logo

Kunjungi Bogor, Wakil Menteri Pertanian Belanda, Jan-Kees Goet Apresiasi Komunitas Gerakan Tanam Pohon (GTP)

Kunjungi Bogor, Wakil Menteri Pertanian Belanda, Jan-Kees Goet  Apresiasi Komunitas Gerakan Tanam Pohon (GTP)

12 Maret 2020 21:58 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - BOGOR: Wakil Menteri Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan Belanda, Jan-Kees Goet melakukan kunjungan kenegaraan dan misi ekonomi ke Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu dan Kamis (11-12/3/2020).

Pada hari pertama kunjungannya, Jan-Kees Goet, berkunjung ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Kedatanganya disambut Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria, di Agribusiness Technology Park (ATP).

Setelah rombongan dari Belanda dijamu makan siang di area terbuka, Rektor IPB mengajak rombongan untuk tur singkat ATP mengunjungi kebun jambu, rumah kaca, dan area pengemasan. Pada kesempatan ini Wakil Menteri Goet juga melakukan dialog singkat dengan para petani di ATP.

Usai kunjungan ATP, kegiatan dilanjutkan di halaman Gedung Common Class Room (CCR) IPB. Acara ini digagas oleh jaringan alumni Belanda di Indonesia yang difasilitasi oleh Nuffic Neso Indonesia.

Pada sesi ini,  Wakil Menteri Goet diperkenalkan pada komunitas Gerakan Tanam Pohon (GTP) yang diinisiasi oleh alumni IPB. Komunitas GTP ini selalu rutin mengadakan penanaman pohon bersama masyarakat kota Bogor.

Terinspirasi dari aktivitas komunitas GTP, Holland Alumni Network di Indonesia mengambil kesempatan ini untuk mendeklarasikan gerakan #1NLAlumni1Tree.

Pada kesempatan ini alumni Belanda menyumbangkan 30 pohon untuk ditanam bersama dengan komunitas GTP, dan penanaman pohon pertamanya dilakukan oleh Wakil Menteri Pertanian Belanda dan Rektor IPB.

Wakil Menteri Pertanian Belanda memberikan apresisasi yang positif terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh komunitas GTP dan didukung oleh alumni Belanda di Indonesia. Hal ini merupakan aset penting dalam meningkatkan kerjasama bilateral antara Indonesia dan Belanda.

Kegiatan menanam pohon bertujuan untuk lingkungan, iklim, ekonomi, dan bahkan kesehatan.  Gerakan #1NLAlumni1Tree ke depannya diharapkan dapat memberikan 16.000 pohon lebih yang dapat ditanam, mengingat jumlah alumni Belanda di Indonesia terus berkembang, minimal bertambah 500 orang setiap tahunnya.

Pihak GTP  mengharapkan, semoga inisiatif gerakan #1NLAlumni1Tree dari alumni Belanda di Indonesia ini dapat diikuti juga oleh jaringan alumni Belanda di seluruh dunia.

Dito Alif Pratama, Alumni Officer dari Nuffic Neso Indonesia, mengatakan bahwa nantinya program Love Nature, Create Future ini tidak hanya menanam pohon saja, tapi bisa juga diisi dengan kegiatan lain seperti mendaur ulang sampah atau membersihkan lingkungan/air sungai.

Dito menambahkan, nantinya kegiatan alumni Belanda #1NLAlumni1Tree akan dikelola oleh Generasi Cerdas Iklim (GCI) yang didirikan oleh alumi dari Universitas Wageningen, Ikrom Mustofa.

Yayasan GCI yang didirikan tahun 2015 ini telah meraih banyak penghargaan baik skala nasional maupun internasional. Adapun kegiatan rutinnya adalah pendidikan cerdas iklim dan penyelamatan lingkungan yang diberikan kepada anak-anak setingkat sekolah dasar di daerah rawan bencana di Indonesia.

Melalui pendidikan berbasis karakter dan kearifan lokal, Yayasan GCI melakukan serangkaian aktivitas seperti menanam pohon, memilah sampah, dan juga simulasi bencana. Selain itu, Yayasan GCI juga aktif melakukan kegiatan lainnya, seperti kampanye iklim, pelatihan kebencanaan, dan beasiswa anak di wilayah terdampak bencana.

Sementara komunitas Gerakan Tanam Pohon berawal dari keinginan alumni Fakultas Kehutanan IPB dalam memberikan kontribusi terhadap kota Bogor. Ide untuk menanam pohon tercetus pada tahun 2015 saat temu alumni, dan menunjuk Hari Priyadi sebagai ketuanya.

Bekerja sama dengan banyak pihak mulai dari kalangan birokrasi, kepolisian, TNI, media dan juga ormas yang ada di kota bogor,  komunitas GTP telah melakukan penanaman dihampir di seluruh sekolah di kota bogor, baik di lingkungan universitas atau sekolah, kantor pemerintah, kantor polisi, TNI dan lokasi lokasi rawan bencana, ruang terbuka hijau dll diseluruh Kota Bogor.

Saat ini komunitas GTP diketuai oleh Irawati dan telah mencapai 239 titik lokasi penanaman. Irawati mengungkapkan kegembiraannya karena jaringan alumni Belanda juga akan ikut mendukung gerakan tanam pohon ini. Apalagi alumni Belanda khan tersebar di seluruh Indonesia, siapa tau gerakan ini juga akan didukung oleh jaringan alumni Belanda di dunia, ujar Irawati.

Irawati menambahkan bahwa saat kunjungan wakil Menteri Luar Negeri Belanda ke Indonesia tahun 2015, komunitas GTP juga melakukan penanaman pohon Bersama di kebun raya, dan komunitas ini mendapat penghargaan dari Duta Besar Belanda saat itu. Tambah Irawati Perhatian pemerintah Belanda terhadap kegiatan kami, tentunya menambah semangat kami dalam meneruskan program ini.

          'Circular Agriculture'

Setelah melakukan penanaman pohon,  Wakil Menteri Goet tampil sebagai pembicara tamu dalam talk show yang terinspirasi oleh acara TV di Belanda, College Tour. Rektor IPB yang bertindak sebagai moderator dalam acara ini mengangkat tema 'Circular Agriculture'.

Wakil Menteri menguraikan perkembangan penting dalam sektor di Belanda dan bagaimana Belanda berkontribusi dalam ketahanan pangan di dunia dengan membagikan visi Kementerian Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan di Belanda.

Belanda sebagai negara dengan produksi pangan terbesar kedua di dunia, sangat bergantung pada sektor pertanian, hortikultura, dan perikanan dalam membangun perekonomiannya. Sektor-sektor ini sangat berkaitan dengan berbagai sektor lainnya yang berkontribusi pada perekonomian seperti bank, eksportir, perusahaan dagang, serta berbagai perusahaan yang memproses bahan mentah menjadi produk jadi yang siap dikonsumsi di tiap lapisan masyarakat mulai dari hotel-hotel besar hingga rumah tangga.

Sektor-sektor ini memiliki karakteristik model bisnis yang menekankan pada biaya produksi yang serendah mungkin dengan jumlah produksi yang tinggi. Dampak yang ditimbulkan dari model bisnis ini adalah masalah bagi lingkungan hidup. Masyarakat umumnya tidak mengetahui mengenai asal muasal produk pangan yang mereka konsumsi, sementara petani yang tidak merasa diri mereka diapresiasi oleh pasar dengan nilai jual yang tinggi pada akhirnya menggunakan teknik produksi yang tidak berkelanjutan selama hal tersebut dapat menekan biaya produksi.

Proses pertanian yang tidak berkelanjutan ini pada akhirnya menimbulkan dampak buruk bagi bumi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah menerbitkan Sustainable Development Goals (SDGs) yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalah pembangunan berkelanjutan ini secara fundamental. Belanda telah memberikan kontribusinya dalam membuat SDGs dan proses implementasinya untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Proses pertanian, hortikultura, dan perikanan Belanda berusaha menekankan implementasi SDGs melalui kewirausahaan yang sudah mapan, pengalaman Belanda dengan produksi menggunakan teknologi yang efisien, serta riset yang telah dilakukan secara terus menerus di berbagai institusi pendidikan tinggi Belanda.

Berbagai perusahaan dan organisasi Belanda dalam sektor pertanian telah berkomitmen dalam implementasi Climate Agreement yang memiliki tujuan untuk mengurangi emisi gas karbon dioksida (CO2) hingga tidak lebih dari 3,5 megaton pada tahun 2030.

Belanda harus tetap menjadi leader dalam inovasi di bidang produksi pangan baik secara nasional maupun di pasar pangan global. Dengan begitu, Belanda dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam proses produksi pangan yang efisien serta mengurangi kerusakan ekosistem (air, tanah, udara).

Sekitar 300 mahasiswa IPB terlibat aktif dalam memberikan berbagai pertanyaan pada talk show yang disampaikan dalam Bahasa Inggris.

PT. Ewindo juga turut mendukung kegiatan hari ini dengan membagikan 300 bungkus bibit bagi mahasiswa.

Dan keesokan harinya (Kamis, 12 Maret 2020), Wakil Menteri Pertanian Belanda akan melanjutkan perjalanannya dengan mengunjungi PT. Ewindo, untuk menerima majalah dengan judul 'Green Education to Strengthen Human Capital'. Majalah tersebut menyajikan wawasan tentang pencapaian terbaru dan peluang untuk kerjasama Indonesia-Belanda dalam pendidikan kejuruan di bidang pertanian capaian terbaru dan peluang untuk kerjasama Indonesia-Belanda dalam pendidikan kejuruan di bidang pertanian.

        Nufic Neso Indonesia

Nuffic Neso Indonesia adalah kantor perwakilan Nuffic, organisasi nonprofit di Belanda yang ditunjuk resmi menangani kerja sama internasional di bidang pendidikan dan didanai oleh pemerintah Belanda. Nuffic Neso Indonesia menyediakan informasi serta memberikan konsultasi secara cuma-cuma mengenai lebih dari 2.100 program studi yang diberikan dalam bahasa Inggris. Nuffic Neso Indonesia juga memprakarsai dan memfasilitasi kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara institusi di Indonesia dan Belanda serta menawarkan, mewakili pemerintah Belanda, beasiswa untuk warga negara Indonesia setiap tahunnya. www.nesoindonesia.or.id  ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto