logo

Peduli Nasabah

Peduli Nasabah

24 Maret 2020 01:19 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Perbankan merupakan salah satu sektor yang berperan terhadap pembiayaan dan tentu pendanaan, baik kepada UMKM ataupun kelompok industri - pelaku usaha menengah dan besar. Oleh karena itu beralasan jika peran perbankan tidak bisa diabaikan terhadap sukses pembangunan nasional. Meski demikian perlu juga dicermati adanya risiko yang harus dihadapi perbankan baik risiko human error ataupun techncical error.

Selain tentu risiko yang bersifat unpredictable misalnya bencana dan juga sebaran virus corona yang melanda di hampir semua negara. Bahkan dengan sebaran yang begitu cepat dan masif maka dampak sistemik dari sebaran virus corona berimbas terhadap semua sektor tanpa terkecuali. Oleh karena itu, beralasan jika kemudian sejumlah negara melakukan model kebijakan lockdown sebagai upaya meredam dan meminimalisasi dampak sebarannya.

Kalkulasi terkait kerugian dari kebijakan lockdown memang tidak bisa dipungkiri dan ini sudah diterapkan oleh sejumlah negara, termasuk juga konsekuensi terhadap insentif dan kompensasi yang harus dikeluarkan dan diberikan negara. Artinya ada konsekuensi  sosial ekonomi bisnis dibalik kebijakan lockdown. Logika yang mendasari karena nilai kerugian yang muncul tidak saja dialami pelaku usaha tetapi juga pekerjanya.

Argumen berkembang karena lockdown itu berkaitan dengan work from home sehingga beberapa jenis pekerjaan yang sifatnya padat karya dialihkan kerjanya di rumah sementara jenis pekerjaan yang bersifat padat modal tidak bisa dialihkan dan tentunya ada pengurangan jam kerja. Padahal tidak semua jenis pekerja bersifat bulanan karena masih banyak juga yang kerjanya harian. Artinya, analogi no work no pay menjadi persoalan lanjutan yang harus juga disikapi, tentu ini bukan hanya dari dunia usaha tetapi juga pekerja dan tentu juga pemerintah, baik di pusat atau di daerah. Jadi, mata rantainya sangatlah kompleks.

Fakta dibalik mata rantai dampak sistemik dari sebaran virus corona maka dunia usaha, baik di sektor formal atau informal dan juga kalangan pekerja terdampak sehingga fakta ini berpengaruh terhadap omzet dan penjualan otomatis merosot tajam. Bahkan, banyak mal yang terpaksa mengurangi jam kerja termasuk juga pada akhir pekan yang biasanya ramai pengunjung ternyata pada dua pekan terakhir ini terjadi kemerosotan yang sangat tajam dan berpengaruh terhadap perputaran uang di sejumlah mal – pusat perbelanjaan. Konsekuensi dari semua ini maka dunia usaha pasti kesulitan mendapat cash flow demi perputaran uang dan mata rantainya, termasuk tentu untuk pembayaran karyawan serta pembayaran cicilan hutang.

Artinya, perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya tidak bisa menutup mata dari realitas ini dan tentu dibutuhkan adanya saling pengertian yang dapat menciptakan kemanfaatan bersama. Bagaimanapun juga dampak sistemik sebaran virus corona telah memicu sentimen terhadap semua aspek, termasuk tentu dunia usaha, pekerja dan perbankan sehingga peduli terhadap nasabah menjadi komitmen yang harus diperhatikan perbankan dan lembaga pembiayaan agar dunia usaha tetap bisa bergerak, berusaha dan beroperasi, apalagi sebulan lagi ada ramadhan berlanjut lebaran tentu juga harus mempersiapkan THR dan pembayaran insentif – bonus. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo