logo

Hasil Riset APTI dan IPB: Pola Kemitraan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Hasil Riset APTI dan IPB: Pola Kemitraan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Seminasi hasil kajian APTI dan IPB tentang pola kemitraan di Jakarta, Jumat (17/1/2020).
18 Januari 2020 15:14 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno menilai pola kemitraan yang selama ini dibangun antara petani tembakau dan sektor industri hasil tembakau (IHT), memberi manfaat bagi petani, walaupun belum seluruh petani merasakan manfaatnya.

"Meskipun faktor penentu keberhasilan bentuk kemitraan yang cocok untuk setiap daerah berbeda-beda, namun secara umum melalui penelitian yang dilakukan IPB, kami melihat kemitraan menjadi salah satu bentuk kerja sama yang menguntungkan petani dari segi produktivitas yang berkualitas dan tentunya pendapatan petani," ujarnya pada seminasi hasil penelitian APTI bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) Jumat (27/1/2020), di Jakarta. Hasil kajian ini akan disampaikan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan sektor industri hasil tembakau.

Soeseno menuturkan, selama ini terdapat banyak perbedaan interpretasi tentang kemitraan sektor tembakau antara kementerian dan Lembaga, juga para dinas di pemerintah daerah. 

"Kami berharap hasil penelitian ini dapat mengurai benang kusut tentang perlu atau tidaknya program kemitraan bagi petani tembakau," katanya.

Sebagai petani tembakau, dia telah merasakan manfaat dari mengikuti program kemitraan. "Dengan kehadiran hasil studi ini maka kami berharap ini menjadi bukti bahwa program kemitraan merupakan salah satu kunci peningkatan kesejahteraan petani," tambah Soeseno.

Soeseno menegaskan, salah satu solusi agar petani tembakau bisa meningkatkan kapasitas dan kualitas tembakaunya, adalah melalui kemitraan. Bukan melalui pembatasan impor tembakau karena itu tidak tepat. 

Pada kenyataannya saat ini produksi tembakau nasional hanya mampu memenuhi setengah dari kebutuhan industri setiap tahunnya, untuk itu menjadi PR bersama untuk meningkatkan jumlah kemitraan petani.

Prof Dr Nunung Nuryartono, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, selaku keyua tim peneliti mengatakan, selain melakukan pengukuran faktor peningkatan kesejahteraan petani, tim peneliti IPB juga meneliti bentuk-bentuk kemitraan yang ada untuk menghasilkan rekomendasi kepada Pemerintah. 

"Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam mengenai skema kemitraan serta menuai pelajaran dari keberhasilan tersebut untuk kami rumuskan sebagai rekomendasi skema kemitraan kepada pemerintah,” ujar Nunung.

Mewakili sisi pengusaha, Danang Girindrawardana, Direktur Eksekutif, Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), menyambut baik inisiatif APTI dan IPB untuk melaksanakan studi. Keterlibatan dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan mulai dari hulu ke hilir, termasuk petani, pengusaha dan pemerintah, sangat diperlukan untuk memastikan keberlangsungan suatu industri agro. 

"Sebagai pengusaha, kepastian hukum dan dukungan pemerintah juga masyarakat sangat diperlukan agar industri dapat terus bertumbuh serta mampu terus berkontribusi bagi pembangunan nasional," ungkapnya. 

Soeseno mengatakan hasil kajian mengungkap bahwa petani yang bergabung dalam kemitraan memiliki pendapatan yang lebih tinggi dibanding non-mitra. 

“Kami mengapresiasi perhatian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Pertanian yang selama ini berkenan menerima keluhan kami. Kami berharap hasil studi kami ini dapat menjadi referensi guna perumusan kebijakan terkait tembakau yang lebih berimbang dan tepat sasaran, demi keberlangsungan IHT di Indonesia dan kesejahteraan jutaan petani," tutup Soeseno. ***