logo

Sekolah Tinggi Agama Islam Di Gresik Ajari Siswa Mandiri Lewat Sabun Cuci Piring

  Sekolah Tinggi Agama Islam Di Gresik Ajari Siswa Mandiri Lewat Sabun Cuci Piring

Sejumlah peserta pelatihan saat memamerkan sabun cuci piring hasil karyanya.
13 Januari 2020 12:33 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - GRESIK : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Ihyaul Ulum (STAIIU) Gresik mengajak mahasiswa dan para siswa SMA/MA/SMK di wilayah Gresik untuk belajar membuat sabun cuci piring sendiri. Hasil karya yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan sendiri itu, ternyata diminati pasar.

Menurut Humas STAIIU,  Mohammad Fail, kegiatan itu memang tujuan awalnya mengajak mahasiswa dan siswa untuk mandiri dengan cara membuat barang kebutuhan sendiri.  "Kita ingin mengajak mereka untuk mengubah perilaku dari pola pikir konsumen menjadi produsen," ujarnya, Senin (13/1/2020).

Aksi yang melibatkan para siswa SMA/MA/SMK se-kawedanan Dukun, Bungah, Sidayu, Ujung Pangkah, Panceng dan Karang Binangun (Gresik-Lamongan) itu digelar di kampus STAIIU, Gresik. Pihaknya sengaja memilih produk sabun cuci piring karena sudah menjadi kebutuhan harian keluarga.

Dalam pelatihan selama tiga jam yang melibatkan pihak terkait itu, mereka berhasil memproduksi 100 botol. Uniknya, produk sabun cuci piring menarik perhatian warga dan mereka langsung mendapatkan order 50 botol.

Berdasarkan materi pelatihan, produk sabun cuci piring itu dibuat dengan standar kualitas sabun sejenis yang paling dikenal di masyarakat. Para peserta diminta belanja bahan produksi, memproduksi hingga mengemas dalam botol isi 500ml.

Selanjutnya, sabun hasil karya mereka itu ditawarkan dengan harga Rp7.000 perbotol. "Harga yang kami tawarkan ini memang lebih murah Rp2.000 per botol dibanding harga sabun cuci piring karya produsen lain," ujarnya.

Imbasnya, produk yang kualitasnya tak kalah dengan produk lain itupun langsung direspon pasar. Para peserta yang terlibat dalam kegiatan itu banyak yang tergerak untuk menerapkan ilmu dan pengalaman barunya itu di lingkungannya masing-masing.

Pada bagian lain, Ketua LPPM STAIIU, Fahmi menyebut, pelatihan itu merupakan wujud pengabdian STAIIU kepada masyarakat. "Kita pilih dari kalangan siswa, karena kita pingin para siswa itu bisa mandiri untuk mencukupi sebagian kebutuhan keluarganya sendiri," ujarnya.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH