logo

HUT Kombet Ke 21, Mempertahankan Lenong Lewat Kemasan Inovatif

HUT Kombet Ke 21, Mempertahankan Lenong Lewat Kemasan Inovatif

Ketua Yayasan Kombet Syaiful Amri (kanan)
01 Desember 2019 07:06 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Dalam rangka milad ke 21 Kombet (Komedi Betawi) sejumlah rangkain acara digelar di perkampungan Betawi Situbabakan, Jagakarsa Jakarta, Sabtu (30/11/2019). Dari mulai  pameran lukisan, jajanan betawi, bedah buku yang mengupas soal rekacipta lenong di era milenial, hingga pertunjukan lenong yang ditampilkan untuk menghibur masyarakat.

Di hari jadinya yang ke 21, sudah banyak yang dilakukan oleh yayasan Kombet dalam usaha menjaga dan melestarian kesenian Betawi. "Kami sudah melakukan regenerasi agar kesenian lenong terus bertahan. Kombet merupakan rekacipta dari lenong yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hingga saat ini ada beberapa kelompok kombet diantaranya kombet UNJ, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan kombet Parfi," kata Ketua Yayasan Komedi Betawi, Syaiful Amri.

Menurut Syaiful saat ini ia ingin lebih banyak lagi memberi kesempatan pada generasi muda untuk tampil, berkreasi dan berkarya agar Komedi Betawi bisa terus eksis.

Komedi Betawi sendiri merupakan transformasi dari lenong. Komedi Betawi bukan cuma tradisi saja tetapi didalamnya ada unsur edukasi, pustaka dan kemasannya inovatif sehingga memberi wawasan yang lebih luas. 

Beda lenong dengan Komedi Betawi, kalau lenong biasanya mengangkat cerita di masa lalu sementara Komedi Betawi mengangkat kisah di masa lalu, di masa kini dan masa depan. Pakemnya juga tidak sekaku lenong dan musiknya bukan sekadar gambang kromong tetapi musik lebih modern dan inovatif.

Sementara itu menurut Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Pariwisata dan Budaya, Dr H Dadang Solihin SE MA untuk melestarikan lenong di era saat ini pendekatannya harus kolaborasi antar stakeholder yang ada. "Kami menyebutnya pentahelix, yakni ada 5 unsur. Pertama pemerintah, kemudian perguruan tinggi, komunitas, pengusaha dan pers. Kalau kesemuanya bisa kolaborasi dengan baik maka kita bisa membuat ini lestari dan maju," kata Dadang.
 
Lebih jauh Dadang mengatakan dari unsur pemerintah, harus ada kordinasi antar kelengkapan pemerintah daerah. "Misalnya ada pentas seni lenong,  dinas perhubungan membantu dengan transjakarta-nya untuk memberi fasilitas ke lokasi pertunjukkan, memudahkan akses sementara yang lain misalkan memfasilitasi tempat, gedung pertunjukan dan sebagainya," ujar Dadang.

Sementara dari sisi pengusaha, kata Dadang, bisa membantu sponsorship, pemasaran atau bahkan pemodalan. "Untuk Komunitas, merekalah yang menyediakan pemain, seniman dan melakukan regenerasi agar stok pemain ada terus, tidak sampai kekurangan," kata Dadang.

Sementara dari sisi perguruan tinggi, kata Dadang, bisa melakukan riset atau penelitian sehingga bisa memberi masukan bagaimana kesenian ini bisa dipertahankan. Bisa membuat daftar pustaka dan memberi wawasan lebih luas bagi pelaku seni.

"Suksesnya sebuah pertunjukkan adalah kehadiran penonton. Di sinilah peran unsur kelima yakni pers atau media. Pemberitaan yang lengkap dan mendalam sebelum pertunjukan bisa mengundang penonton. Selain itu pers juga bisa menjadi bahan evaluasi setelah pertunjukan lewat kritik dan masukannya. Bisa juga menjadi dokumentasi untuk pelestarian," kata Dadang.

Editor : Gungde Ariwangsa SH