logo

UMKM Terdampak

UMKM Terdampak

29 Maret 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Dampak sistemik sebaran virus corona menerjang semua bidang tanpa terkecuali. Oleh karena itu, semua pihak perlu memetakan dampak sistemiknya sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Meskipun kerugian secara sosial - ekonomi - politik tidaklah kecil tetapi upaya dan komitmen untuk mereduksinya menjadi tanggung jawab bersama.

Terkait ini salah satu sektor yang terdampak dari sebaran virus corona adalah UMKM. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah menjelaskan di tahun 2017-2018 sekitar 64,2 juta unit dengan jumlah tenaga kerja 116.598.631 orang. Dari jumlah tersebut maka dapat dipastikan peran - kontribusi UMKM terhadap geliat ekonomi di masyarakat pada umumnya dan juga implikasinya terhadap sektor riil yang kemudian berpengaruh terhadap perekonomian nasional.

Mata rantai dari peran dan kontribusi UMKM ternyata cenderung mendominasi dilihat dari aspek kuantitas dan kualitas. Paling tidak hal ini terlihat dari dominasi lebih dari 90 persen sebagai pelaku usaha dan juga pertimbangan dalam penyerapan kerja. Realita ini belum mempertimbangkan sektor informal yang juga tidak bisa diremehkan.

Mengacu realitas ini maka dampak sistemik dari sebaran virus corona jelas mereduksi kontribusi UMKM dan sektor informal, sementara pengaruhnya terhadap usaha menengah – besar juga tidak bisa diragukan. Oleh karennya beralasan jika kemudian pelaku usaha dituntut untuk melakukan pemetaan terkait kerugian yang ada, setidaknya upaya ini untuk bisa menentukan nominal kerugian dan juga kemampuan terhadap pendapatan.

Kalkukasi yang ada memang belum bisa menentukan besaran kerugian yang pasti tetapi besaran kerugian sepertinya sudah bisa diprediksi. Paling tidak, pangsa pasar berkurang karena imbas dari work from home dan juga lockdown, belum lagi komitmen terhadap stay at home yang itu semua jelas berdampak terhadap ‘kemalasan’ publik untuk keluar dan melakukan aktivitas sosial ekonomi. Fakta yang ada memberikan gambaran betapa mayoritas mal dan pusat perbelanjaan telah mengurangi jam operasional, selain adanya seruan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas kumpul-kumpul di sejumlah area dan fasilitas publik. Kondisi yang demikian dipastikan mengurangi jumlah konsumsi publik dan tentu berimplikasi terhadap perputaran jumlah uang yang beredar, meski di sisi lain tidak bisa dipungkiri telah terjadi panic buying beberapa waktu lalu.

Realitas tersebut secara tidak langsung telah mematikan mata rantai kegiatan ekonomi –bisnis, bukan hanya kelompok ekonomi menengah – besar tetapi juga tentunya memicu dampak kerugian terhadap UMKM. Paling tidak, tersendatnya pasokan  bahan baku dan lesunya permintaan telah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Belum lagi rintihan ojol yang sangat berkurang pendapatannya karena mobilitas orang menurun drastis dan pemesanan makanan melalui jejaring online juga terimbas. Oleh karena itu, komitmen pemerintah untuk memberikan keringanan angsuran dan bunga kredit mungkin sangat penting untuk disosialisasikan agar semua bisa bertahan hidup, bukan justru menikmati dengan berdalih menjadi makelar musibah. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo