logo

BMKG: Awal Musim Kemarau 2020 Mulai April, 43% Zona Musim Terlambat Masuk Musim Kemarau

BMKG: Awal Musim Kemarau 2020 Mulai April, 43% Zona Musim Terlambat  Masuk Musim Kemarau

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati didampingi Kabag Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana. (Foto dokumentasi: suarakarya.id/dwi putro aa)
25 Maret 2020 19:53 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 17.0% diprediksi akan mengawali musim kemarau pada bulan April 2020, yaitu di sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Lebih lanjut Dwikorita menjelaskan bahwa sebanyak 38.3% wilayah akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei 2020, meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi.

"Sementara itu 27.5% di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan masuk awal musim kemarau di bulan Juni 2020," katanya.

Sebelumnya Dwikorita menjelaskan tentang Perkembangan Musim Hujan 2019/2020.

Pada pertengahan Agustus 2019, BMKG merilis bahwa Awal Musim Hujan di Indonesia akan mengalami kemunduran, sebagian besar dimulai bulan November-Desember 2019. Hasil pemantauan perkembangan musim hujan hingga akhir Februari 2020 menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia (98%) telah memasuki musim hujan.

Samudera Pasifik dan Samudera Hindia diprediksikan dalam kondisi netral
Hingga pertengahan Maret 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di dua Samudera yaitu Samudera Pasifik Ekuator dan Samudera Hindia menunjukkan tidak terdapat indikasi akan
munculnya anomali iklim El Nino/La Nina dan Dipole Mode (Indian Ocean Dipole Mode).

Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan wilayah Pasifik tengah dalam
kondisi netral (indeks Nino 3.4 = 0.41), demikian juga IOD dalam kondisi netral (indeks DM = -0.29).

Kondisi ENSO Netral diprediksi bertahan hingga Agustus 2020. Terdapat peluang meskipun kecil (<33%) potensi terjadi La Nina pada kuartal akhir tahun 2020. Selanjutnya, kondisi IOD netral juga diprediksi bertahan hingga April 2020. Terdapat peluang meskipun kecil (<20%)
potensi terjadi Dipole Mode positif pada Mei hingga September 2020.
Status ENSO dan IOD akan dievaluasi terus perkembangannya setiap bulan.

Awal, Sifat dan Puncak Musim Kemarau

Datangnya musim kemarau berkait erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia). BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada April 2020, lalu wilayah Bali dan Jawa, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2020 dan akhirnya Monsun Australia
sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2020.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka Awal Musim Kemarau 2020 di Indonesia diprakirakan MUNDUR pada 148 ZOM (43.3%), NORMAL pada 128 ZOM (37.4%), dan MAJU pada 66 ZOM (19.3%).

Selanjutnya, apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan
Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2020 diprakirakan NORMAL atau SAMA dengan rerata klimatologisnya pada 197 ZOM (57.65%).

Namun sejumlah 103 ZOM (30.1%), akan mengalami kondisi kemarau BAWAH NORMAL (KEMARAU LEBIH KERING), yaitu curah hujan musim kemarau lebih rendah dari rerata klimatologis) dan 42 ZOM (12.3%) akan mengalami ATAS NORMAL (KEMARAU LEBIH BASAH), yaitu curah hujan lebih tinggi dari reratanya).

Untuk puncak musim kemarau diprediksi, sekitar 9.9% daerah Zona Musim akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Juli, sedangkan 64.9% pada bulan Agustus dan sekitar 18.7% pada bulan September.

Kesimpulan Prakiraan Musim Kemarau 2020

Awal musim kemarau tahun 2020 dimulai bervariasi, sebanyak 19.3% daerah zona musim (ZOM) diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal, sedangkan sebanyak 37.4% ZOM sama seperti biasanya dan sebanyak 43.3% ZOM lebih lambat dari biasanya.

Musim kemarau tahun 2020 secara umum diprediksi lebih basah dari musim kemarau tahun 2019, meskipun demikian perlu diwaspadai 30% ZOM yang diprediksi akan mengalami kemarau lebih kering dari normalnya.

Puncak Musim Kemarau di sebagian besar daerah zona musim diprediksi akan terjadi di bulan Agustus 2020.

Rekomendasi menghadapi Musim Kemarau 2020

Dalam menghadapi musim kemarau 2020, BMKG menghimbau para pemangku- kepentingan dan masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal, yaitu di sebagian wilayah Bali, Nusa Tenggara, Jawa Barat bagian utara,
Jawa Tengah bagian utara dan selatan.

Perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di sebagian Aceh, sebagian pesisir timur Sumatera Utara, sebagian Riau, Lampung bagian timur, Banten bagian selatan, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah bagian tengah dan utara, sebagian Jawa Timur, Bali bagian timur, NTB bagian timur, sebagian kecil NTT, Kalimantan Timur bagian tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, dan Maluku bagian barat dan tenggara.

Puncak Musim Kemarau 2020 diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2020. Para pemangku kepentingan dan masyarakat diharapkan untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih.

Para pemangku-kepentingan dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air pada musim hujan ini untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan.

Masyarakat dihimbau agar terus menerus memperoleh informasi terkini dari BMKG.
Layanan informasi tersebut dapat diakses melalui :
https://bmkg.go.id/iklim/prakiraan-musim.bmkg
atau langsung dapat menghubungi kantor BMKG terdekat. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto