logo

Corona & Bawang

Corona & Bawang

18 Februari 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Sepertinya tidak ada hubungan yang erat antara virus corona dan bawang putih. Hal ini mengacu letak geografis yang sangat jauh yaitu di China dan konsumsi bawang putih di Indonesia. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya karena dalam dua pekan terakhir harga bawang putih cenderung terus meroket.

Padahal, konsumsi bawang putih pada masakan di Indonesia cenderung dominan. Jadi, beralasan jika kemudian dampaknya akan memacu kenaikan harga kuliner nusantara. Mata rantai ini mengisyaratkan bahwa dampak dari kenaikan harga bawang putih bisa rentan memicu inflasi, sementara pada 2-3 bulan lagi ada ramadhan – lebaran yang tentu sangat sensitif terhadap semua bentuk kenaikan harga.

Fakta dibalik kenaikan harga bawang putih menjadi pembelajaran tentang pentingnya mengantisipasi ketergantungan impor komoditas tertentu dari negara lain. Meski tidak diragukan bahwa era globalisasi memungkinkan terjadi perdagangan antar negara tapi harus juga diantisipasi berbagai kemungkinan terburuknya. Setidaknya dari kasus virus corona menjadi pembelajaran terkait hal tersebut dan tentu pemerintah harus konsisten mencermati kasus ini sebagai langkah antisipasi menjelang ramadhan - lebaran. Realita ini menunjukan bahwa jaminan pasokan barang – jasa dan komoditas perlu diperkuat untuk kasus-kasus tertentu sehingga neraca perdagangan aman dan tentu tidak terjadi ketergantungan impor dari negara lain.

Fakta yang ada menegaskan dominasi impor bawang putih dari Cina sangatlah rentan ketika terjadi sesuatu di China seperti kasus virus corona yang kini menghebohkan. Jadi dominasi 90 persen impor bawang putih dari Cina menjadi ancaman ketika virus yang terjadi yaitu corona masih belum bisa teratasi. Seperti diketahui bahwa importir harus memastikan eksportir bawang putih memiliki sertifikat Good Agricultural Practices - GAP berstandar internasional dan ternyata Cina berkemampuan terhadap hal ini yang kemudian impor-nya terus berlanjut sampai sekarang. Data BPS, Indonesia mengimpor bawang putih dari Cina pada 2019 mencapai 465.000 ton atau setara 529,96 juta dolar AS dan imbas dari virus corona ternyata menghambat arus barang dan pasokan, bukan hanya dari Cina tapi juga dari sejumlah negara karena ketakutan berantai.

Pembelajaran dari globalisasi bahwa mata rantai pasokan tidak hanya ditentukan oleh satu negara saja tapi juga terkait banyak negara. Oleh karena itu kepastian pasokan saat ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang terkait dan keterkaitan itu tidak terlepas dari faktor kompleks, baik internal dan eksternal. Jadi, apa yang melanda Cina dengan virus corona berdampak sistemik terhadap mata rantai perdagangan dan arus barang – jasa dari dan ke Cina sehingga lonjakan harga bawang putih hanyalah kasus yang ada karena dampak virus corona, belum kasus lain di kepariwisataan dan penerbangan. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo