logo

Adu Kuat Bamsoet dan Airlangga di Munas Golkar

Adu Kuat Bamsoet dan Airlangga di Munas Golkar

Partai Golkar. (Ist).
02 Desember 2019 19:56 WIB
Penulis : Dharma/Aji

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menjelang perhelatan politik melalui Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar, ketegangan di internal partai berlambang pohon beringin ini dirasa kian memanas.

Sejumlah kalangan pun mengkhawatirkan ajang perebutan ketua umum Partai Golkar itu akan berujung konflik. Sejarah telah membuktikan, ketegangan di internal partai yang pernah berjaya di era Orde Baru itu berujung pada beranak pinaknya partai kecil.

Pengamat politik dan kebijakan publik dari Center Public of Policy Studies (CPPS) Dr Bambang Istianto menilai, bahwa arena Munas tersebut sejatinya hanya ada dua kekuatan. Yakni kubu Bambang Soesatyo (Bamsoet) dan kubu Airlangga Hartarto.

Meski berdasarkan informasi yang berkembang bahwa kader Golkar yang dinyatakan telah mendaftar untuk bertarung memperebutkan kursi Golkar I itu ada 8 orang.

“Namun klimaksnya, kami memprediksi hanya ada dua kekuatan, yaitu Airlangga dan Bamsoet. Adapun caketum yang lain hanya sebagai penggembira,” ujar Bambang kepada wartawan, Senin (2/12/2019).

Bambang menilai, bila perseteruan pada dua kubu tersebut tidak terkendali, tidak mustahil akan terjadinya perpecahan Golkar jilid II. Oleh karenanya, Bambang berharap agar kedua pendukung caketum yang memiliki potensi menang itu bisa menahan diri.

“Karena keduanya memiliki basis dan loyalis di tigkat bawah cukup kuat, kalau elit dan senior Partai Golkar tidak ikut turun tangan untuk mengendalikan kadernya, maka dikhawatirkan akan berbuntut panjang,” tandas Bambang.

Kendati demikian, lanjut Bambang, Golkar adalah partai politik besar dan sarat pengalaman dengan tensi tinggi sekalipun. Selain itu, Golkar tetap eksis dan tetap sebagai pengendali perpolitikan Indonesia.

Bambang menambahkan, Munas Golkar 2019 memiliki arti strategis, utamanya menghadapi Pilkada serentak dan Pilpres tahun 2024 nanti. Karena itu masing masing kandidat berjuang keras tampil sebagai Ketua Umum Golkar.

Terkait dengan meruncingnya kubu Bamsoet dan kubu Airlangga, ia optimis Golkar dapat mengatasi konflik di internalnya. Karena, dia beranggapan bahwa Golkar merupakan pelopor partai modern yang tidak mengandalkan ketokohan dan figure seseorang.

“Jadi, meski ada gesekan di internalnya, tetap saja partai ini ujung-ujungnya mengembalikan pada AD/ART partai, bukan bergantung kepada sosok figure tertentu. Kita lihat saja, setelah Munas nanti, mereka kembali akur dan menghormati keputusan Munas,” ucap dosen pascasarjana bidang adminitrasi publik ini.

Perlu diketahui, sampai hari Jumat, 29 November 2019 ada 8 kader yang sudah mengambil formulir pendaftaran Bakal Calon Ketua Umum Partai Golkar Periode 2019-2024, namun belum ada informasi yang jelas bahwa Airlangga telah mengambil formulir.

Berikut 8 Caketum Golkar yang dinyatakan telah mengambil formulir pendaftaran:

1. Ahmad Anama

2. Indra Bambang Utoyo

3. Ridwan Hisjam

4. Agun Gunandjar Sudarsa

5. Bambang Soesatyo

6. M. Aris Mandji

7. Derek Loupatty

8. Mohamad Ali Yahya. ***

Editor : Azhari Nasution