logo

Pamor Kejaksaan Agung Bakal Naik Jika Berhasil Tuntaskan Jiwasraya

Pamor Kejaksaan Agung Bakal Naik Jika Berhasil Tuntaskan Jiwasraya

Kejaksaan Agung
21 Januari 2020 18:14 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id -  

JAKARTA: Kasus dugaan korupsi  Jiwasraya merupakan pekerjaan berat untuk Kejaksaan Agung. Berbagai pihak, termasuk penegak hukum lainnya menilai pamor Kejaksaan Agung bakal naik jika institusi itu bisa menuntaskan kasus tersebut sebaik-baiknya.

Anggota DPR RI Aboebakar Alhabsy  juga menyatakan kasus Jiwasraya merupakan pekerjaan berat untuk Kejaksaan Agung. Karena dalam penanganan kasusnya  dilakukan dua pola, yaitu "follow the money" dan "tracking the decision maker". "Siapa saja yang menjadi decision maker atau pengambil kebijakan adalah untuk mencari siapa saja yang harus bertanggung jawab.  Ada berapa pihak yang harus bertanggung jawab atas persoalan ini," kata Aboe di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Dia meminta Kejaksaan Agung menelusuri pihak-pihak yang menerima aliran dana korupsi yang disebut merugikan negara hingga Rp13,7 triliun. "Ke kantong-kantong siapa saja dana Jiwasraya ini berlabuh. Apakah hal ini sudah dilakukan, ke mana saja aliran dana Jiwasraya?,” tanyanya.

Dalam kasus Jiwasraya  bukan sekedar mempidanakan orang saja. Terpenting  justru membongkar modus kasus ini sampai ke akarnya agar menjadi pembelajaran untuk bangsa. "Kejaksaan Agung harus mampu menyelamatkan keuangan negara. Karenanya, aset aset para tersangka ini perlu disita", tegasnya.

Kasus Jiwasraya menyangkut nama bangsa dan negara. Sebab, nasabah Jiwasraya tidak hanya WNI. Ada ratusan warga Korea Selatan yang ikut menjadi nasabah dan mengalami kerugian sampai Rp572 miliar. "Nasabah Jiwasraya bukan cuman WNI, namun 437 warga negara Korsel yang diduga mengalami kerugian hingga Rp572 miliar atau lebih dari setengah triliun. Jadi ini menyangkut kepercayaan dunia internasional terhadap iklim investasi dan keuangan di Indonesia," tuturnya berharap penegak hukum berani membekukan dan menyita pihak-pihak yang terkait dalam kasus ini.

"Siapapun yang menerima aliran dana dari Jiwasraya langsung bekukan asetnya, siapa saja para pengambil kebijakan yang terkait kasus ini, juga langsung bekukan asetnya, atau langsung lakukan penyitaan. Dengan demikian kita harapkan uang negara akan segera banyak diselamatkan,"  harapnya.

Kasus Jiwasraya  masuk ke dalam kejahatan luar biasa. "Jangan hanya soal hukum, bagi kami kasus Jiwasraya bukan kejahatan biasa, ini kejahatan luar biasa, halus mainannya. Maksud dan tujuannya tidak begitu jelas, tapi kurang lebih bisa dibaca menjelang pemilihan umum," katanya. Diharapkan Jaksa Agung memanggil Menteri BUMN, Menteri Keuangan dan bos OJK untuk mengungkap kasus ini secara keseluruhan. Diyakini  pihak-pihak tersebut ikut bertanggung jawab.

Kejaksaan Agung sendiri  kembali memeriksa saksi terkait kasus PT Jiwasraya (Persero). Penyidik memanggil lima karyawan PT Hanson Internasional milik tersangka Benny Tjokrosaputro. Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono, kelima saksi diperiksa adalah Erda Dharmawan Santi, Jenifer Handayani, Djulia, Meitawati Edianingsih, dan Leonard Lontoh. "Mereka merupakan karyawan dari tersangka Benny Tjokrosaputro di PT Hanson Internasional," kata Hari di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Menurut Hari, pihak Kejagung juga memanggil lima saksi lainnya. Mereka adalah Dirut PT Dhana Wibawa Artha Sugianto Budiono dan karyawan PT Bumi Nusa Jaya Abadi atas nama Noni Widya, Yudith Deka Arshinta, Ghea Laras Prisma, Lisa Anastasia.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto