logo

Pembangunan & Industrialisasi

Pembangunan & Industrialisasi

06 Januari 2020 17:55 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Bencana di awal tahun 2020 memberikan gambaran betapa pesatnya industrialisasi telah merubah wajah lingkungan sehingga manajemen lingkungan cenderung terabaikan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika kemudian terjadi serangkaian bencana yang pada dasarnya tidak terlepas dari ketidakseimbangan alam dan lingkungan dibalik industrialisasi. Fakta ini menjadi pembelajaran bahwa mengejar target pertumbuhan ekonomi tidaklah sekedar deretan angka semata tapi juga harus mempertimbangkan faktor eksternal, termasuk dari faktor lingkungan. Argumen yang mendasari karena sejatinya keseimbangan lingkungan adalah penting dan menjadi bagian dari keberhasilan pembangunan itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pesatnya industrialisasi lebih mengacu pertimbangan aspek kuantitas semata sementara pertimbangan kualitas cenderung dinomerduakan kalau tidak mau disebut diabaikan. Betapa tidak keberhasilan dari industrialisasi dimanapun, baik di negara industri maju ataupun di negara miskn berkembang cenderung hanya dikalkulasi dari besaran kuantitatif yang diukur dengan persentase. Padahal sejatinya perlu juga dari kuantitatif keberhasilan itu mempertimbangkan aspek kualitasnya. Artinya buat apa nilai besaran kuantitatif jika ternyata aspek kualitasnya diabaikan. Bisa saja era industrialisasi menyebut keberhasilan dengan indikator kuantitatif namun indikator kualitatif yang lalai pada akhirnya justru membuyarkan keberhasilan yang sifatnya kuantitatif semata. Paling tidak hal ini bisa terlihat dari berbagai bencana yang terjadi di berbagai daerah dan tentu juga di berbagai negara.

Klaim keberhasilan industrialisasi dari aspek kuantitatif pada akhirnya akan bisa lenyap dalam sekejap jika aspek kualitatifnya menguburkan dan mengaburkannya. Paling tidak, hal ini terlihat dapat dari berbagai bencana yang terjadi sehingga besaran kuantitatif dari industrialisasi langsung lenyap ketika diporakporandakan oleh kerusakan yang bisa saja muncul dalam sekejap. Betapa sukses pembangunan infrastruktur yang mendukung bagi percepatan industrialisasi akhirnya hancur dan terberai oleh terjangan banjir. Betapa dari tingginya dan banyak pabrik sebagai motor industrialisasi akhirnya tidak bisa beroperasi dan berhenti dalam hitungan hari, mungkin minggu saat disekitarnya tergenang oleh air dan mungkin terkepung tanah longsor. Betapa jutaan karyawan pada akhirnya tidak bisa minum dengan air tanah ketika pencemaran air sudah sampai ambang batas yang akut.

Belajar bijak dari serangkaian bencana yang terjadi bahwa industrialisasi tidaklah salah di era kekinian tapi industrialisasi yang ramah lingkungan menjadi tuntutan dan tentunya kebutuhan bagi semua. Argumen yang mendasari karena industrialisasi yang bisa ramah lingkungan akan memberikan implikasi dan kontribusi lebih besar dibandingkan dengan hanya sekedar industrialisasi yang memacu kepentingan produktivitas semata sementara abai dengan kepentingan makro yang ada di sekitarnya. Jadi, sebenarnya bukanlah salah dari industrialisasi karena industrialisasi hanyalah obyek dari pemuasan nafsu manusia, tetapi yang salah adalah nafsu manusia yang membelenggu dan menjerat industrialisasi itu sendiri sehingga mengabaikan kepentingan lain yang lebih besar dan lebih penting. Jadi bencana yang menimpa sejatinya adalah hubungan sebab akibat karena obyek justru dieksploitasi oleh subyek dimana obyeknya adalah industrialisasi sementara subyeknya tidak lain adalah kita semua. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo