logo

Terpuruk Di SEA Games Filipina

Terpuruk Di SEA Games Filipina

02 Desember 2019 00:49 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

SEA Games kembali hadir di Filipina. Sebelum menjadi tuan rumah SEA Games XXX/2019,  Filipina sempat menggelar pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara itu tahun 1981, 1991 dan 2005. Indonesia mengenyam pengalaman berbeda-beda mulai dari manis, menegangkan dan pahit dalam tiga kali penampilan sebelumnya di Filipina. Lalu bagaimana kali ini?

Ketika pertama kali datang ke Filipinan tahun 1981, Indonesia masih menjadi kekuatan perkasa di kancah olahraga Asia Tenggara. Kontingen Merah Putih masih ditakuti setelah terus menjadi juara umum SEA Games sejak tampil pertama kali tahun 1977 di Kuala Lumpur. Di Filipina 1981, Indonesia meneruskan tradisi veni, vidi, vici – datang, bertanding dan menang.

Indonesia sukses memperpanjang rekor gelar juara umum tanpa ada saingan berarti. Pasukan Garuda menjadi yang terkuat dengan raihan 85 medali emas. Unggul jauh atas Thailand yang berada di posisi kedua dengan 62 emas. Filipina menghibur diri di urutan tiga dengan 55 emas. Pengalaman manis buat Indonesia dalam bertamu untuk pertama kalinya ke Filipina.

Saat datang kembali ke Filipina tahun 1991, Indonesia harus melakoni pengalaman yang menegangkan. Kekuatan Indonesia tidak lagi menakutkan setelah untuk pertama kalinya kehilangan gelar juara umum di SEA Games Bangkok 1985. Tahun itu Thailand mampu memanfaatkan keuntungannya sebagai tuan rumah untuk merebut juara umum.

Memang Indonesia mampu lagi merebut juara umum saat menjadi tuan rumah SEA Games 1987 dan ketika bertandang ke Malaysia tahun 1989. Tetapi ketika berlaga di SEA Games 1991, kekuatan Indonesia mulai mendapat ancaman dari Thailand dan Filipina. Kekuatan Filipina memang menggiriskan kala itu dengan kemampuan menguasai cabang olahraga tambang emas seperti atletik, renang dan menembak.

Dengan memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah, Filipina benar-benar mengancam kekuatan Indonesia. Terjadilah persaingan ketat dalam perburuan emas antara Indonesia dan Filipina. Posisi Indonesia sempat kritis ketika perolehan emas dengan Filipina hanya terpaut satu buah. Indponesia 91, Filipina 90. Lomba tinggal menyisakan lari marathon.

Kalau emas marathon putri jatuh ke tangan Filipina maka  gelar juara umum akan lepas dari Indonesia. Pasalnya Filipina unggul dalam raihan perak. Kehilangan gelar juara umum seperti di Bangkok membayangi kontingen Indonesia. Namun pada detik-detik akhir persaingan, pelari marathon Maria Lawalata menjadi pahlawan Indonesia.

Dia sukses merebut emas ke-92 untuk Indonesia.  Hebatnya lagi dia menggagalkan pelari Filipina merebut emas. Indonesia pun selamat dari kehilangan gelar juara umum. Walaupun demikian ini sudah menjadi tanda bahaya bagi Indonesia.
Sedangkan saat hadir untuk ketiga kalinya di Filipina pada SEA Games 2005, Indonesia harus menderita pukulan pahit. Bahkan memalukan. Bukan saja tidak mampu merebut juara umum yang sudah berkali-kali lepas ke tangan Thailand, Malaysia, dan Vietnam namun juga untuk pertama kalinya Indonesia terlempar dari posisi tiga besar.

Indonesia terpuruk ke urutan empat di Filipina.  Juara umum diraih Filipina. Setelah itu Thailand di urutan dua. Vietnam yang tahun 2003 menjadi juara umum, menempati urutan tiga.

Setelah terpuruk di Filipina, kekuatan Indonesia tidak diperhitungkan lagi. Setelah sempat merebut juara umum lagi saat menjadi tuan rumah 2011, Indonesia terus merosot. Kini Indonesia berada di urutan lima.

Dengan posisi terpuruk itulah kini Indonesia hadir kembali di Filipina. Akankah Filipina memberikan kenangan manis atau justru memperpanjang kepahitan dan keterpurukan Indonesia? Jawaban sudah bisa ditebak karena Indonesia belum menemukan kunci untuk bangkit kembali. Yang dilakukan justru lari dari kenyataan dengan mengabaikan SEA Games sebagai sasaran utama sebelum melangkah ke Asian Games dan juga Olimpiade.

Lihat saja jawaban yang muncul. SEA Games itu semula disebut sebagai sasaran antara. Lalu berubah lagi menjadi batu pijakan. Ternyata olahraga diurus dengan kebingungan sehingga prestasi Indonesia makin membingungkan. ***

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, Ketua Siwo PWI Pusat. WA: 087783358784.