logo

Onderdil

Onderdil

08 Desember 2019 17:30 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Berita viral sepekan terakhir adalah heboh penyelundupan yang dilakukan oleh seorang Direktur Utama (Dirut) dari sebuah maskapai ternama. Belum lagi berita ini reda, muncul juga berita dari maskapai yang sama dengan mengangkut sebuah mobil mewah. Meski berita terakhir ditepis bahwa pengangkutan itu adalah prosedural legal tetapi berita yang pertama pada akhirnya justru anti klimaks karena Dirut yang bersangkutan akhirnya langsung dicopot oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Bisa jadi, kasus tersebut bukanlah yang pertama dan mungkin kemarin adalah hari sial sehingga terbongkar. Selain itu, muncul dugaan juga dari sejumlah oknum BUMN nakal lainnya kini sedang tiarap sejenak menunggu situasi agak tenang. Oleh karena itu apa yang terjadi dengan kasus kinerja BUMN kini menjadi kajian yang menarik, apalagi dikaitkan realitas meruginya sejumlah BUMN.

Jika dicermati peran strategis dari BUMN tidak hanya sebagai soko guru perekonomian bersama koperasi dan swasta, tapi juga berperan penting dalam menyumbang sumber penerimaan negara. Artinya, peran BUMN diharapkan mampu memberikan sumbangan terbesar bagi penerimaan negara, bukan justru sebaliknya digerogoti dan menjadi ATM atau sapi perah parpol. Stigma negatif BUMN di masa lalu memang harus ditepis yang caranya bisa dilakukan dengan berbagai kebijakan. Ironisnya, kinerja BUMN sepertinya tidak banyak berubah dari kurun waktu yang ada dan penggantian Menteri BUMN juga kurang memberikan dampak signifikan terhadap perubahan kinerja BUMN.

Argumen yang mendukung dibalik komitmen pencapaian kinerja BUMN adalah realitas adanya temuan bahwa sejumlah BUMN memiliki hotel. Padahal, kepemilikan tersebut tidak sesuai dengan core business dari BUMN. Oleh karena itu, beralasan jika Menteri BUMN Erick Thohir akan memperbaiki lini bisnis BUMN, setidaknya bisnis sampingan syang ada harus selaras dan tidak jauh berbeda dengan yang dijalankan. Artinya, temuan kasus sejumlah BUMN memiliki jejaring hotel harus diusut tuntas. Yang justru menjadi pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah tidak ada pengawasan dibalik kasus ini dan mengapa sejumlah pihak sebelumnya termasuk tentu kemudian keberadaan Menteri BUMN tidak mengetahui keberadaan kasus ini?

Bisa jadi Menteri BUMN Erick Thohir menjadi penyelamat terhadap perbaikan kinerja BUMN ke depan. Bahkan, kasus ini kemudian bisa menjadi pembenar ketika akhirnya Ahok dipilih sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Pesero) dengan tugas - harapan bisa memberantas mafia migas. Artinya, pelajaran dari penyelundupan onderil sebuah moge oleh Dirut menjadi tantangan bagi Menteri BUMN, Erick Thohir untuk mampu membereskan, membersihkan dan memacu kinerja BUMN kedepannya. Memang hal ini tidak mudah, setidaknya dari dua kasus yaitu temuan BUMN memiliki sejumlah hotel di luar core business-nya dan juga temuan penyelundupan onderdil moge maka ke depan tidak bisa terlena dengan plat merah-nya tapi harus memacu kinerja karena persaingan jelas semakin berat. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo