logo

Ekonomi Masyarakat Kian Memburuk  Di Tengah Pandemi Corona

Ekonomi Masyarakat Kian Memburuk  Di Tengah Pandemi Corona

Pengamat kebijakan publik Bambang Istianto. (Foto:dok.suarakarya.id)
30 Maret 2020 08:02 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pengamat kebijakan publik Bambang Istianto mengungkapkan, di tengah keseriusan pemerintah dalam menangani  pandemi virus corona atau Covid-19,  kondisi sosial ekonomi masyarakat saaat ini kian memburuk. Sementara itu, jumlah warga yang positif terinfeksi virus yang mematikan itu terus bertambah, bahkan sudah tembus di angka ribuan.

Namun, pemerintah sepertinya tetap ngotot untuk tidak mengambil kebijakan  lockdown. Meski sejumlah daerah sudah melakukan lockdown terbatas. Di samping itu juga masyarakat mengalami kepanikan akibat  pengaruh informasi medsos yang beragam versi dalam menghadapi penularan wabah covid -19.

Di lain pihak, kata Bambang, fundamental ekonomi Indonesia yang juga lemah dipastikan akan menambah penderitaan masyarakat dalam menghadapi kebijakan lockdown. Karena itu kebijakan pemerintah harus tepat sasaran.

“Artinya pencegahan penularan covid 19 bisa dicapai secara efektif dan rakyat tetap tercukupi kebutuhan hidupnya. Sebab konsekwensi logis dalam kebijakan karantina wilayah pemerintah harus menanggung seluruh lebutuhan kehidupannya selama lockdown tersebut,” ujar Bambang, yang  juga Direktur Eksekutif Center of Public Policy Studies (CPPS) ini, kepada Suarakarya.id, Senin (30/3/2020)

Sebab beberapa pekan belakangan  saat menanti kepastian kebijakan pemerintah kegiatan ekomomi masyarakat praktis terhenti. Terutama yang sangat merasakan para pekerja informal dan UMKM yakni  sepi pembeli dan pelanggan. Dampak yang ditimbulkan, kondisi daya tahan masyarakat saat ini sedang lemah. Artinya selama masa karantina  bekal yang harus dipersiapkan dengan keluarganya dipastikan cukup.

“Hal tersebut menjadi variabel yang harus dipertimbangkan dengan cermat  dalam kebijakan tersebut.  Karena  itu pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup untuk penyediaan kebutuhan pokok dengan menjaga  harga yang terjangkau dan barang mudah didapat. Dengan demikian bantuan tunai langsung segera digelontorkan,” terang Bambang. 

Dengan kebijakan lockdown, lanjut Bambang, dipastikan mobilitas masyarakat sangat dibatasi. Akses jalan  juga akan  ditutup. Untuk itu ketersedian pangan keluarga harus tercukupi. Jangan sampai masyarakat kekurangan pangan selama dalam kebijakan karantina wilayah tersebut. Hal ini rentan dengan timbulnya penjarahan jika batas waktunya lama misalnya sebulan.

“Dengan demikian banyak variabel penting yang harus dihitung dengan cermat. Kebijakan yang bersifat integratif dan komprehensif menjadi keniscayaan. Artinya jangan ada variabel yang tertinggal dan kecolongan dalam kebijakan lockdown,” pungkas Bambang. (**)

Editor : Gungde Ariwangsa SH