logo

Neneng Rahardja: Banyak Negara Punya Batik, Tapi Hanya Indonesia Yang Produksi Dengan Canting

Neneng Rahardja: Banyak Negara Punya Batik, Tapi Hanya Indonesia Yang Produksi Dengan Canting

Pendiri JagaWastra Neneng Rahardja (Kanan).
15 Februari 2020 14:40 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kain batik memang tidak hanya domainnya Indonesia, beberapa negara lainnya juga memiliki batik. Tapi hanya Indonesia yang proses pembuatannya menggunakan canting.

Hal itu ditegaskan oleh pendiri JagaWastra Neneng Rahardja di sela-sela acara 'Celebration of Life' di Graha Bimasena, Jalan Dharnawangsa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (15/2/2020).

Namun, kata Neneng lagi, orang Indonesia tidak menyadari atau mungkin tidak tahu hal itu sehingga tidak begitu bangga. Padahal batik atau wastra (kain tenun) lainnya merupakan identitas bangsa Indonesia.

Diungkapkannya, setiap goresan pada wastra dari berbagai daerah di Indonesia memiliki makna yang sarat dengan filosofi.

"Jadi buatnya tidak asal-asalan. Setiap goresan ada maknanya," jelas Neneng.

Diceritakan Neneng, ada salah satu merek fesyen luar negeri terkenal menyontek motif batik Indonesia, namun mereka memproduksinya di Afrika. Padahal di negara tersebut dibuatnya tidak dengan canting.

"Di Afrika membuat batik dengan cara disablon atau dicetak, motifnya persis dengan milik kita. Bedanya mereka cara membuatnya tidak menggunakan canting. Tapi ya itu, kita tidak bangga dengan wastra sendiri sehingga orang luar enggak tahu," tuturnya.

*Cara mendesain wastra tradisional*
Neneng yang juga dikenal sebagai pengamat wastra memiliki cara tersendiri dalam mendesain wastra yaitu dengan cara melipat-lipat, diikat atau dijepit.

"Saya merasa berdosa kalau menggunting kain-kain tenun yang dibuat dengan susah payah dan memakan waktu itu. Kalau digunting, lalu dijahit nanti ada bagian dari kain itu dibuang. Ini cara saya menghargai karya anak bangsa," tuturnya.

Dengan begitu, lanjut Neneng, kain-kain tenun tersebut dapat dimodifikasi dengan mode yang lain tanpa lehilangan atau rusak di bagian tertentu.

Dia berharap apa yang dilakukannya ini dapat menularkan 'virus' kecintaan terhadap wastra Nusantara kepada kaum perempuan Indonesia, tidak terkecuali kaum milenial.

Sementara itu, Ambaryati dari Kreasi Indo Multipesona selaku penyelenggara acara Celebration of Life mengatakan acara-acara yang mengangkat budaya Nusantara seperti ini harus lebih sering dilakukan sehingga apa yang diimpi-impikan Neneng Rahardja yaitu menyebarkan virus wastra ke masyarakat luas terwujud.

"Ini tanggung semua stakeholder terkait. Wastra Nusantara tidak hanya warisan budaya saja, tapi juga akan mengangkat potensi ekonomi masyarakat," kata Ambaryati.

Ambar melihat ketertarikan masyarakat terhadap kain tenun Nusantara sudah ada tapi harus lebih ditingkatkan. Dengan begitu pada akhirnya kesadaran untuk melestarikannya akan muncul.

"Kalau kesadaran masyarakat terhadap pentingnya melestarikan wastra Nusantara tercipta maka secara otomatis kebanggaan memakai batik atau wastra lainnya sebagai identitas bangsa akan tercipta juga," punglasnya.

Di acara tersebut juga membahas tentang virus Corona dengan menghadirkan pembicara dari RS MMC Jakarta, Afriarsa Abidin Sp.P.

Dalam pemaparannya pria yang akrab Ade ini mengatakan meski belum ada kasus Corona di Indonesia masyarakat tetap harus waspada.

Sebenarnya, jelas Ade, virus-virus yang notabenenya adalah 'keluarganya' Corona tapi beda spesies sudah bermunculan terlebih dulu, seperti MERS dan SARS namun tidak sebahaya virus Corona.

Diberitahunya, virus Corona sangat rentan menular ke manusia melalui saluran pernafasan yang merusak sel-sel di dalam tubuh. 

Editor : Gungde Ariwangsa SH