logo

Polda Jatim Kembangkan Kasus Manipulasi Aplikasi Ojek Online

 Polda Jatim Kembangkan Kasus Manipulasi Aplikasi Ojek Online

Foto : Istimewa
28 Februari 2020 21:09 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id -
SURABAYA: Jajaran Polda Jatim tersu berupaya mengungkap praktek manipulasi aplikasi ojek online. Menyusul penangkapan salah satu pelaku M Zaini (35) warga Sukoharjo Klojen Malang, kali ini polisi meringkus Nafis Suhandak (27) warga Singosari, Kabupaten Malang.

Menurut Direktur Ditreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol R Pitra Andrias Ratulangie, selama tujuh bulan, Nafis berperan memasok SIM Card provider seluler yang digunakan M Zaini warga Klojen, Kota Malang. "Kami menemukan lagi 4000 SIM Card dan si tersangka mengakui betul itu punya dia," ujarnya, Jumat (28/2/2020).

Sebelumnya, M Zaini (25) diringkus polisi terkait manipulasi data registrasi SIM card mengunakan nama orang lain yang digunakan untuk order fiktif. Pengungkapan kasus itu bermula dari laporan masyarakat tentang banyaknya order fiktif (akun palsu) yang dialami ojek online.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, ternyata Zaini melakukan manipulasi data Gojek dengan menggunakan akun driver, akun customer, dan akun resto (Go food dan Go biz), yang semua akun tersebut fiktif. Pelaku mengambil keuntungan dari point (bonus) dalam aplikasi Gojek.

Dalam aksinya, pelaku bisa mengaktifkan kartu perdana dengan ribuan nama identitas KTP palsu. Polisi bahkan menyebut sebanyak 8.850 kartu sudah teregistrasi dan semua memakai identitas milik nama orang lain.

Pelaku memiliki banyak akun yang beroperasi sebagai driver (41 akun), pemilik restoran (30 akun) dan customer/pelanggan yang semuanya fiktif (akun palsu) seolah-olah yang bersangkutan adalah driver. Akibat perbuatannya, perusahaan aplikasi mengalami kerugian hingga Rp400 juta.

Kepada polisi, Zaini mengaku mendapatkan 8.850 SIM card teregistrasi itu dari Nafis. Dari tangan Nafis, polisi mengamankan 4.500 kartu perdana Axis yang sudah teregistrasi dengan data KTP dan KK orang lain (simcard bodong). Polisi kini masih terus mendalami, bagaimana tersangka memperoleh data identitas untuk mengaktifkan ribuan kartu perdana tersebut.

Oleh polisi, pelaku akan dijerat Pasal 35 junto pasal 51 ayat (1) UU RI no 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 378 KUHP junto pasal 56 KUHP. Pelaku terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.***

Editor : Markon Piliang