidangan yang tak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia.

Sejarah mencatat, setidaknya terdapat 100 varian makanan terbuat dari sambal. Ini memperteguh betapa kuliner nusantara sangat kaya dan beragam. Pada zaman kolonial, bahkan muncul dongeng yang menyebut, "baboe" (pembantu rumah tangga) yang paling mahal harganya adalah yang paling piawai pintar mengolah sambal.

Ada juga seorang arkeolog mengatakan, bahwa cabai di masa Jawa Kuno telah menjadi komoditas perdagangan yang langsung dijual. Sehingga tidak heran apabila cabai menjadi bahan masakan populer di kawasan tropis ini.

"Dalam konteks kekinian, terlebih di tangan ahlinya, jenis olahan sambel bisa jauh lebih variatif lagi," kata GG Mega Lazuardi PHN SE, pengrajin aneka sambel dengan branding "Sambel Eyang Tjip" di Semarang, Sabtu (9/5/2020).

Di tengah pandemi coronavirus jenis baru (Covid-19), menurut Mega, binis on-line aneka sambel yang diolahnya langsung melejit dan diburu-buru banyak pelanggan tidak hanya dari lingkup Kota Semarang saja, namun sampai ke kota-kota besar di Jawa bahkan sampai luar Jawa.

Sambel berlabel "Eyang Tjip" yang diolah, rasanya juga menyesuaikan selera nusantara dengan varian seperti: Sambel Baby Cumi, Sambel Teri Medan, Sambel Jambal Asin, Sambel Peda, Sambel Ayam Suwir dan Sambel Bawang. Sedang produk lainnya antara lain, Kering Tempe Teri Kacang, Teri Kacang, Kentang Kacang dan Kering Kentang Teri Kacang.

"Gara-gara hotelier dirumahkan, jadi muncul kreativitas usaha seperti ini," kata pemilik Lazuardi Event and Wedding Organizer Semarang tersebut, yang mengaku usaha Event dan Wedding lagi kendor karena dihadang Covid-19.

Mengapa membranding produk sambelnya dengan label "Eyang Tjip"? Mega bertutur, Eyang Tjip adalah nama neneknya yang sudah almarhumah. Saat dia masih remaja dan main ke rumah neneknya di desa, setiap makan selalu dibikinkan sambel. Dan apapun jenis sambel yang dibuat Eyang Tjip, rasanya luar biasa. Ibarat tak ada lauk asal ada sambelnya eyang, selera makan jadi terpuaskan.

"Saya mencoba mewarisi bakat nyambel beliau, dan sebagai penghormatan semua produk sambel dan masakan kering, saya beri label Eyang Tjip," tuturnya pula.

Meski di setiap sambel ada unsur cumi, jambal, teri Medan dan lainnya, namun Mega tidak mematok harga mencekik. Untuk aneka sambel harga berkisar Rp25 hingga Rp35 ribu. Sedang untuk aneka kering harganya antara Rp30 sampai Rp45 ribu. Dan yang menarik semua produk tanpa MSG dan bahan pengawet. Produk bisa tahan 1 bulan di dalam kulkas dan 2 minggu di suhu ruangan.

"Ini usaha sangat membantu para pejuang kemanusiaan yang di rumah saja pada musim pandemi. Kami juga menyediakan produk- produk frozen seperti beef slice, dori, salmon dan sebagainya," pungkas Mega seraya menambahkan bagi yang berminat "Sambel Eyang Tjip" bisa WA ke: 082134494070.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto