logo

Kejagung Bakal Jeratkan TPPU Terhadap Tersangka Jiwasraya?

Kejagung Bakal Jeratkan TPPU Terhadap Tersangka Jiwasraya?

Kejaksaan Agung
24 Januari 2020 21:28 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kejaksaan Agung (Kejagung) menduga ada dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasrya (Persero). Untuk itu sejumlah penyidik Kejagung dikerahkan guna menelusurinya.

"Tidak menutup kemungkinan juga akan dikembangkan terhadap tindak pidana pencucian uang," kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejagung, Hari Setiyono, di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020).  Kejagung akan menelusuri aset-aset terlebih dahulu untuk memastikan apakah ada dugaan pencucian uang. Selanjutnya penyidik akan menelusuri asal usul aset-aset tersebut.

 

"Diharapkan simultan antara tindak pidana korupsi dan TPPU, yang artinya pencucian uang ini berasal dari predikat crimenya adalah tindak pidana korupsi," ujarnya.

 

Kasus dugaan korupsi di Jiwasraya ini diduga merugikan negara Rp 13,7 triliun. Kejagung telah menetapkan dan menahan lima tersangka.  Mereka ialah mantan Direktur Utama Jiwasrarya Hendrisman Rahim; mantan Direktur Keuangan Jiwasraya, Hary Prasetyo. Kemudian, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya, Syahmirwan; Komisaris PT Hanson Internasional Tbk, Benny Tjokro; dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (TRAM) Tbk, Heru Hidayat.

 

Kejagung  telah menggeledah rumah Syahmirwan, Hendrisman, dan Hary Prasetyo. Dari rumah Syahmirwan, penyidik Kejagung menyita mobil Innova Reborn dan CRV, sertifikat tanah, perhiasan dan beberapa surat berharga berupa polis asuransi serta deposito. Sementara dari rumah Hendrisman, penyidik menyita mobil Mercedes Benz, mobil Toyota Alphard, dan motor Harley Davidson. Adapun dari kediaman Hary, penyidik menyita mobil Mercedes Benz dan mobil Toyota Alphard. Khusus untuk mobil Mercy, tercatat atas nama istri Hary.

Terbaru, Kejagung menyatakan menyita 1.400 sertifikat tanah dari tangan kelima tersangka tersebut.

 

“Intinya Kejaksaan telah membentuk tim khusus tentang pelacakan dan pemulihan aset terkait dugaan tindak pidana korupsi pada Jiwasraya," kata Hari Setiyono.

 

Tim pelacakan aset ini terdiri dari unsur Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri, pusat pemulihan aset, asisten umum dan asisten khusus Jaksa Agung. "Pokoknya antara lain mengidentifikasi dan menginvetarisasi berbagai aset terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi pada Jiwasraya," tuturnya.

 

Untuk itu, Kejagung bakal menjalin kerja sama dan koordinasi dengan Central Authority, PPATK serta stakeholder dan counterpart di dalam maupun luar negeri. "Tentu terhadap hasil pelacakan aset dimungkinkan nantinya akan berkembang dan tentu penyidik akan mengembangkan penyidikannya. Penyidik tentu akan menyangkakan juga terhadap TPPU diharapkan simultan antara tindak pidana korupsi dan TPPU yang artinya pencucian uang ini berasal dari predikat crimenya adalah tindak pidana korupsi," ungkapnya.

Tim juga akan mengidentifikasi nama-nama yang dicatut para tersangka terkait dalam transaksi saham Jiwasraya. Hari menyebut, tim akan mengecek apakah ada unsur kesengajaan terkait pencatutan nama tersebut atau tidak. "Tentu karena sekarang sementara ini 5 tersangka yang kita lacak adalah aset dari 5 tersangka tersebut. Tidak menutup kemungkinan seperti kemarin yang saya sampaikan, ada yang nama dipakai misalnya nomine namanya dipakai, bisa juga. Nah itulah disamarkan berarti, nah tim akan melacak itu," tegasnya.

"Apakah nanti tindakan selanjutnya terhadap orang-orang yang namanya dipakai apakah ada unsur sengaja, bersama-sama nah itu nanti dalam perkembangan penyidikan selanjutnya," ujarnya.

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH