logo

Kedaulatan Indonesia Dalam Bahaya

Kedaulatan Indonesia Dalam Bahaya

07 Desember 2019 20:08 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: M.D. La Ode

 

Kedaulatan Indonesia dalam bahaya ditemukan sejak penelitian akhir tahun 2015. Deskripsi terperincinya sudah diterbitkan menjadi buku berjudul Trilogi Pribumisme Juli 2018 bahwa ECI dan China Komunis akan menganeksasi NKRI dari kuasa Pribumi dalam tempo 2 x 5 tahun (2019-2029).

Namun data lengkap deskriptif analitisnya menurut Ketahanan Nasional (Tannas) belum disampaikan kepada publik meskipun dalam bentuk artikel. Nah, untuk itu dapat diikuti sebagai berikut ini. Untuk sampai pada kesimpulan yang ditampilkan pada grafik Kondisi Tannas di atas, diperlihatkan masing masing nilai persentase prima dan persentase terrendah Asta Gatra Gatra Nasional.

Kondisi itu didahului data Asta Gatra Nasional yakni Gatra Geografi 79 persen lahan perkebunan dan pertanian, serta tanah adat dan tanah ulayat dikuasai ECI dan Cina Komunis. Gatra SDA, yakni tambang mineral hampir seluruhnya dikuasai ECI, Cina Komunis, dan asing lainnya.

Gatra Demografi masih bertahan kecuali ECI dan Cina Komunis menjadi faktor dan aktor pelemahnya. Gatra Ideologi memang masih kuat dipertahankan oleh semua Parpol kecuali Perindo dan PSI, karena tersisip misi Politik Etnisitas ECI dan China Komunis, semua Ormas, dan kecuali tekanan Komunisme, radikalisme, intoleran, kapitalisme China, serta kapitalisme global yang bersifat ancaman tradisional.

Gatra Politik, terjadi multidimensional konflik vertikal (separatisme dan makar) dan horizontal, melalui saluran demokrasi PDIP, Golkar, Nasdem, dan Hanura, dapat dipengaruhi hingga tergalang oleh kepentingan Politik Etnisitas ECI dan Cina Komunis.

Data lainnya yakni pemerintah “tampil berperang dengan rakyatnya” demi kepentingan Politik Etnisitas ECI dan Cina Komunis. Kasus Ahok, Enggar, Setya Novanto, Thjai Chui Mie, Benny Laos, Hasan Karman, Christiandi Sanjaya, dan seterusnya adalah musuh Politik Etnisitas Pribumi dianggap nasionalis.

Keputusan itu sangat berbanding terbalik dengan nasionalisme Bung Karno bahwa “kemerdekaan Pribumi dari penjajah Belanda adalah jembatan emas mencapai kemakmuran Pribumi”.

Ditambahkan lagi dengan temuan hasil penelitian Politik Etnisitas terbaru tahun 2015 bahwa Pribumi pendiri negara; Pribumi pemilik negara; Pribumi penguasa negara atau Trilogi Pribumisme.

Ini merupakan bahagian paham Bung Karno yang mustahak ditegakkan bagi keutuhan NKRI tetap berada pada kuasa Pribumi serta menjadikan NKRI tangguh di Asia Pasifik bersama Jepang dan Amerika

Editor : Yon Parjiyono