logo

DKI Ingin Belanja Alat Disaster Warning System Untuk Peringatan Dini Bencana

DKI Ingin Belanja Alat Disaster Warning System Untuk Peringatan Dini Bencana

BPBD DKI ingin belanja alat peringatan dini bencana banjir dan kebakaran dari Jepang senilai Rp4 miliar lebih.
18 Januari 2020 07:12 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Pemerintah Provinsi (Pemprov)DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menganggarkan alat komunikasi Disaster Warning System (DWS) sebesar 4 miliar rupiah. DWS menerapkan sistem peringatan dini dari Jepang yang bisa menjangkau seluruh warga, bahkan warga yang tidak terpapar teknologi.

Sehingga, memungkinkan warga dapat menyelamatkan diri sebelum bencana terjadi. DWS adalah sistem peringatan dini bencana yang diberikan kepada warga di sejumlah titik.

DWS adalah salah satu cara yang dilakukan BPBD Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan informasi siaga bencana kepada warga, selain penyebaran informasi melalui media sosial maupun SMS broadcast kepada Camat dan Lurah hingga warga.

"DWS ini akan memberikan informasi berupa suara petugas BPBD, yang dapat menjangkau hingga radius 500 meter. DWS ini akan beroperasi jika tinggi muka air telah berada pada Siaga 3,” ujar M. Ridwan, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi DKI di Balai Kota Jakarta, pada Jumat (17/1/2020).

Penganggaran DWS ini merupakan keberlanjutan dari hibah yang diberikan oleh Jepang melalui Japan Radio.Co (JRC) kepada Pemprov DKI pada tahun 2014, meliputi 10 Broadcasting Warning Station untuk teknologi IP Radio dan 5 Broadcasting .

Warning Station untuk teknologi VHF Digital Radio yang diletakkan di sejumlah wilayah, yaitu Jakarta Selatan di Ulujami dan Petogogan; Jakarta Barat di Rawa Buaya; serta Jakarta Timur di Kampung Melayu dan Bidara China.

JRC juga memberikan hibah Master Station yang dipasang di control center Pusdalops BPBD Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya, pada 2019, BPBD Provinsi DKI Jakarta telah menganggarkan 9 alat DWS, yang tersebar di 9 titik, yakni Jakarta Barat di Kapuk dan Kembangan Utara; Jakarta Selatan di Cipulir, Pengadegan, Cilandak Timur, dan Pejaten Timur; serta Jakarta Timur di Cawang, Cipinang Melayu, dan Kebon Pala.

Sehingga, total ada 14 alat DWS yang telah dipasang. Ridwan menambahkan, untuk 2020, BPBD Provinsi DKI Jakarta menganggarkan 6 alat DWS yang rencananya akan diletakkan di 6 titik, meliputi Bukit Duri, Kebon Baru, Kedaung Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate, dan Marunda.

“Lokasi ini sifatnya masih tentatif, akan kami pasang di tahun 2020 ini," tambahnya. DWS merupakan sistem yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu: Horn speaker buatan lokal (TOA, 4 unit speaker dalam 1 set): Rp 1.070.013 / set Stasiun Ekspansi Peringatan Dini Bencana Transmisi Vhf Radio  Rp 473.089.602 / set Pole / tiang buatan lokal: Rp 53.499.474 / set Modifikasi Software untuk Telementary dan Warning Console : Rp 63.063.000 / set Coaxial Arrester buatan lokal: Rp 2.140.026 / set Storager Battery 20 Ah, 24 V : Rp 10.699.836 / set Antenna : Rp 13.695.843 / set Harga tersebut sudah termasuk material instalasi, jasa instalasi, training, site survey dan testing peralatan.

DWS dioperasikan dengan menggunakan teknologi, yang mana saat ini BPBD PDKI  memiliki Remote Station untuk Broadcasting Warning Station (stasiun peringatan dengan pengeras suara / speaker), dibagi menjadi 2 jenis, yaitu untuk teknologi VHF Radio dan teknologi 3G memanfaatkan teknologi GSM. Untuk teknologi VHF Radio, terdapat sejumlah perangkat penting, di antaranya: - Outdoor Broadcasting equipment : perangkat utama, perangkat yang didesain untuk di luar ruangan, sehingga tahan hujan dan panas.

  Step Down Transformer : peralatan untuk supply daya listrik, untuk menurunkan daya listrik PLN dari 220V AC ke 100V AC. - Horn Speaker : pengeras suara untuk menyampaikan suara dari Warning Equipment ke masyarakat sekitar potensi banjir. Berjumlah empat speaker dalam satu set.

Storage Battery : diperlukan untuk menyimpan daya listrik bila peralatan mati karena sumber listrik dari PLN tidak ada. Diperkirakan mampu bertahan sampai 6 jam. -

Antenna : diperlukan untuk mengarahkan komunikasi ke master station (Pusdalops BPBD DKI), komunikasi ini diperlukan supaya Pusdalops bisa mengontrol secara remote ke warning station sewaktu-waktu sesuai kondisi/keadaan. - Coaxial Arrester : dipakai untuk menangkal petir melalui jalur kabel coaxial dari antenna ke warning equipment. - Pole : untuk memasang beberapa perangkat di tiang bila tidak ada tempat untuk memasang di ruangan.

Pole ini sangat diperlukan bila warning station menggunakan teknologi radio VHF karena untuk penempatan antenna dan speaker, makin tinggi posisi antenna akan makin bagus untuk bisa berkomunikasi dengan master station di Pusdalops.

Di samping itu, Remote Station adapula yang menggunakan Radio IP Jaringan GSM, memiliki fungsi sama dengan VHF Radio, yaitu warning equipment sebagai peralatan utama di lokasi yang berpotensi banjir.

Hanya yang membedakan adalah transmisinya, yaitu komunikasi ke Pusdalops menggunakan sinyal GSM. Semua peralatan pelengkap hampir sama, yang membedakan adalah jenis kekuatan speaker dan kapasitas baterai.

Namun, saat ini, yang digunakan adalah teknologi VHF Radio. Diharapkan, dengan adanya alat peringatan dini berupa DWS ini, dapat membuat masyarakat semakin siaga terhadap bencana.

Editor : Markon Piliang