logo

Pacu PSR, Wapres Berharap Produktivitas Sawit Capai 8 Ton

Pacu PSR, Wapres Berharap Produktivitas Sawit Capai 8 Ton

peremajaan sawit.
15 Februari 2020 13:09 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk melakukan optimalisasi sawit rakyat melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR) atau replanting sawit. 

Wapres berharap Program PSR tersebut dapat meningkatkan produksi kelapa sawit petani dan memberikan hasil yang optimal hingga mencapai 8 ton/ha/tahun. 

“Saya melihat dari data produktivitas kelapa sawit kita masih tergolong rendah, yaitu 3,7 ton. Melalui program replanting ini diharapkan produksi dapat meningkat,” ujar Ma'ruf saat menerima Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Ma'ruf menambahkan bahwa dalam peningkatan produksi, Pemerintah juga memberikan program kemudahan pembiayaan. Ia mengungkapkan bahwa  petani dapat memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

“Program PSR dapat memanfaatkan KUR. Tahun ini bunganya hanya 6 persen dan Pemerintah memberikan kemudahan dengan penyesuaian periode waktu KUR, yaitu 4 tahun,” tambahnya. 

Apkasindo membina petani sawit di 22 provinsi dan 117 kabupaten. Untuk ke depannya Wapres berharap pemerintah dapat meningkatkan penyediaan bibit unggul, dan kemudahan petani untuk mendapatkannya.

“Kita harapkan ada peningkatan kualitas produksi kelapa sawit agar didapat harga jual yang tinggi dan merata di semua daerah,” ujar Ma'ruf.

Di kesempatan yang sama, Mentan Syahrul mengatakan ada beberapa kendala yang terjadi sehingga membuat program sawit rakyat tidak berjalan optimal sehingga dibutukan tahapan untuk memastikan penanganan program sawit rakyat itu berjalan dengan baik.

"Tidak hanya mencoba masuk dalam pendekatan replanting atau menanam sawit dan memeliharanya, tapi bagaimana sampai pada titik mengolahnya seperti apa di tingkat rakyat, mulanya di tingkat industri, ini tentu saja bagian-bagian yang harus dipikirkan bersama," ujanya.

Mentan mengaku untuk penanganan PSR, dibutuhkan sebuah proses. "Butuh agenda yang cepat bisa dilakukan untuk menangani seperti apa sih masalah yang utama," kata dia.

Disebutkan, Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini menghadirkan Agriculture War Room (AWR) dalam memantau pembangunan pertanian yang real time.

"Ini langkah kami untuk mengupdate data pertanian. Semua potensi bisa kita lihat dari sini dan kita dan akan kita optimalisasikan. Diharapkan ini dapat menjadi jembatan informasi antara pemerintah dan pelaku pertanian di lapangan,"kata Syahrul.

Teknologi AWR berisi himpunan data mengenai produksi pangan, stok pupuk subsidi, luas lahan sawah, masa panen dan lainnya yang dapat tersaji cepat dan setiap waktu. ***