logo

Indonesia Harus Progresif Tingkatkan Produktivitas Dan Nilai Ekspor Pertanian Di Pasar Dunia

Indonesia Harus Progresif Tingkatkan Produktivitas Dan Nilai Ekspor Pertanian Di Pasar Dunia

08 Desember 2019 15:21 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Luluk Nur Hamidah,M.Si,MPA

Sebagai negara agraris tropis terbesar kedua di dunia setelah Brazil, Indonesia sudah semestinya menjadi pemain terdepan dalam ekspor produk pertanian dan perkebunan. Terutama produk tanaman tropis yang sangat diminati pasar dunia seperti rempah-rempah, lada hitam, lada putih, kayu manis, vanili dan seterusnya.

Saat perjalanan ke Washington DC, Amerika Serikat dalam rangka memenuhi undangan International Democrat Union (IDU) 3-6 Desember 2019, lalu dan informal meeting dengan KBRI Washington DC bersama Deputi Dubes dan Atase Pertanian.

Pihak kedutaan menginformasikan bahwa Amerika akan menyediakan anggaran sekitar USD 10 Juta sampai USD 12 Juta untuk memberikan dukungan dan fasilitasi bagi peningkatan kualitas, kuantitas, dan keberlanjutan produk unggulan rempah-rempah seperti lada, kayu manis, dan vanili.

Peluang ini seharusnya dapat direspon cepat pemerintah, mengingat Indonesia memiliki sejarah sebagai produsen rempah-rempah dunia.

Selain itu pada tahun 2020, Amerika Serikat akan mengadakan pameran produk pertanian berskala besar yang akan dihadiri oleh seluruh importirnya. Termasuk perusahaan distributor produk pertanian yang memiliki jaringan di seluruh negara bagian Amerika.

Momentum ini pun harus cepat direspon pemerintah untuk mendapatkan manfaat yang besar. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian sudah semestinya lebih progresif dalam mencari pasar baru bagi produk pertanian unggulan Indonesia. Tidak hanya terfokus kepada kelapa sawit yang menghasilkan devisa sangat besar atau karet, kopra dan kakao yang sudah dikenal dunia. Tetapi tentunya juga berusaha untuk mempromosikan produk pertanian lainnya terutama rempah-rempah yang mulai memudar. Penting untuk mengekspor produk pertanian yang beragam.

Ini karena apabila salah satu komoditas harganya jatuh di pasar dunia maka dapat ditutupi oleh komoditas lainnya. Seperti komoditas karet dan kopra yang harganya saat ini sangat jatuh sekali.

Pasar Amerika Serikat sendiri sangat menjanjikan bagi produk pertanian Indonesia. Sayangnya pemerintah belum memaksimalkan pasar yang besar tersebut.

Dari 10 negara eksportir komoditas pertanian ke Amerika Serikat, Indonesia berada pada peringkat ke 8, dibawah Brazil, India dan Italia serta sedikit di atas Vietnam.

Permintaan terhadap komoditas pertanian yang paling besar di Amerika dalam beberapa tahun belakangan ini adalah kakao, vanili, lada hitam, lada putih, dan kayu manis. Tanaman tersebut merupakan tanaman tropis yang di Indonesia telah memiliki sejarah panjang dalam membudidayakannya.

Sehingga sangat aneh jika Indonesia tidak mengambil peluang tersebut. Begitu pun trend pasar di Amerika menunjukkan permintaan yang besar terhadap jenis produk makanan olahan khususnya dari produk pertanian organik.

Kesadaran warga Amerika terhadap makanan yang sehat dan berkualitas mendorong meningkatnya pesanan produk makanan organik dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Produk makanan ringan seperti kacang-kacangan, minuman buah segar, sarang burung wallet dan kopi dibutuhkan dalam jumlah yang besar. Komoditas-komoditas itu pun sangat familiar di berbagai daerah sehingga dapat dipenuhi oleh Indonesia.

Dengan demikian selama ini kesiapan pemerintah dan pelaku usaha dalam menangkap pasar ekspor produk pertanian dan makanan olahan belum maksimal. Salah satu contohnya adalah adanya pesanan terhadap telor asin matang dari Indonesia untuk pasar Amerika sebanyak tiga puluh ribu per hari yang tidak dapat dipenuhi.

Oleh sebab itu yang harus segera dilakukan pemerintah adalah, segera membuat peta dan data produk unggulan pertanian, baik organik maupun nonorganik yang memiliki kualitas ekspor. Kemudian memberikan pelatihan dan pendampingan bagi petani, kelompok usaha tani serta pelaku bisnis komoditas pertanian agar produk pertaniannya dapat bersaing dengan negara-negara lainnya.

Karena petani berhak untuk memiliki pengetahuan bertani yang baik, untuk itu harus diajarkan kepada petani dalam membuat perencanaan usaha pertaniannya secara profesional agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan mereka.

Lalu pemerintah harus aktif membantu petani dan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam mengolah bahan produk pertanian menjadi bahan makanan olahan yang siap jadi sehingga memiliki nilai tambah petani dan pelaku UKM.

Pemerintah pun memberikan akses cepat dan informasi komprehensif terkait pasar internasional yang bisa ditembus untuk memasarkan produk unggulan pertanian dan produk makanan olahan siap saji dari mereka. Selain itu para petani harus bisa memanfaatkan semaksimal mungkin forum-forum pameran internasional yang ada di negara tujuan ekspor dan kerjasama yang bernilai, termasuk mengikutsertakan pemerintah daerah untuk ikut aktif mempromosikan produk unggulannya.

Yang tak kalah penting pemerintah harus meaksimalkan peran Atase Pertanian karena mereka memiliki data “Market Intelijen” yang sangat berharga. Kalau perlu ditambah personilnya karena dengan hanya 4 Atase Pertanian yang dimiliki Indonesia, sehingga terkesan kurang serius dan kurang progresif dalam menigkatkan ekspor pertanian Indonesia.

Pemerintah harus lebih responsif dalam menyikapi semua informasi pasar dunia dan memanfaatkan data serta informasi yang diberikan oleh perwakilan Indonesia di luar negeri untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan secara cepat, akurat, efektif dan bernilai.

Lalu juga mendorong diplomasi Parlemen baik kelembagaan ataupun personal di dunia internasional dalam berbagai bidang, tidak hanya politik tetapi juga ekonomi dan budaya***

Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PKB, Komisi IV dan BKSAP/ Dapil Jateng IV/ Ketua DPP PKB Bidang Hubungan Internasional

Editor : Gungde Ariwangsa SH