logo

Kuliah Online, Perlu Peningkatan Delapan Fungsi Keluarga Sasaran SDGs

 Kuliah Online, Perlu Peningkatan Delapan Fungsi Keluarga Sasaran SDGs

Prof Dr Haryono Suyono. (foto, ist)
13 Desember 2019 22:34 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Delapan fungsi keluarga dan 17 sasaran SDGs perlu ditingkatkan. Fungsi itu meliputi fungsi Ketuhanan Yang Maha Esa, fungsi Budaya, fungsi Cinta Kasih, fungsi Perlindungan, fungsi KB dan Kesehatan, fungsi Pendidikan, fungsi wirausaha, serta fungsi lingkungan.

Demikian dikemukakan Advisor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Prof Dr Haryono Suyono, saat memberikan Kuliah Online perdana,  bertajuk Membangun BUMDes sebagai Penggerak Ekonomi Desa, di Kantor Kemendes PDTT di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (13/12/2019).

Sedangkan, 17 sasaran SGDs dipadukan dengan fungsi keluarga, yang meliputi pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, pendidikan, kesehatan anak, kesehatan ibu, penyakit menular, lingkungan dan kekayaaan hayati.

Menurut pakar pemberdayaan keluarga tersrbut, perlu adanya komitmen nasional dalam mengembangkan BUMDes dan upaya pelaksanaannya. Berbagai kegiatan pembangunan Desa diupayakan melalui Prukades, BUMDes, sarana olah raga desa dan pembuatan Embung Desa.

"Agar semuanya berjalan dengan lancar. Sehingga, diharapkan masyarakat desa bisa mampu mandiri dan sejahtera," ujarnya.

Dikemukakan pula, munculnya gagasan mendirikan Akedemi Desa 4.0 oleh Kemendes PDTT. Di antaranya untuk memperkuat penggerak desa, pendamping dan punggawa desa.

Tujuannya, agar bisa membantu warga desa membangun BUMDes, guna memberdayakan keluarga miskin atau keluarga prasejahtera atau mereka para penerima manfaat.Untuk lebih mudah mengangkat dirinya menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Untuk itu, para aparat tingkat pusat dan para pelatih diharapkan bertindak sebagai pendukung utama dari Akedemi Desa 4.0 ini.

Di sisi lain, penggagas Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) itu menekankan, perlunya dibentuk Desa Mandiri sebagai wujud nyata komitmen, mendukung pembangunan desa melalui jaringan kapubaten, kecamatan. Desa yang kuat, ujarnya, mendorong partisipasi semua institusi di desa.

Haryono menyatakan, dalam memperkuat semua fungsi keluarga, diperlukan adanya pertemuan atau rapat secara teratur, dalam membangun komunikasi, informasi dan edukasi. Sehingga, penggunaan dana desa bisa tepat sasaran dan menguntungkan rakyat desa.

Karenanya, semua desa di seluruh Indonesia diharapkan untuk membentuk BUMDes dengan mengikutsertakan kelompok ekonomi desa yang sudah berkembang. Lalu, digabung atau disinkronikasikan dengan BUMDes, yang dijadikan program penggerak ekonomi desa dan dikembangkan secara bersinergi.

"Para pemuda desa terutama dari keluarga miskin harus diikutsertakan, kalau perlu diajak kursus keterampilan. Agar mereka bisa segera bekerja dalam bidang ekonomi di desanya," tutur dia.

Disarankan mantan Kepala BKKBN ini, untuk melihat contoh BUMDes yang berhasil. Yakni BUMDes yang mampu menampung kegiatan ekonomi mikro, yang pernah dikembangkan di desa.

BUMDes yang telah berjalan dengan kegiatannya baik. Sehingga, mudah dicontoh dan dipelajari. Disebutkannya, contoh BUMDes yang berhasil adalah BUMDes Desa Linggarsari, di Banyumas. BUMDes tersebut telah memiliki layanan Rumah Aman Anak, khusus melayani penitipan anak dengan aman.

BUMDes bisa juga membentuk dan mengembangkan Desa Wisata, menjadi daya Tarik yang tinggi untuk turis serta memelihara kelestarian lingkungan dan kekayaan hayati. BUMDes Kesehatan dan Lansia di Bangunharjo ini memadukan usaha kesehatan dan perawatan lansia dan anak balita.

BUMDes Olah Limbah atau sampah di Gisting Tanggamus mampu mengolah limbah minyak atau sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna, laku jual dan menguntungkan rakyat. Sedangkan, jaringan Warung BUMDes di desa akan menjual sembako dan produk lainnya dengan harga relatif murah karena disupply dari BUMDes.

"Akhirnya desa miskin berkembang menjadi desa mandiri dan sejahtera," ujarnya.

Editor : B Sadono Priyo