logo

Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL: Tinju Dan Dunia Advokat Nyaris Sama Saja

Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL: Tinju Dan Dunia Advokat Nyaris Sama Saja

advokat Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL
12 Februari 2020 21:07 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Hukum dengan tinju tipis sekali keterkaitannya kalau tidak mau dikatakan tak ada sama sekali. Namun bagi advokat senior Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL tidaklah demikian adanya.

Baginya tinju dengan hukum sama-sama menarik, sama-sama adu keterampilan, kekuatan bahkan adu nyali. Terbukti, lama sudah dia berada di belakang tinju profesional, sebagai promotor tinju. Berulangkali sudah tinju dipromotorinya. Dengan demikian menjadi tidak heran kalau beberapa mantan juara atau juara tinju profesional Indonesia dekat dengan advokat yang juga kelektor batu permata itu.

Bagi Hartono, yang masa remajanya dihabiskan di Bandung mengelola olahraga tinju profesional sungguh berat tantangannya. Walau banyak yang mau menonton pertandingan tinju tetap saja tak ada keuntungan. Sebab, penonton tersebut lebih bangga menonton tanpa membayar tiket/karcis.

Sama dengan dunia advokat. Advokat pemula sulit sekali menerobos belantara pengacara-pengacara senior. Kekurangan pemula tidak hanya dari segi popularitas, kepercayaan calon klien tetapi juga kekakuan komunikasi dan pembawaan diri. Belum lagi kemungkinan kekurangtepatan mendiagnosa permasalahan yang bisa membuat upaya hukum klien menjadi salah sasaran.

Advokat yang dikenal dekat dengan jurnalis ini menilai sesungguhnya hukum dengan tinju banyak persamaan pada beberapa segi. Untuk hukum, dalil-dalil (hukum) dalam gugatan misalnya termasuk senjata pamungkas jika tepat sasaran. Di dunia tinju pun demikian, pukulan yang dilepaskan akan mendarat telak kalau waktu melontarkannya tepat. Long hook tidak berdaya ledak menjatuhkan kalau tidak tepat ke sasaran yang mematikan. Meski pukulan jab-jab dilontarkan kalau mendaratnya bersih atau tepat sasaran maka penambahan nilai akan lebih baik dari lawan. Pukulan uppercut pun akan mengangkat dan melemparkan kepala ke belakang kalau double cover rapat lawan bisa diterobos.

Serangan bertubi-tubi; jab-jab, hook, uppercut dan long hook bisa menjadi hanya penguras tenaga jika double cover rapat ditambah lagi gerakan mengindar badan lawan yang dinamis.  "Kalau setiap upaya hukum yang dilakukan dipersiapkan cermat dan matang, niscaya hasilnya juga tak terlalu mengecewakan," ujar kolektor lukisan-lukisan realis ini. Di tinju pun, jika persiapan dilakukan matang dan cermat dengan teman latihan yang sepadan dengan bakal lawan maka optimismelah yang ada.

Serangan balik yang mematikan di dunia tinju sesungguhnya terdapat pula di dalam penegakan hukum. Dalam perkara perdata inilah barangkali yang disebut rekonvensi atau gugatan balik. Tetapi tidak setiap gugatan rekonvensi berhasil kalau jauh sebelumnya sudah diantisipasi. Begitu pula dengan serangan balik di tinju, akan tertepiskan jika tangan yang sebelumnya melontarkan pukulan cepat ditarik dan menjadi double cover atau menjadi tameng pertahanan yang kokoh.

Editor : Gungde Ariwangsa SH