logo

Indonesia Peringkat ke-61 Kemahiran Berbahasa Inggris Dalam EF EPI 2019

Indonesia Peringkat ke-61 Kemahiran Berbahasa Inggris Dalam EF EPI 2019

12 Desember 2019 23:56 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: EF atau Education First merilis laporan hasil penelitian EF English Proficiency Index (EF EPI) edisi ke-9 Tahun 2019 atau kajian yang mengukur tingkat kemahiran berbahasa Inggris orang dewasa dari 100 negara dan wilayah di dunia.

Dr. Minh Tran selaku selaku Executive Director of Academic Affairs & Partnership EF Education First menyebut laporan disusun berdasarkan analisa data dari hasil tes bahasa Inggris yang dilakukan oleh 2,3 Juta peserta yang berpartisipasi melalui tes online EF Standard English Test (EFSET).

"EF Standard English Test (EF SET) adalah tes bahasa Inggris adaptif yang didesain oleh para ahli untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris sebagaimana tes-tes lainnya seperti TOEIC, TOEFL atau IELTS,"ujar Minh Tran.

Menurutnya, semua konten tes pada EF SET telah diuji sebelumnya pada ratusan ribu pelajar internasional selama bertahun-tahun, di semua tingkat Common European Framework of Reference for Languages (CEFR), panduan yang digunakan untuk menjelaskan pencapaian pelajar bahasa asing yang dikembangkan, disetujui oleh Dewan Eropa dan diakui sebagai standar internasional.

Laporan EF EPI edisi ke-9 Tahun 2019 menunjukkan rata-rata skor kecakapan bahasa Inggris di seluruh dunia tetap stabil.

"Ada empat negara yang mengalami penurunan signifikan. Namun, skor di 11 negara meningkat secara siginifikan atau naik lebih dari dua poin dan ada lebih banyak negara yang kini masuk ke dalam tingkat kecakapan ‘Sangat Tinggi’ dibandingkan tahun sebelumnya," katanya. 

Executive Director of Academic Affairs & Partnership EF Education First itu memaparkan beberapa temuan EF EPI edisi ke-9 diantaranya, secara umum, jumlah peserta yang mengikuti EF Standard English Test (EFSET) tahun ini naik 77% dibandingkan tahun lalu. Ada delapan negara partisipan baru yakni Bahrain, Pantai Gading, Kenya, Kirgizstan, Maladewa, Nepal, Paraguay, dan Sudan, serta hubungan antara kecakapan bahasa Inggris, keterlibatan internasional dan konektivitas global.

Indonesia menduduki peringkat ke-61 dengan penurunan skor dari 51.58 pada tahun 2018 menjadi 50.06 di tahun ini, di bawah nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris kawasan Asia (53.00) atau peringkat ke-5 di bawah negara ASEAN lainnya seperti Singapura dengan skor (66.82), Filipina (60.04), dan Malaysia (58.55) di tingkat kecakapan Sangat Tinggi, serta Vietnam (51.57) di tingkat kecakapan Menengah.

Sementara itu, peningkatan skor kemampuan bahasa Inggris signifikan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Yogyakarta yang menggungguli 23 provinsi lainnya di Indonesia, serta Bandung.

Minh Tran mengungkapkan atas pencapaian ini, EF Education First akan menganugerahi predikat Best Region dan Most Improved Region kepada provinsi Yogyakarta dan Best City kepada kota Bandung melalui penghargaan EF EPI Best Awards 2019.

Sesuai dengan misi EF Education First, yaitu "Membuka Dunia Melalui Pendidikan", EF EPI menjadi salah satu upaya EF untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan kecakapan bahasa Inggris di berbagai negara.

"Saat ini EF EPI telah menjadi instrumen pengukuran terpercaya dengan data dan analisa komprehensif, yang mempublikasikan urutan atau ranking 100 negara di dunia berdasarkan tingkat kemahiran berbahasa Inggris di setiap negara,"ungkapnya.

Upaya EF lainnya, kata dia, adalah melalui program sosialisasi EF SET yang akan diimplementasikan mulai awal tahun 2020 di sekolah-sekolah menengah atas dan kejuruan di Indonesia.

Dengan menyosialisasikan EF SET, EF akan membantu para siswa untuk mengetahui level kemahiran sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mulai dari tingkat pemula hingga tingkat lanjut. Kemahiran berbahasa Inggris memiliki korelasi dengan penghasilan individu yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita negara-negara yang berpartisipasi pada EF EPI.

"Semakin tinggi tingkat kemampuan Bahasa Inggris suatu negara, maka semakin besar pula rata-rata pendapatan penduduk di negara tersebut. Dalam beberapa dekade terakhir, Asia telah menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi global, dipelopori oleh para pemimpin yang membangun hubungan internasional dan mendirikan perusahaan-perusahaan multinasional,"urai Minh

Hal ini juga diiringi dengan adanya transisi dalam industri di era revolusi industri keempat yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mendorong kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas, salah satunya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik.

“Memiliki kemahiran berbahasa Inggris akan memberikan peluang bagi kita untuk mengakses berbagai ide, studi kasus, koneksi atau jaringan yang lebih luas. Selain itu, kemampuan ini juga memungkinkan setiap orang untuk mengejar peluang karir lainnya sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam perekonomian atau kehidupan individu itu sendiri,” tutup Minh***

Editor : Gungde Ariwangsa SH