logo

Tragedi Susur Sungai Siswa SMPN 1 Turi: Sultan HB X Prihatin, Bupati Sleman Beri Peringatan Keras

Tragedi Susur Sungai Siswa SMPN 1 Turi:  Sultan HB X Prihatin, Bupati Sleman Beri Peringatan Keras

Sri Sultan Hamengku Buwono X mendatangi Puskesmas Turi Sleman, lokasi evakuasi siswa SMPN 1 Turi yang hanyut (Ist)
22 Februari 2020 00:51 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - SLEMAN: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan belasungkawa dan prihatin atas tragedi yang merengut nyawa enam siswa Siswa SMPN 1 Turi, Sleman, saat melakukan kegiatan Pramuka menyusuri Sungai Sempor, Jumat (21/2/2020). Sedangkan Bupati Sleman, Sri Purnomo memberikan peringatan keras kepada pihak sekolah dan menyebut kegiatan itu merupakan preseden buruk.

“Saya berbelasungkawa dan prihatin kebetulan juga musim hujan jadi mustinya di dekat sungai berbahaya apalagi menyusuri sungai ,” kata Sultan HB X saat mendatangi Puskesmas Turi Sleman, lokasi evakuasi siswa SMPN 1 Turi yang hanyut saat melakukan susur Sungai Sempor, Jumat (21/2/2020) malam.
.
Seperti dilaporkan Harianjogja.com, Sultan mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait kewaspadaan dini terhadap potensi bencana. Sultan telah meminta BPBD mengeluarkan edaran selama musim hujan ini.

Lebih lanjut, terkait kegiatan siswa SMPN 1 Turi yang melakukan susur sungai padahal musim hujan, Sultan meminta anak-anak sekolah maupun kelompok masyarakat, tanpa melihat pendidikan SD SMP dan SMA untuk menghindari acara program kegiatan di pinggir sungai apalagi masuk sungai.

“Baik anak sekolah pramuka dan asosiasi apapun menghindari kegiatan di pinggir Sungai apalagi aktivitas yang berkaitan dengan masuk ke sungai ini sangat berbahaya,” ujar Sultan.

Dia mengajak warga untuk menomorsatukan saling menjaga keselamata. Karena sangat membahayakan, untuk sementara ini, Sultan meminta jangan melakukan aktivitas di sungai . “Entah itu alasannya untuk bersih desa atau bersih kali atau sebagainya tidak usah melakukan kegiatan di sungai pada waktu musim hujan,” ucapnya.

Sultan mengingatkan meski di kawasan sungai tidak hujan dan sungai tidak banjir, bukan berarti sungai aman dari banjir. “Kalau di sini tidak hujan namun di atas Merapi itu hujan larinya ke kali pasti arusnya akan tinggi, daya dorong dan luncurannya kuat, kalau di Utara hujan deras. Jadi lebih baik hindari aktivitas di dekat sungai demi keselamatan,” tuturnya.

Sementara itu Bupati Sleman, Sri Purnomo tak bisa menyembunyikan kemarahannya atas peristiwa hanyutnya ratusan siswa SMPN 1 Turi. Sri Purnomo pun memberikan peringatan keras kepada puhak sekolah. Menurutnya, kegiatan Susur Sungai itu merupakan preseden buruk. Terlebih kegiatan ini tak diimbangi dengan pertimbangan cuaca selama musim penghujan.

Karena itu, dia menilai kegiatan itu sangat berbahaya serta dinilai tidak memikirkan dampak jangka panjang. Termasuk pertimbangan cuaca selama kegiatan berlangsung yang seharusnya dipikirkan secara matang.

“Peringatan kepada sekolah, karena ini kecerobohan yang fatal,” katanya di posko evakuasi Donokerto, Turi, Jumat (21/2/2020) malam, seperti dilaporkan pojoksatu dengan mengutip dari Radar Jogja. “ Pelajaran sangat mahal dan ini menjadi duka untuk kita semua,” ujarnya.

Saat ini, lanjut pria yang akrab disapa SP itu, yang perlu dilakukan adalah fokus pada upaya pencarian korban. Dia belum ingin membahas sanksi apa yang akan diberikan kepada pihak sekolah. Karena itu, dia meminta seluruh tim yang terlibat bergerak, termasuk pihak keluarga.

Sebab, sejumlah siswa diketahui langsung pulang tanpa melapor ke pihak sekolah. “Sekarang fokusnya mencari yang belum ketemu dulu. Ada lima anak yang sampai sekarang belum ketemu. Cek dulu ada dirumah atau tidak,” katanya.

Berdarkan data terbaru sampai dengan pukul 21.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia kini bertambah menjadi enam orang. “Total saat ini ada enam (korban) yang sudah ditemukan meninggal,” ujar Kepala Kantor Basarnas Jogjakarta, Lalu Wahyu Effendi, di lokasi yang sama.

Keenam korban ditemukan tidak bernyawa. Satu korban terakhir ditemukan tersangkut di Jembatan Sempor. “Jadi masih lima anak masih dalam pencarian,” ucapnya.

Berdasarkan data, keenam korban diidentifikasi atas nama Nur Azizah, Latifa Zulfa, Sofia Aulia, Arisna Rahmawati dan Khoirun Nissa. “Satu korban belum teridentifikasi,” tutur Wahyu.

Wahyu menjelaskan, keenam korban meninggal itu lantaran tengelam usai diterjang banjir Sungai Sempor. “Jarak penemuan antar korban tidak terlalu jauh,” katanya.

Dia menambahkan, kedalaman sungai saat banjir diperkirakan mencapai satu sampai dua meter. “Tapi arusnya sangat deras dan kencang,” tuturnya.

Saat kejadian, siswa SMPN 1 Turi sama sekali tidak menyangka bakal ada banjir kiriman. Pasalnya, cuaca saat itu cenderung cerah. “Cuaca saat kejadian itu berubah mendadak. Awalnya (air sungai) landai, tiba-tiba meluap. Inilah yang membuat para peserta susur sungai hanyut,” katanya. ***