logo

Menjamin Kepercayaan

Menjamin Kepercayaan

17 Januari 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Kasus PT Jiwasraya dan PT Asabri menjadi preseden buruk terhadap kepercayaan, tidak saja di sektor asuransi tapi juga kredibilitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Oleh karena itu, beralasan Presiden Jokowi meminta sinergi dari KPK, BPK dan OJK untuk menuntaskan kasusnya sebagai pembelajaran agar tidak terulang kembali.

Terkait ini, kepercayaan atau trust merupakan salah satu kunci memenangkan persaingan. Perbankan juga tidak bisa menghindar dari urgensi menjaga trust karena jika tidak maka taruhannya yaitu rush atau penarikan uang secara jamak.

Perhimpunan Bank Swasta Nasional atau Perbanas menggelar Indonesia Banking Expo - IBEX 2019 di Fairmont Hotel Jakarta 6 Nopember 2019 lalu bertema ‘Consolidate to Elevate’ yang diharapkan dapat membawa angin segar terhadap industri perbankan khususnya dan geliat perekonomian nasional pada umumnya. Oleh karena itu beralasan jika di forum IBEX 2019 Perbanas melibatkan industri asuransi, multifinance, perusahaan pembayaran dan perusahan fintech. Terkait hal ini tidak bisa dipungkiri era kekinian persaingan industri perbankan bukan hanya dalam product form competition tapi juga generic competition sehingga perbankan dituntut untuk proaktif, bukan justru reaktif melihat perkembangan yang ada karena konsumen-nasabah juga semakin melek terhadap tuntutan pemenuhan kebutuhan pendanaan dan pembiayaan.

Fakta yang ada ternyata tidak hanya terkait tuntutan kompleksitas persaingan tetapi juga eksistensi perbankan. Beberapa waktu lalu ada berita penjaminan 3 bank nasional oleh Menteri BUMN terkait hutang ke Tiongkok yang memicu rumor negatif di masyarakat, terutama nasabah yang memiliki dana di 3 bank nasional. Hal yang mendasari tidak bisa terlepas dari jaminan - kepercayaan. Padahal keduanya merupakan faktor penting dalam perbankan. Oleh karena itu, berita penjaminan ketiga bank nasional beberapa waktu lalu secara tidak langsung memicu kecemasan publik. Begitu juga dari kasus Jiwasraya dan Asabri yang jelas berdampak negatif terhadap industri asuransi dan citra BUMN.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga nasabah khususnya dan masyarakat umumnya bisa mengantisipasi beberapa hal yang dapat terjadi, pertama: menjaminkan ketiga bank ke Tiongkok sebagai agunan hutang tentu melibatkan dana nasabah ketiga bank tersebut. Artinya, dana nasabah tentu masuk jaminan. Hal ini memicu keresahan yang pada dasarnya tidak mengetahui keterlibatan langsung kepentingan penjaminan itu sendiri. Ironisnya, nasabah adalah mereka yang bekerja ditengah himpitan ekonomi saat ini dan berharap mendapat rejeki untuk disisihkan ke rekening tabungan, sementara di sisi lain pemerintah justru menjaminkan ke Tiongkok sebagai agunan hutang. Fakta ini tentu saja sangat meresahkan nasabah. Oleh karena itu, apa yang terjadi dengan kasus di Jiwasraya dan Asabri juga memicu preseden buruk terkait kepercayaan publik.

Kedua: nasabah khususnya dan masyarakat pada umumnya tentunya masih ingat kasus Bank Century yang sampai kini belum tuntas (dan mungkin tidak akan pernah tuntas?). Dana yang ada di Bank Century tidak bisa diambil bahkan sampai kini masih ada protes sejumlah nasabahnya yang sempat juga diliput media. Fakta ini menegaskan persoalan dana nasabah sangat sensitif sehingga ketika mereka menuntut dana tersebut justru sulit mendapatkan. Oleh karena itu, berita dari ketiga bank nasional tentu berdampak negatif terhadap kepercayaan dan bukan tidak mungkin akan memicu rush atau penarikan dana untuk dialihkan ke bank lain yang menurut persepsi nasabah bisa menjamin keamanan dananya dari kemungkinan kasus-kasus perbankan. Begitu juga dengan kasus Jiwasraya dan Asabri yang dimungkinkan akan sulit nasabah mendapatkan dana kembali. Problem First Travel justru dananya disita negara sementara jamaah tidak mendapatkan kembali.

Ketiga: perbankan lekat dengan kepercayaan atau trust, sedangkan antara trust dan rush adalah bagian dari sentimen individu. Oleh karena itu, berita dari ketiga bank itu secara tidak langsung memicu pilihan dilematis trust dan rush. Jika rush terjadi maka identik dengan ketidakpercayaan dan tentu ini bisa berdampak terhadap operasional ketiga bank tersebut. Artinya, publik dan nasabah tentu belajar dari kasus-kasus perbankan nasional, selain kasus Bank Century ada juga kasus BLBI dan berbagai kejahatan perbankan lain, termasuk misal kasus kredit fiktif. Oleh karena itu, pemerintah perlu meyakinkan publik umumnya dan nasabah ketiga bank itu khususnya agar tidak memicu sentimen negatif sehingga berdampak terhadap aksi rush yang akhirnya memicu ketidakpercayaan. Hal ini menjadi penting karena kebutuhan pendanaan dan juga pembiayaan semakin tinggi sementara persaingan di industri pendanaan dan pembiayaan semakin kompetitif yang kemudian menuntut adanya inovasi dalam layanan dan bentuk. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor : Gungde Ariwangsa SH