logo

Pertumbuhan

Pertumbuhan

04 Desember 2019 00:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Sisa waktu sampai 2019 nampaknya sejumlah target makro ekonomi tidak akan dapat tercapai, termasuk misalnya target penerimaan perpajakan. Oleh karena itu, pemetaan dari sejumlah persoalan menjadi penting sehingga akan bisa menjawab tentang kendala pencapaian semua target yang telah ditetapkan di awal tahun 2019 kemarin.

Di satu sisi hal ini adalah sesuatu yang wajar dalam pencapaian semua target, sementara di sisi lain kewajaran ini bukan berarti kemudian mengabaikan pemetaan terhadap berbagai kasus yang muncul. Oleh karena itu seharusnya pihak yang terkait dan juga yang berkompeten perlu melakukan kajian secara sistematis dan berkelanjutan, setidaknya hal ini sebagai upaya mereduksi berbagai kendala yang muncul dan berkembang agar tercapai semua target ekonomi makro, termasuk salah satunya tentang pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satu hal penting dalam perencanaan pembangunan adalah pertumbuhan karena ini akan menjadi modal dalam menggerakan semua sendi perekonomian. Laju pertumbuhan yang tinggi terutama yang ditopang oleh sektor produksi akan berdampak sistemik bagi geliat perekonomian, baik di daerah ataupun di pusat. Oleh karena itu, beralasan jika hal ini berdampak terhadap komitmen pemerintah untuk membuat berbagai program untuk mendukung percepatan pencapaian pertumbuhan ekonomi tersebut. Meski demikian hal ini juga harus didukung oleh pihak terkait, baik antara departemen ataupun secara lintas departemen, baik di pusat ataupun di daerah. Jadi, era otda sejatinya menjadi komponen penting untuk membantu menggerakan perekonomian di daerah karena sejatinya proses pertumbuhan ekonomi di pusat atau secara nasional tidak bisa terlepas dari peran nyata dari keberhasilan perekonomian di daerah.

Logika sinergi antara ekonomi daerah dan di pusat maka semua regulasi dan kebijakan yang di buat oleh pusat harus memperhatikan kepentingan di daerah. Begitu juga fakta regulasi dan kebijakan di daerah seharusnya juga tidak bertentangan dengan yang ada di pusat. Setidaknya kasus perda ganda beberapa waktu lalu menjadi pembelajaran agar pelaku ekonomi-bisnis tidak terbebani oleh regulasi dan kebijakan yang berlaku secara nasional dan juga berlaku di daerah. Terkait hal ini maka beralasan jika Kadin beberapa waktu lalu memprotes adanya sejumlah perda ganda di sejummlah daerah karena semua itu tidak proaktif dan justru menghambat geliat ekonomi bisnis di daerah. Di satu sisi, hal ini akan berpengaruh terhadap beban dunia usaha sementara di sisi lain dunia usaha juga dituntut untuk berdaya saing agar mampu menembus pasar ekspor. Padahal, geliat pasar ekspor akan sangat berpengaruh terhadap neraca perdagangan. Artinya, sinergi antara pertumbuhan dan geliat ekonomi di daerah – pusat akan berpengaruh terhadap laju proses produksi nasional dan juga implikasinya terhadap transaksi ekspor.

Catatan tentang perekonomian selama 2019 menjadi PR dan sekaligus tantangan, tidak saja bagi Jokowi – Ma’ruf Amin pada periode 5 tahun ke depan tetapi juga kementerian yang dibentuk dan juga semua pihak untuk menciptakan pertumbuhan positif di tahun 2020 yang tinggal menghitung hari. Oleh karena itu, review terhadap prestasi ekonomi selama 2019 harus dicermati agar pada tahun 2020 bisa menjadi lebih baik lagi. Selain itu, pemetaan terhadap semua persoalan yang muncul selama 2019 harus dikaji ulang agar pada 2020 bisa diantisipasi secara dini, setidaknya ancaman terhadap resesi harus segera dikalkukasi, termasuk juga dampak nyata dari perang dagang AS-Tiongkok. Hal  lain yang juga perlu diperhatikan adalah ancaman daya beli, terutama dampak dari laju kenaikan upah buruh pada 2020, meski di sisi lain ada ancaman relokasi industri. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo