logo

Pengunjung MSJ Tembus 7.000, Antrean Panjang Di Ruang Diponegoro

Pengunjung MSJ Tembus 7.000, Antrean Panjang Di Ruang Diponegoro

16 Desember 2019 07:44 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Liburan sekolah Desember 2019  ini pengunjung beberapa  museum di Jakarta  sebagai tempat wisata edukasi melonjak. Begitu pula dengan pengunjung Museum Sejarah Jakarta (MSJ) di Kota Tua Jakarta.

 Dalam laporan  Kasubag Tata Usaha H Namin  kepada  Kepala UP Museum Kesejarahan Jakarta Sri Kusumawati, tercatat Jumat (13/12/2019) pengunjung MSJ ada 1.762 orang termasuk 89 wisatawan mancanegara (wisman). Sabtu (14/12) melonjak menjadi 5.304 orang,  termasuk 113 orang wisman. 

"Hari Minggu ini (15/12) mencapai tujuh ribu lebih. Termasuk dua ribu orang pelajar dan mahasiswa," kata H Namin, Minggu (15/12) sore.

Tercatat pengunjung MSJ hari Minggu itu mencapai 7.382 orang, termasuk pelajar dan mahasiswa 2.092 orang serta wisman lebih dari 100 orang. 

"Antrean panjang pengunjung tampak di pintu Utara museum dan di Ruang Diponegoro," kata Haji  Namin. 

Slamet, pemandu wisata MSJ  tampak mengantar  wisatawan di Ruang Diponegoro. Seorang pengunjung dari Kota Batu, Malang, dr Faridar Munaf, Sabtu (14/12) mengaku kakinya  sakit sehingga tak jadi  naik ke ruang Diponegoro. Karena itu dengan ditemani Slamet dan pengunjung lainnya di ruang tunggu, mereka cukup melihat tayangan koleksi dan sejarah Diponegoro  pada  layar informasi  dengan narator Peter Carey sejarawan Inggeris. Dialah inisiator dan kurator Ruang Diponegoro tersebut sejak dibuka Gubernur DKI Jakarta Anies R Baswedan pada 1 April 2019 yang silam.

Sementara para pengunjung yang lain setelah menyimak sejenak pada layar informasi segera beranjak ganti alas kaki naik tangga lengkung ke Ruang Diponegoro. Tampak di dinding lukisan penjebakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya oleh tentara Belanda di Kantor Residen Magelang tahun 1830. Lukisan itu karya Raden Saleh dengan kepala beberapa pejabat Belanda dibuat lebih besar sebagai "pasemon" atau sindiran sifat mereka. 

Pengamat pariwisata dan  budaya Jakarta  H Abu Galih bersama Lia Natalia dari Pulau Lembata, dekat Pulau  Flores sama sama tertarik melihat keluar dari jendela kamar Diponegoro disekap 26 hari dari 8 April sampai 3 Mei 1830. 

Ternyata pemadangannya masih mirip yaitu di kiri gedung yang kini menjadi Museum Wayang, tengah bangunan yang kini menjadi Cafe Batavia dan gedung Jasindo. 

Pemandangan atau view Diponegoro dari jendela kamar tahanannya itu diabadikan dalam sketsa hitam putih oleh Jan Bit hakim Stadhuis yang menjadi  wali Pangeran Diponegoro selama di tahanan. 

Di belakang lukisan penangkapan Diponegoro terdapat koleksi kain batik motif Perang Diponegoro. Di dinding selatan ada peta rute pelayaran kapal Belanda yang membawa Pahlawan Nasional itu dari Batavia sampai pengasingannya terakhir di Makasar. Tercatat 4 - 15 Mei di Laut Jawa 16 Mei di perairan Madura, 26 Mei di Nusa Tenggara Barat, tepat 1 Juni di perairan Flores, 8 Juni sampai Kepulauan Tukang Besi dan 10 Juni di Likupang Sulawesi Utara. Pada tanggal 13 Juni 1830  rombongan Pangeran Diponegoro sampai Menado. 

Di sini bermukim selama 3 tahun lebih akhirnya 20 Juni 1833 diberangkatkan lagi ke Makasar dan tiba di pengasingan ini 11 Juli 1833. Pengobar perang 5 tahun  melawan kolonialisme Belanda ini sempat 21 tahun di pengasingan dalam Benteng Fort Rotterdam, Makasar  hingga wafat 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.

Menurut Sri Kusumawati Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien juga pernah dipenjarakan di Gedung Stadhuis yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta tahun 1902 sebelum diasingkan ke  Sumedang dan wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang.

Menurut para pemandu wisata MSJ, bekas penjara Pahlawan Cut Nyak Dien juga di sayap barat Museum Sejarah Jakarta tersebut. Bahkan di bawahnya lagi ada ruang bawah tanah yang saat ini terisi air.

Menurut catatan gedung ini juga tempat memenjarakan Kyai Mojo penasehat spiritual Pangeran Diponegoro, dan Untung Surapati di penjara bawah tanah. 

Melihat kondisi bekas penjara tersebut Faridar pengunjung dari Malang itu menyatakan rasa terharu. "Betul betul besar pengorbanan para pahlawan nasional kita," ujar nenek dari dua cucu yang masih Balita itu. 

Untuk perbandingan mengenai pengunjung museum , Sumardi S.Sos kepala satuan pelayanan Museum Wayang mengungkapkan pengunjung museumnya Minggu (15/12/2019) mencapai 887 orang. Itu termasuk wisatawan mancanegara 35 orang terbanyak dari Bangladesh, Korea, India dan Jepang. Itu memang di atas rata rata per hari, tetapi termasuk minim dibanding dengan tiap week end biasanya. Abu Galih selaku pengamat pariwisata dan budaya memperkirakan penyebabnya hari Minggu itu sudah tak ada pergelaran wayang lagi di museum itu hingga Januari 2020 mendatang. ***