logo

DPR Sindir Kementan Soal Tambah Anggaran Rp 50 M Untuk AWR

DPR Sindir Kementan Soal Tambah Anggaran Rp 50 M Untuk AWR

Mentan Syahrul Yasin Limpo di AWR.
15 Februari 2020 14:11 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Wakil Ketua Komisi IV Budisatrio Djiwandono mempertanyakan tujuan Kementerian Pertanian (Kementan) minta penambahan anggaran Rp 50 miliar untuk mendukung pengembangan pusat data dan sistem kontrol pertanian nasional berbasis teknologi bernama Agriculture War Room (AWR) .

Menurut dia, pemantauan data pertanian, bisa dilakukan dengan lebih sederhana dengan anggaran tak terlalu besar.

"Kalau untuk mengelola data BPS saja, dari ipad saya juga bisa tanpa memerlukan dana puluhan miliar," ujar Budisatrio dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Ruangan berisi alat pemantau yang berfungsi memperbarui data pertanian di Indonesia secara berkala ini, sempat diklaim Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo hampir mirip dengan cara kerja pusat kontrol pertahanan dan keamanan di Pentagon, Amerika Serikat. AWR telah diluncurkan Syahrul pada awal Februari lalu.

Menanggapi sindiran DPR itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengundang sejumlah pimpinan redaksi untuk melihat AWR, di kantor Kementan, Rabu (22/2/2020). Sejumlah pejabat eselon I Kementan turut hadir di sana.

Sekjen Kementan Momon Rusmono membenarkan ada usulan perubahan tambahan realokasi anggaran sebesar Rp 50 miliar untuk AWR yang telah diirintis oleh Menteri Pertanian.

Dikutip dari laman Katadata, Momon menjelaskan anggaran tersebut sebagian akan dialokasikan untuk membiayai tenaga ahli pendamping pengembangan AWR senilai Rp 15,5 miliar. Kemudian, anggaran untuk pengadaaan perangkat keras dan perangkat lunak sebesar Rp 5,5 miliar serta peningkatan jaringan penyimpanan sebesar Rp 9 miliar.

Selanjutnya, anggaran untuk fasilitas operasional dan koordinasi AWR Rp 6 miliar, anggaran untuk koordinasi kelembagaan dan kebijakan pengembangan Rp 7,5 miliar. Lalu, anggaran untuk koordinasi penyebaran teknologi, informasi, dan publikasi data pertanian dan peningkatan daya saing hasil pertanian sebesar Rp 6,5 miliar.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto menjelaskan, AWR tersebut berfungsi untuk meningkatkan peringatan dini untuk bila terjadi ancaman produksi komoditas pertanian, misalnya cabai dan bawang.

"Jadi AWR bisa memprediksi bawang stok bawang dan cabai akan menimbulkan masalah tidak," ujar dia.

Selain itu, AWR juga akan menyimpan data produksi dan musim panen setiap komoditas, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), produsen benih hortikultura, data ekspor dan impor, organisme pengganggu tanaman, calon petani penerima APBN horti, hingga informasi harga komoditas hortikultura.

Data tersebut dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Statistik Pertanian Hortikultura dari tingkat kecamatan hingga provinsi. ***